Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 82


__ADS_3

..."Beberapa orang seringkali banyak berfikir dan merasa Ragu, padahal justru keraguan merekalah yang membuat mereka selalu berfikir dan menyakiti diri sendiri. "...


...Fachrul Razi El Kaady. ...


\*\*\*


   Seminggu berlalu, dan orang tua Fakhira benar-benar datang ke Indonesia setelah Zahira menghubungi orang tua Fakhira, bahkan orang tua Fakhira sangat senang mengetahui Fakhira akan menikah, meski alasanFakhira menikah karena sebuah insiden.


Kedua orang tua Zain juga datang jauh-jauh dari kota Palembang ketika Zain menelfon mereka dan memberi tahu orang tuanya bahwa Zain akan menikah.


Meski terkejut, namun orang tua Zain setuju dan tiga hari yang lalu Zain melamar Fakhira di hadapan kedua orang tua Fakhira dan keluarga besarnya.


Sejujurnya pernikahan Fakhira dan Zain cukup mengejutkan orang-orang, apalagi orang tua Zahira, yang memang saat kejadian itu tidak sedang berada di rumah karena orang tua Zahira sedang pergi ke rumah saudara ibunya, dan hanya meninggalkan Ali dan Fatah kepadanZahira.


Zahira bahkan masih tak menyangka bahwa Fakhira akan menikah secepat ini, apalagi Zain dan Fakhira tidak saling mengenal, dan semua itu cukup membuat Fakhira kefikiran, karena bagaimanapun ia sudah menganggap Fakhira seperti adik sendiri, dan Zahira benar-benar cemas.


Zahira takut keputusan Fakhira ini terlalu cepat, sehingga nantinya Fakhira akan menyesal dan malah terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, Zahira tidak ingin jika semua itu sampai terjadi.


  Pernikahan Fakhira dan Zain sudah di depan mata, bahkan semua persiapan pernikahan sudah di lakukan seperti wedding organizer, catering, undangan, gedung, fitting baju, dan lain sebagiannya sudah siap, bahkan keluarga besar orang tua Fakhira mulai berdatangan.


  Zahira semakin cemas saat mengingat Zain baru bekerja pada Razi, Zahira khawatir jika Zain kekurangan biaya untuk pernikahannya, mengingat keluarga  Fakhira adalah keluarga kaya, Zahira tidak tahu persis keluarga Zain, dan Zahira khawatir Zain kesulitan karena gaya hidup keluarganya dan keluarga Fakhira tidak sama.


  Sejak tadi Zahira terus mondar mandir memikirkan banyak hal, bahkan Razi dan Muhammad sampai geleng-geleng kepala melihat Zahira yang terus mondar-mandir di hadapan mereka.


Muhammad berdecak pelan melihat Zahira yang terus mondar-mandir di hadapannya.


"Ra, aku pusing lihat kamu terus mondar-mandir dari tadi!" ucapnya terlihat sebal.


Zahira menatap Muhammad sekilas lalu duduk di dekat Razi.


"Menurut kamu pernikahan ini bener apa nggak sih Mad? " tanya Zahira pada Muhammad yang justru tercengang mendengar pertanyaan Zahira.


"Kamu dari tadi mondar-mandir di hadapan kita hanya mikirin pernikahan Fakhira dan calon suami Fakhira? " Muhammad justru balik bertanya.


Zahira mengangguk kecil dan membenarkan pertanyaan Muhammad.


Muhammad memutar bola matanya dengan malas dan malah meninggalkan Zahira dan Razi di ruang tengah.

__ADS_1


"Kok dia malah pergi sih? Dia kan belum jawab pertanyaan aku? " Zahira terlihat bingung.


  Razi menggeleng pelan melihat tingkah istrinya yang terus memikirkan pernikahan Fakhira.


"Sayang......., "


"Iya, "


"Kenapa kamu terus memikirkan pernikahan Fakhira? Apa ada yang mengganggumu? " tanya Razi menatap Zahira begitu lekat.


Zahira mendesah pelan lalu memeluk Razi.


"Ira khawatir takutnya Zain mengalami kesulitan untuk biaya pernikahannya, kamu tahu kan gaya hidup keluarga tanteku, dan Fakhira, Ira takut klo Zain terbebani dan malah membuat keluarganya nggak nyaman" keluhnya.


"Terus? "


"Ya Ira hanya tak ingin setelah menikah Fakhira nggak bisa beradaptasi dengan Zain, karena yang Ira lihat Zain itu pria sederhana, dan kamu tahu sendirilah bagaimana Fakhira, dia terbiasa hidup nyaman, berkecukupan, dan apa yang dia mau selalu terpenuhi, takutnya setelah menikah Fakhira nggak bisa menyesuaikan diri mas"


  Razi mengangguk mengerti dengan kekhawatiran Zahira, karena bagaimanapun Fakhira adalah sepupunya.


"Sayang, Zain itu pria yang baik, sederhana, mandiri, sopan, dewasa, dan bijak, dia memang selalu sederhana dari dulu, tapi dia adalah pria yang bertanggung jawab, soal biaya pernikahan, kamu jangan khawatir, aku sudah tanya soal itu pada Zain karena aku khawatir dia kesulitan untuk membiayai pernikahan dia, namun dia mengingatkan aku bahwa dia itu anak tunggal, keluarganya cukup terpandang di palembang, namun dia memang sederhana dalam banyak hal" kata Razi menjelaskan.


"Dia temanku Ra, aku kenal keluarganya, keluarganya baik, keluarga Zain itu punya bisnis yang cukup besar, namun Zain memang ingin mandiri, kamu jangan khawatir soal itu, Zain itu orang yang bijak Ra"


Zahira merasa lega mendengar penjelasan Razi.


"Syukurlah, Ira merasa lega klo gitu, Ira berharap mereka jodoh dunia akhirat mas, semoga pernikahan ini memang jalan terbaik dari allah untuk mereka berdua"


"Jangan selalu banyak pikiran Ra, ingat kamu lagi hamil, jangan mikir yang berat-berat," Razi mengingatkan Zahira seraya menatap perut istrinya.


"Nggak lagi kok, sekarang Ira udah lega setelah tahu gimana Zain sama keluarganya"


Razi mengangguk dan mengusap lembut kepala Zahira.


"Mas....., "


"Iya kenapa sayang? "

__ADS_1


"Setelah pernikahan Fakhira, Ira udah minta Nadia untuk membuat konferensi pers, untuk meluruskan hubungan kita kepada media, Ira ingin mas juga dampingin Ira, sekalian menjelaskan bahwa kita nggak akan pisah, dan kita juga bisa hidup tenang, kamu mau kan mas? "


"Jadi kamu mau meluruskan semuanya? "


"Iya mas, dan mungkin ini untuk pertama kalinya aku nunjukin diri ke publik dan media, karena memang Ira belum pernah menunjukkan diri Ira ke media "


"Ya udah klo kamu maunya gitu, mas nanti temenin, kamu bilang aja waktunya kapan, biar nanti mas bisa kosongin waktu luang mas"


Zahira tersenyum manis dan semakin mengeratkan pelukannya pada Razi.


"Ira kangen banget meluk mas kayak gini, rasanya udah lama banget Ira nggak meluk mas"


"Masak sih? "


"Ya iyalah mas, kan mas ninggalin Ira lama banget, nggak ada kabar lagi, Ira kangen banget sama mas" kata Zahira terlihat kesal mengingat saat Razi pergi.


"Maaf ya sayang, mas salah, waktu itu mas nggak bisa berfikir jernih dan malah pergi gitu aja, padahal seharusnya saat itu mas nemenin kamu sama calon anak kita" Razi terlihat merasa sangat bersalah mengingat dirinya yang pergi meninggalkan Zahira yang sedang hamil.


"Iya, tapi mas janji ya jangan pergi ninggalin Ira lagi, Ira nggak bisa klo harus jauh dari mas, rasanya sulit banget!"


Suara Zahira terdengar sedih karena merasa takut Razi kembali pergi meninggalkannya.


"Nggak akan lagi Ra, mas sayang dan Cinta sama kamu, jadi nggak mungkin mas pergi ninggalin kamu, apalagi sekarang kamu lagi hamil anaknya mas, lagian mas waktu itu pergi nggak bermaksud ninggalin kamu, tapi karena memang ada pekerjaan, dan disana susah sinyal" ungkapnya.


"Tetep aja Ira takut mas, klo mas beneran pergi dan nggak balik lagi gimana?  Klo mas malah nikah lagi disana dan nggak inget lagi sama Ira gimana?  Hati Ira pasti hancur banget mas, Ira harus membesarkan anak kita sendirian"


Air mata Zahira menetes mengatakan ketakutannya saat Razi pergi meninggalkan nya.


"Nggak akan Ra, aku pergi bukan untuk ninggalin kamu, lagian waktu itu aku hanya syok dan cukup kecewa, mana bisa aku ninggalin kamu apalagi nikah sama orang lain, waktu aku lihat surat cerai dari kamu aja rasanya aku nggak mau hidup lagi klo ngga sama kamu"


"Beneran? " tanya Zahira lalu menatap Razi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu tahu?,  suamimu ini sudah mencintaimu sebelum suamimu ini menikahimu, saat pertama kali melihatmu mas mu ini sudah mengagumi paham? "


Zahira mengangguk lalu kembali memeluk Razi, dan Razi membalasnya seraya mengusap air mata Zahira.


"Jangan sedih lagi, sekarang kamu hanya boleh bahagia Ra" ujar Razi dengan mengecup lembut kening Zahira.

__ADS_1


..."Terkadang ketakutan terbesar kita adalah saat orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita. "...


...Zahira Al Mahyra. ...


__ADS_2