
Kehidupan ini tidak selalu berjalan dengan mulus. Adakalanya kita berada pada masa-masa yang buruk, berada di titik yang paling rendah, bahkan hingga kita merasa kita sendirian di dunia.
Namun percayalah awan hitam di langit tidak selalu buruk, kadang hujan yang deras mampu mengguyur segala hal yang ada. Walau kadang badai nya juga mampu meluluh lantakkan keadaan kita. Tapi ada pelangi yang siap mewarnai setelahnya, membuat siapapun akan terpesona akan indahnya, begitupun dengan kehidupan kita.
Sama seperti itu juga perjalanan ku menemukan kebahagiaan ku juga tidak mudah. Aku Zahira Al Mahyra sudah pernah merasakan pahitnya kehidupan.
Ketika semua orang terdekat kita terasa pergi dari kita, kita hanya merasa seorang diri dalam dunia ini.
Aku sudah belajar banyak dari pahitnya berharap kepada manusia, dan juga belajar pula ketika hati yang mudah rapuh ini di lukai, hingga hati yang terluka ini berkelana mencari obat untuk menyembuhkannya.
Pada akhirnya lukaku tidak sembuh jika hanya mencari kesibukan dan membuka hati, karena aku sadar aku juga harus memaafkan diriku yang juga membuatku merasakan luka di hatiku.
Ketika aku mulai memiliki pendamping, ketika pada akhirnya hatiku yakin memilih seorang laki-laki untuk menemani perjalanan ku. Justru semuanya bukan berarti baik-baik saja. Ternyata hal yang lebih pahit aku rasakan, bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Fahrul Razi Elkaady pria yang akhirnya menjadi suamiku. namun aku lupa satu hal ketika aku menikah aku tidak mengatakan bahwa aku seorang penulis yang ia kagumi. Dan itu membuatnya sangat kecewa karena baginya aku tidak jujur.
Hatiku terluka, sangat terluka, bahkan aku merasa tak mampu menjawab setiap pertanyaan yang Razi katakan, karena aku sadar aku memang salah. Namun, Razi juga salah karena dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang tengah hamil, terlebih nenekku meninggal saat itu juga.
Hancur, itu yang aku rasakan. Rasanya sangat menyakitkan ketika orang yang kita sayangi pergi, aku merasa tak mampu menjalani keadaan ku.
Tapi aku sadar bahwa apapun yang terjadi aku harus tetap melanjutkan kehidupan ku, aku harus tetap menjalani kehidupan ku walaupun seorang diri, apalagi saat itu aku tengah hamil, di tambah perusahaan ku sedang mengalami kerugian karena insiden proyek yang ambruk.
Waktu memang bisa mengubah segalanya, waktu juga bisa menentukan segalanya, dan dalam waktu lima bulan aku bagaikan istri yang di tinggal pergi suaminya saat tengah hamil. Tidak ada kabar, tidak ada telfon ataupun sesuatu mengenai Razi, hingga akhirnya aku tersadar bahwa pernikahan ku sudah berada di ujung tanduk, dengan pemikiran yang penuh aku putuskan untuk mengajukan gugatan cerai.
Meski mencintai, jika hanya satu orang yang berjuang untuk mempertahankan sebuah hubungan, apalah artinya memperjuangkan? Meski aku salah karena tidak jujur, namun Razi juga salah karena pergi begitu saja.
Pada akhirnya ketika Razi kembali kami memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami walaupun dia sadar bahwa dia salah karena tidak berusaha menghubungi ku dan mengabari ku, karena tempat ia bekerja tidak ada sinyal.
__ADS_1
Kami memang saling mencintai, namun aku merasa sudah cukup terluka, aku tidak ingin selalu terluka terlebih saat pemberitaan di TV mengatakan aku istri yang tidak baik, dan itu membuatku sangat terguncang, dan aku semakin ingin segera berpisah meski harus membesarkan anakku sendirian.
Tapi pada akhirnya aku sadar, disini yang salah bukan hanya Razi seorang, namun aku juga ikut salah. Aku sadar bahwa aku tidak boleh egois dengan hanya memikirkan diriku sendiri, karena dalam hal ini bukan hanya aku yang terluka, tapi Razi juga. Aku juga harus memikirkan nasib bayi yang sedang ku kandung, terlebih pernikahan kami baru seumur jagung.
Pada akhirnya aku memilih untuk tetap menjalani pernikahan ku, dan tetap bersama demi bayi yang sedang aku kandung, dan juga demi apa yang tertanam di hatiku, untuknya.
Kadang kita terlalu egois bila hanya memikirkan keinginan kita saja. Kita bisa saja salah melangkah walau hati kita sudah merasa sangat yakin bahwa keputusan kita, dan keinginan kita sudah benar.
Barang kali hati kita yang terlalu tidak peduli terhadap pendapat orang lain, karena kadang pendapat mereka bagai angin yang lewat.
Dan kali ini aku akan lebih hati-hati lagi untuk kedepannya, agar apapun yang aku lakukan tidak membuat hatiku terluka.
Aku sudah belajar banyak dari setiap hal yang ku lalui, walupun tidak akan selalu bahagia, namun aku senang karena hari ini hidupku terasa lengkap.
Perjalanan ku mungkin tidak akan berhenti sampai disini, karena pastinya akan ada cobaan kembali nantinya. namun aku sudah siap menghadapinya karena hari ini aku tidak sendirian.
Sekarang aku punya suami, dan juga seorang Putri yang cantik.
"Razi, biarkan aku menggendong ponakan ku!" teriak Fakhira pada Razi yang tengah menggendong Nadine.
"Tidak, nanti anakku bisa patah tulang jika kamu yang gendong"
Fakhira tampak cemberut mendengar perkataan Razi.
"Razi, kamu kok tega sih.." kata Fakhira.
Matanya terlihat mulai berkaca-kaca tampak ingin menangis.
__ADS_1
"Mas.... Razi nggak bolehin aku gendong Nadine"
Fakhira menatap Nadine dengan mata yang berkaca-kaca, sedangkan Zain hanya mampu memeluk istrinya itu dengan sayang.
Bulan lalu Fakhira di nyatakan positif hamil, dan semenjak itu Fakhira yang awalnya sangat petakilan sekarang jadi sangat sensitif, bahkan Zain sampai pusing sendiri karena istrinya itu mudah sekali menangis
"Raz..., please biarin istriku gendong anakmu, kamu nggak lihat istriku udah mau nangis" kata Zain memohon pada Razi.
Razi berdecak sebal melihat wajah Fakhira, Entah kenapa sepupu istrinya itu begitu sensitif semenjak hamil, apakah Zahira sewaktu hamil dulu juga begitu Pikirnya.
Dengan wajah setengah terpaksa Razi akhirnya memilih mengalah, dan membiarkan Fakhira menggendong putrinya.
"Hati-hati gendongnya" peringkatnya.
Fakhira langsung tersenyum lebar dan menggendong bayi Zahira begitu hati-hati.
Razi kemudian memilih duduk bersama Zahira.
"Ra... " panggilnya.
"Ya.. " sahut Zahira.
"Apa kamu bahagia? " tanya Razi.
Zahira tersenyum mendengar pertanyaan Razi, lantas menyandarkan kepalanya di bahu Razi.
"Aku bahagia, dan semoga selamanya kita akan bahagia. "
__ADS_1
The end.