
Di kediaman orang tua Anisa, Irwan terlihat marah besar karena mendengar pengaduan dari Mona bahwasannya Anisa mencoba merusak rumah tangga orang lain. Irwan mengetuk pintu kamar Nisa, dia berteriak memanggil nama putrinya itu.
"Nisa! Buka pintunya! Ayah ingin bicara denganmu!" teriak Irwan.
Anisa yang sedang bermain ponsel hanya berdecak kesal, dia yakin jika Ayahnya itu pasti akan bertanya tentang kejadian tadi sore.
"Pasti nenek sihir itu sudah mengadu ke Ayah, dasar mulut ular!" geram Nisa sambil beranjak dari ranjang menuju ke pintu kamar.
Suara ketukan pintu itu semakin kencang hingga membuat Nisa semakin kesal.
"Ada apa sih, Yah? Aku tidak tuli, kenapa harus mengetuk pintu berulang kali?" tanyanya santai.
Irwan menarik tangan Nisa agar keluar dari kamar.
"Kenapa kau melakukan semua itu, hah!" teriak Irwan di depan wajah Nisa.
"Apa yang Ayah tanyakan? Aku tidak paham."
Plak!
Irwan mendaratkan pukulan di pipi Nisa, sementara Nisa hanya diam saja bahkan dia seakan tidak merasakan sakit sedikitpun. Ya, dia tidak boleh terlihat lemah di depak Ibu dan saudari tirinya.
"Jangan pura-pura bo*doh, Anisa! Mamamu sudah mengatakan semuanya pada Ayah, kenapa kau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain? Kau ingin merebut suami dari Nita, iya!" bentak Irwan untuk kesekian kalinya.
Nisa mengepalkan kedua tangan dengan erat, dia melirik Mona dengan tajam.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak terima karena aku mengadukan semuanya pada Ayahmu? Nisa, Ayahmu harus tahu bagaimana sifatmu yang sebenarnya." ucap Mona tanpa merasa bersalah.
Nisa tidak peduli dengan ucapan wanita ular itu, dia hanya diam saja tanpa berniat memperpanjang masalah.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan Ayah!"
"APA YANG HARUS AKU KATAKAN?" teriak Nisa mulai habis kesabaran.
"Beraninya kau membentak orang tuamu!" Irwan ingin kembali memukul Nisa.
"Semenjak menikah dengan dia, Ayah semakin berubah! Ayah tidak seperti dulu lagi, Ayah melupakan aku!''
"Berhenti menyalahkan Ayah, Nisa! Jawab pertanyaan Ayah kenapa kau harus ikut campur dalam urusan rumah tangga Nita dan Riko? Jika kau ingin memiliki seorang lelaki, Ayah bisa mencarikannya untukmu! Kau tidak harus merebut suami orang dengan cara licik seperti itu!" Irwan berkata hingga urat lehernya menegang.
"Aku tidak butuh itu!" ketus Nisa.
"Ayah cukup kecewa dengan perbuatanmu, jika kau tidak bisa mendengarkan Ayah maka sebaiknya kau pergi dari rumah ini!"
Nisa menatap sang Ayah dengan rasa tidak percaya, tega sekali seorang Ayah berbicara seperti itu kepada anak kandungnya sendiri.
"Kenapa Ayah jadi seperti ini? Aku yakin pasti nenek sihir itu yang sudah menghasut Ayah bukan? Dari awal aku tidak setuju dengan pernikahan Ayah dan dia, aku sudah bisa melihat bagaimana sifat wanita itu! Bahkan, saat ini dia hanya menyayangi putri kandungnya saja, dia tidak pernah menganggapku sebagai putrinya! Apa Ayah tau itu?" teriak Nisa hilang kendali.
"Jika kau tidak suka peraturan di rumah ini, maka kau sebaiknya pergi dari sini! Angkat kaki dan aku akan mencoret namamu dari kartu keluarga!" Irwan menunjuk pintu keluar.
Anisa menatap Irwan penuh kepedihan. "Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini!" bantahnya lalu pergi berlalu karena dadanya saat ini terasa sesak.
Anisa memang tidak akan pernah meninggalkan rumah orang tuanya karena dia yakin jika dirinya pergi, pasti Mona dan Mira bahagia sebab keduanya bisa menguasai harta Irwan sang Ayah.
Anisa berjalan tak tentu arah, dia bahkan menendang udara dan terus berdecak kesal. Dirinya melihat bangku yang ada di taman lalu memutuskan untuk duduk disana. Setelah sampai di taman, Nisa termenung sendirian. Dia terus memikirkan ucapan Ayahnya tadi, Nisa benar-benar tidak menyangka jika kedua ular berbisa itu sudah berhasil meracuni otak sang Ayah.
"Mereka benar-benar keterlaluan! Dasar benalu, ular berbisa, nenek sihir, nenek peyot, pelakor kurang ajar!'' Nisa berulang kali mengumpat sifat ibu tirinya.
Tak lama kemudian, terlihat Riko berjalan menghampiri Nisa. Dia yakin jika itu adalah Nisa.
__ADS_1
"Nisa!"
Nisa menoleh, dia memutarkan bola matanya jengah.
"Kenapa pria itu datang kesini?" gumam Nisa pelan.
Riko sampai di dekat Nisa, dia menyapa Nisa sebentar lalu meminta izin duduk di sebelah Nisa.
"Nis, terima kasih karena kau sudah mengungkapkan kebusukan Qanita."
Anisa hanya diam saja, dia enggan menjawab ucapan dari Riko.
"Aku sudah memberikan istriku itu pelajaran dan aku yakin jika dia pasti jera. Nita tidak akan berani melakukan hal seperti itu lagi,''
'Apa yang sudah dia lakukan pada Istrinya? Apa dia membunuh Mbak Nita? Atau menganiaya? Astaga, pria ini benar-benar gila!' batin Anisa dalam hati.
"Nis, kenapa kau hanya diam saja?" tanya Riko keheranan.
"Karena aku tidak berbicara." sahut Nisa malas.
"Iya, maksudku kenapa kau sama sekali tidak menjawab curahan hatiku?"
"Tidak penting bagiku untuk menjawab ucapan konyol Anda itu! Hidupku saja rumit, bagaimana mungkin aku mengurusi hidup Anda lagi?" Nisa beranjak dari bangku itu lalu pergi meninggalkan Riko.
•
•
•
__ADS_1
TBC