
Tian tercengang dengan apa yang Nisa katakan, dia terdiam sampai beberapa detik kemudian pada akhirnya mengeluarkan suara.
"Kau, kau bilang apa, Nisa?" tanya Tian dengan tidak percaya.
Nisa menatap Tian dengan tangan yang saling bertautan. "Aku tidak sanggup lagi hidup bersama mereka, Tian. Mereka, mereka selalu saja mempermainkanku. Dulu orang tuaku, sekarang teman dan bahkan laki-laki yang katanya mencintaiku juga mempermainkanku. Sebenarnya apa salahku pada mereka, Tian? Aku, aku tidak sanggup lagi."
Tian kembali memeluk Nisa dengan erat. Hatinya terasa mendidih melihat setiap tetes air mata yang keluar dari kedua mata wanita itu. Kedua tangannya juga mengepal kuat sampai membuat kuku-kukunya memutih.
"Beraninya kalian melakukan ini pada Nisa. Lihat saja Abian, Nita. Aku tidak akan tinggal diam!" selama ini Tian selalu diam dengan apa yang orang-orang lakukan, dan dia hanya menjadi pendengar serta pendukung Nisa saja saat dia sedang bertengkar dengan orang lain.
Namun, sekarang tidak lagi. Dia tidak bisa lagi membiarkan orang-orang terus saja menyakiti Nisa dan tidak membiarkan wanita itu untuk hidup tenang.
"Nisa, dengarkan aku." Tian melerai pelukannya lalu menatap Nisa dengan hangat. "Aku bersedia ikut pergi bersamamu ke mana pun kau mau, apapun itu aku akan melakukannya. Tapi, dengan pergi tidak akan bisa menyelesaikan masalah, Nisa. Kita harus menunjukkan pada mereka bahwa kita tidak lemah, hingga bisa dipermainkan seperti ini."
Nisa menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus saja keluar. "Tidak, Tian. Aku tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Aku lelah, aku sangat lelah."
"Jangan khawatir. Biar aku yang menyelesaikan semuanya, dan kau hanya diam di sampingku. Bagaimana?" Tian menatap Nisa dengan senyum lebar membuat gadis itu bertanya-tanya. "Ayo, kita balas mereka. Jika mereka berani mempermainkan kita, maka kita juga akan membalasnya. Kita harus memaki mereka dan biarkan mereka hidup dalam penyesalan."
Nisa terdiam sambil memikirkan apa yang Tian ucapkan. "Tapi apa untungnya untuk kita, Tian? Hanya buang waktu dan emosi saja."
"Tentu kita harus buang semua emosi itu, Nisa. Kita lampiaskan semuanya pada mereka, agar hati menjadi lega. Lagi pula, om Abian dan mbak Nita juga saling mencintai, 'kan? Kita akan buat mereka tidak bisa menikah dalam waktu dekat, dan biarkan kita duluan yang menikah baru mereka." Tian terus bicara panjang lebar sampai tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
Nisa terpaku dengan tubuh menegang saat mendengar apa yang Tian ucapkan. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
"Bagaimana, apa kau setuju, hem?" tanya Tian sambil memegang kedua pipi Nisa dengan kedua tangannya.
Nisa melihat Tian dengan tidak berkedip, dan entah kenapa rasa sakit yang ada dihatinya seakan menghilang karena apa yang laki-laki itu ucapkan tadi.
__ADS_1
"Tian, bisakah kau mengatakannya sekali lagi?"
Tian mengeryitkan keningnya. "Haruskah aku mengatakannya dari awal?"
"Tidak. Aku ingin kau mengatakan kalimat terakhir yang baru saja kau ucapkan, aku harus memastikan sesuatu."
Tian berpikir sejenak untuk mengingat apa yang tadi dia ucapkan. "Ooh. Biarkan kita menikah lebih dulu dari pada-" Tian tidak melanjutkan ucapan ya saat baru menyadari apa yang sudah dia ucapkan.
"Si*al. Mulutku ini memang tidak ada remnya." Dia merutuki kebod*ohannya sendiri yanh sudah kelepasan bicara.
Nisa memegangi dadanya yang berdegup kencang. Entah kenapa hatinya yang sesak berubah menjadi berbunga-bunga, seakan-akan ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.
"Tunggu, apa yang terjadi ini? Kenapa, kenapa hatiku seperti ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa senang dengan apa yang Tian ucapkan, dan dadaku terus berdebar kencang." Nisa merasa kebingungan sendiri.
"Ma-maaf, aku, aku tidak bermaksud untuk-"
Cup.
Wajah Nisa memerah bak kepiting rebus saat baru mengecup bibir Tian. Dia ingin memastikan sesuatu yang hingga mencium laki-laki itu, dan akhirnya dia mendapatkan jawabannya.
"Apa, apa selama ini aku mencintai dua laki-laki sekaligus? Apa, apa ku juga mencintai Tian?"
Tian yang baru tersadar langsung mencengkram kedua lengan Nisa membuat gadis itu langsung melihat ke arahnya.
"Kenapa kau menciumku, Nisa? Apa kau ingin melampiaskan rasa sakit hatimu padaku, hah?" tanya Tian dengan tajam.
Nisa terdiam karena tidak tahu harus berkata apa, dia bahkan juga tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.
__ADS_1
"Jawab aku, Nisa!"
"Aku tidak tahu, Tian. Aku tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini, aku tidak tahu kenapa aku merasa senang saat kau berkata akan menikah denganku. Aku juga menciummu untuk membuktikan apa yang sedang aku rasakan, dan ya. Aku merasa bahagia, jantungku berdebar keras. Aku merasa seperti ada ribuan kupu-kupu di dalam perutku, sebenarnya apa yang terjadi? Apa aku sudah gila?"
Tanpa sadar, Tian meneteskan air matanya mendengar semua perasaan yang Nisa ungkapkan. Dia lalu tertawa membuat gadis itu menatap heran.
"Ke-kenapa kau tertawa? Apa aku sudah benar-benar gila?" Nisa menatap Tian dengan sayu.
"Ya, Nisa. Kau benar-benar sudah gila, bagaimana mungkin kau tidak menyadari perasaanmu sendiri, hem?" Tian menggelengkan kepalanya membuat Nisa semakin tidak mengerti.
"Sebenarnya ada apa, Tian? Jangan membuatku bingung!" ucap Nisa dengan penuh penekanan.
"Sebenarnya kau itu mencintaiku, Sayang. Kau tidak mencintai Abian,"
"Apa? Ja-jangan sembarangan, Tian." Nisa terlonjak kaget lalu mengibas-ngibaskan tangannya untuk membantah apa yang Tian ucapkan.
"Dengar, Nisa. Aku tahu kalau kau baru pertama kali jatuh cinta, itu sebabnya kau pasti merasa bingung dengan apa yang kau rasakan. Mungkin dulu kau memang benar-benar jatuh cinta dengan om Abian, dan entah sejak kapan perasaanmu itu terus tertuju padanya." Tian menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Namun seiring berjalannya waktu, rasa cintamu itu berubah dan sekarang kau malah mencintaiku. Tapi kau tidak sadar, dan tetap merasa jika kau mencintainya."
Nisa terdiam dengan apa yang Tian katakan. Otaknya sedang bekerja keras untuk memikirkan penjelasan yang laki-laki itu ucapkan. "Apa yang Tian katakan itu benar? Apa mungkin, sebenarnya aku mencintai dia, dan bukannya tuan Abian?" Dia mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Kalau yang kau katakan itu benar, kenapa aku merasa senang saat dia mengungkapkan perasaannya? Apa lagi saat dia mengajakku menikah," ucap Nisa kemudian.
"Tentu saja kau merasa senang, Nisa. Pikiranmu masih terpaku pada Abian, dan berpikir kalau kau mencintainya. Tanpa sadar kalau kau sudah mencintaiku, dan aku juga sangat mencintaimu."
•
__ADS_1
•
TBC