Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 20 Kekecewaan yang sulit di ungkapkan


__ADS_3

Suasana seakan mencekam saat kedatangan Irwan yang tidak di duga. Terlihat pria tua itu menatap Anisa dengan tajam, bahkan raut wajahnya menunjukkan jika dia marah atas perbuatan yang Anisa lakukan kepada Mira.


Perlahan, langkah Irwan dan Mona mendekat ke Nisa.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa penampilanmu kacau seperti ini?" pertanyaan Mona terdengar sangat khawatir, dia memeriksa keadaan Mira.


Mira memasang wajah melas, dia memegangi wajahnya dan memeluk sang Mama.


"Ma, kak Anisa yang telah melakukan ini padaku." titah Mira.


Irwan mengepalkan tangannya dengan erat, dia hendak menampar Anisa tetapi semua itu dia urungkan karena memikirkan tentang ikatan di antara keduanya yang sudah terlihat renggang.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Irwan dengan nada biasa.


Anisa diam saja, dia enggan untuk menjawab pertanyaan sang Ayah.


"Nisa, kenapa kau hanya diam saja? Apa kau tuli?" Mona akhirnya ikut bicara.


Irwan menahan Mona agar dia tidak ikut campur dan hal itu membuat Mona berdecak kesal. Jika tidak ada Irwan, dia pasti akan memberikan pelajaran kepada Anisa.


"Apa sangat susah menjawab pertanyaan Ayah?"


Nisa lagi-lagi diam tidak peduli.


"Mas, kau dengarkan jika anakmu tadi bicara apa? Dia berkata bahwa aku dan Mira hanyalah benalu yang menumpang di rumah ini. Apa seperti itu perkataan seorang anak kepada orang tuanya? Meskipun aku ini hanya ibu tiri, tetapi setidaknya dia bisa menghargaiku sebagai Ibunya." ucap Mona bersikap sok baik di depan Irwan.


'Cih, dia bilang apa? Menghargai? Bahkan untuk sekedar mendekatimu saja rasanya tidak pantas bagiku, bagaimana mungkin aku menghargai perempuan ular sepertimu?' batin Nisa tertawa mendengar ucapan Mona.


Irwan tidak suka dengan sikap yang Anisa tunjukkan, dia memberikan peringatan agar Anisa bersikap sopan kepada Mona dan berbuat baik dengan Mira.

__ADS_1


"Nisa, apa kau tidak bisa menerima keberadaan Mona dan Mira sedikit saja di rumah ini? Mereka sekarang adalah keluargamu dan kau tidak pantas melakukan ini pada mereka, apalagi sampai berbicara kasar ataupun menghina.''


"Tapi itu semua adalah kenyataan!" sela Nisa dengan cepat membuat Irwan langsung menutup mulutnya.


"Mereka disini memang hanya menumpang bukan? Bagaimana bisa aku menghargai dan bersikap sopan kepada orang yang bahkan sangat membenciku? Yah, mungkin mereka sudah meracuni pikiranmu hingga kau percaya saja dengan perkataan mereka. Ayah tidak bisa melihat mana yang tulus dan mana yang bohong!" tekan Nisa di akhir kalimatnya.


Mona mengelus dada, dia berpura-pura sedih mendengar apa yang di ucapkan oleh Anisa.


"Kenapa kau tega berbicara seperti itu, Nak?" lirih Mona.


"Benar-benar ular bermuka dua." ejek Nisa dengan senyum sinis, suaranya sedikit pelan agar tidak di dengar oleh sang Ayah.


"Nisa, jika Ayah masih melihat sikap kurang ajarnmu ini maka Ayah akan nekad mengirimmu ke luar kota agar kau tinggal bersama dengan paman dan bibimu."


"Ya ya ya, Ayah lebih memilih aku yang pergi dibandingkan mereka! Wah, benar-benar mengesankan." Nisa terkekeh hambar.


"Bukan aku yang membuat masalah tetapi mere—" ucapan Nisa terpotong karena Irwan membentaknya hingga Nisa terlonjak kaget.


"Cukup, Nisa! Apa kau tidak mengerti dengan yang Ayah katakan? Jangan menjelek-jelekkan mereka di depan Ayah! Masuk ke kamar dan jaga sikapmu." bentak Irwan dengan suara teriakan.


Anisa menatap Irwan dengan rasa kecewa, dia mengepalkan tangannya dan matanya beralih menatap kedua wanita bermuka dua itu. Setelah puas menatap dengan isyarat mengibarkan bendera peperangan, Anisa pun segera masuk ke dalam kamarnya. Dia membanting pintu cukup kencang hingga membuat ketiga orang yang ada di luar memegangi dada.


Di dalam kamar.


Nisa menghempaskan bo*ko*ng di tepi ranjang.


"Ayah benar-benar berubah!" tukas Nisa menahan air matanya.


"Kenapa aku tidak memikirkan tentang pernikahan? Ya, aku takut mendapatkan pria yang sifatnya sama seperti Ayah. Aku tidak ingin hidupku hancur berantakan seperti Mama dan Ayah yang sudah bercerai. Aku takut," lirih Nisa, dia adalah seorang wanita, meskipun mencoba tegar tetapi hatinya tetaplah mudah rapuh.

__ADS_1


Nisa merebahkan diri di atas ranjang, dia memejamkan mata sejenak.


****


Malam hari, tepatnya pukul setengah delapan malam.


Qanita sedang menyiapkan makan malam yang cukup banyak, dia sengaja memasak lebih dan akan mengantarkan sebagian makan malam itu ke rumah Abian. Dirinya memberikan itu sebagai tanda ucapan terima kasih karena Abian sudah mau mengantarnya pulang ke rumah. Ya, meskipun mereka tinggal di satu kompleks yang sama.


Selesai menyiapkan makan untuk Abian, Nita segera keluar dari rumah dan berjalan keluar.


Beberapa menit kemudian, dirinya sampai di depan gerbang rumah Abian. Nita melirik tombol yang ada di dekat gerbang dan dia segera menekan tombol itu hingga menimbulkan suara.


Ting tong.


Suara bel membuat satpam membuka gerbang dan dia melirik Nita dari atas hingga ke bawah.


"Cari siapa, Neng?" tanya pria yang usianya sekitar empat puluh lima tahun itu.


"Tuan Abiannya ada?" tanya Nita sopan.


"Tuan? Ada, silahkan masuk!" sang satpam pun mempersilahkan Nita masuk ke dalam.





TBC

__ADS_1


__ADS_2