Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 23 Rencana perjodohan


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian, Nisa dan keluarganya sudah sampai di tempat tujuan. Mereka langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran yang ada di hadapan mereka lalu berjalan menuju ruangan di mana kolega bisnis ayah Irwan sudah menunggu.


"Wah, kalian sudah datang!" seorang lelaki paruh baya menyambut kedatangan mereka semua. Dia tampak akrab dengan ayah Irwan, dan langsung berpelukan sambil tanya-tanya kabar. Begitu juga dengan yang lain yang ikut menyambut dan beramah-tamah.


Nisa hanya tersenyum saja saat disapa oleh mereka, apalagi saat ada seorang lelaki yang mendekatinya.


"Anda Nisa, ya?" tanya lelaki itu.


Nisa menganggukkan kepalanya. "Benar, saya Nisa."


"Kalau gitu salam kenal. Namaku Nolan." Laki-laki itu mengulurkan tangannya ke hadapan Nisa.


Nisa memandang tangan itu sejenak, lalu menjabatnya. "Nisa." dia segera melepaskan jabatan tangan itu dengan senyum tipis.


"Aku udah banyak dengar cerita tentangmu dari ayahku, Nisa."


Nisa langsung mengernyitkan keningnya, lalu melirik ke arah seorang lelaki paruh baya yang saat ini sedang berbicara dengan sang ayah. 'Apa laki-laki itu ayahnya? Tapi, siapa dia? Aku kan tidak kenal, kenapa dia tau siapa aku?"ucapnya dalam hati merasa heran.


Nolan terkekeh pelan saat melihat raut wajah Nisa saat menatap papanya. "Maksudnya, aku mendengar cerita tentangmu dari papaku dan dia dengar dari ayahmu."


Nisa lalu kembali melihat ke arah Nolan. "Tapi kenapa?"


"Hah?" Nolan bingung dengan pertanyaan wanita itu.


"Tapi kenapa ayahku menceritakan tentangku pada ayahmu? Dan kenapa sampai juga ke dirimu? Apa aku ini suatu bisnis yang sedang kalian bicarakan?"


"Hahahaha." sontak Nolan langsung tertawa saat mendengar ocehan Nisa, membuat semua orang yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arah mereka.


"Cih! Kenapa dia harus dijodohkan dengan laki-laki tampan seperti itu sih? Kenapa tidak dengan kakek-kakek bau tanah saja." Mira jadi kesal sendiri dan melihat ke arah Nisa dengan tajam.


"Syukurlah kalau mereka bisa mudah akrab seperti itu, Bram." ucap ayah Irwan pada orang tua Nolan.


"Iya. Aku tidak menyangka kalau mereka sudah berbincang sampai anakku tertawa seperti itu, ternyata Nisa tidak sedingin yang kau ceritakan." Bram sempat takut kalau Nisa tidak akan cocok dengan putranya.


Kemudian mereka semua langsung duduk di tempat masing-masing, dan menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja.


"Bagaimana, Nolan? Kau sudah kenalan dengan anak Om, 'kan?" tanya ayah Irwan di sela-sela makannya.

__ADS_1


Nolan langsung mengangguk. "Sudah, Om. Ternyata putri Om ini seorang pelawak, ya."


"Apa? Uhuk uhuk uhuk." Nisa langsung terbatuk-batuk karena tersedak dengan makanan yang ada di dalam mulutnya.


Nolan dengan cepat memberikan segelas air untuk Nisa, sementara ayah Irwan beranjak bangun untuk memukul-mukul punggung Nisa.


"Makanya, makan itu pelan-pelan dong, Kak," ucap Mira yang merasa senang melihat Nisa tersedak seperti itu, bahkan jika bisa mati saja sekalian.


"Dasar kau, Nolan! Nisa itu tersedak karena ucapanmu." seru Riri, dia adalah ibu Nolan.


"Ya maaf, Ma. Aku kan gak sengaja," balas Nolan sambil memperhatikan Nisa.


Nisa yang sudah merasa tenang langsung permisi ke toilet karena harus membasuh wajahnya yang terasa panas.


"Aku, aku juga permisi ke toliet, dulu," ucap Nolan saat Nisa sudah keluar dari ruangan itu. Tentu saja dia ingin mengejar Nisa.


"Wah, Nolan. Kau tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendekatinya, ya?" goda sang papa membuat Nolan tersenyum.


Kemudian dia segera keluar dari ruangan itu untuk mengejar Nisa yang sudah berjalan ke arah toliet.


Setelah selesai, Nisa segera keluar dan terkejut saat melihat Nolan sudah berdiri di tempat itu sambil menyandarkan tubuh ke dinding.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Nisa dengan tajam.


Nolan tersenyum miring sambil menatap Nisa dengan tajam, dia lalu memperhatikan tubuh wanita itu dari atas sampai bawah. "Menarik! Tubuhnya termasuk kecil, tetapi pantat dan juga dadanya sangat padat dan berisi. Pasti akan sangat nikmat sekali jika bisa memilikinya."


"Jika kau tidak bisa menjaga mata dan juga pikiranmu, maka aku akan meledakkan kepalamu!" ancam Nisa.


Nolan kembeli terkekeh mendengar ucapan Nisa, dia kagum karena wanita itu sepertinya


tau apa yang sedang dia pikirkan.


"Memangnya apa yang aku lakukan, Nisa? Aku kan hanya melihatmu saja, dan mengagumi betapa cantiknya wajahmu."


Nisa memutar bola matanya dengan bosan saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Sekarang katakan padaku, apa yang kau—" dia tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat dua orang lelaki yang sangat dia kenali.


Nolan yang melihat Nisa terdiam langsung merasa bingung, dia lalu mengikuti arah pandang wanita itu.

__ADS_1


"Tunggu, Nisa! Kau mau ke mana?"


"Lepas!" Nisa menghempaskan tangan Nolan yang memegangi tangannya, lalu beranjak mendekati 2 orang lelaki yang sedang mengobrol di sudut ruangan.


"Tuan Abian!"


Abian yang akan menyeruput kopinya langsung mengalihkan pandangan ke arah samping, dia lalu tersenyum lebar saat melihat Nisa. "Nisa, apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku sedang makan malam dengan keluarga. Lalu, Tuan sendiri? Ke-kenapa bisa sama dia?" Nisa menunjuk ke arah seorang lelaki yang duduk tepat di hadapan Abian.


Tian menatap Nisa dan Abian secara bergantian, dia tidak menyangka kalau dua orang itu ternyata saling kenal.


"Dia ini keponakanku, apa kalian sudah saling kenal?"


Nisa dan Tian mengangguk secara bersamaan, lalu Tian melirik ke arah lelaki yang sedang berdiri di samping Nisa.


"Wah, kebetulan sekali. Aku jadi enggak khawatir lagi karna Tian sudah punya teman baik sepertimu,"


"Cih, teman baik apanya?" gerutu Tian yang bisa di dengar oleh Nisa. Tentu saja Nisa langsung menatapnya dengan kesal.


"Tapi, siapa laki-laki yang sedang bersamamu itu, Nisa?"


Nisa langsung melihat ke arah samping di mana Nolan berada. "Kau, kenapa kau mengikutiku?"


Nolan maju selangkah mendekati Abian dan juga Tian tanpa menghiraukan ucapan Nisa. "Perkenalkan, nama saya Nolan. Saya adalah calon suaminya Nisa."


"Apa?"





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2