Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 7 Semakin di luar akal sehat


__ADS_3

Hari-hari terus berjalan seperti mana biasanya, tetapi tidak untuk rumah tangga Nita dan juga Riko.


Setiap hari, hubungan di antara mereka semakin memanas dengan adanya pertengkaran-pertengkaran yang sebenarnya sangat tidak penting sekali. Bagi Nita, kian hari perilaku Riko semakin tidak masuk akal. Bahkan saat ini, dia dilarang keras untuk keluar rumah selain bersama dengan lelaki itu. Sungguh rasanya sangat menguras emosi sekali membuat dia merasa tidak tahan dengan hubungan seperti ini.


"Sungguh, Mas! Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi denganmu," teriak Nita sambil membanting piring yang ada di tangannya, membuat pecahan piring itu berserakan di atas lantai.


Riko yang melihat kemarahan Nita merasa tidak peduli. Dia terus melangkahkan kakinya untuk berangkat kerja, tidak lupa dengan mengunci rumah itu membuat Nita langsung berlari ke arah pintu.


"Buka pintunya, Mas. Buka!" Nita berteriak dengan sangat keras sambil memukul-mukul pintu rumah mereka.


Beberapa tetangga yang mendengar suara keributan langsung memperhatikan mereka, begitu juga dengan Nisa yang saat itu baru pulang joging.


"Diam dan renungkan semua kesalahanmu!" teriak Riko sambil membalikkan tubuhnya dengan kesal. Sudah berulang kali dia menasehati sang istri, tetapi wanita itu tetap saja keras kepala dan membangkang.


Nisa yang merasa penasaran langsung melangkahkan kakinya untuk mendekati Riko, tetapi tiba-tiba tangannya di cekal oleh seorang wanita.


"Kau mau kemana? Jangan ikut campur urusan orang lain." ucap wanita paruh baya bertubuh gemuk penuh lemak.


"Lepaskan tanganmu!" Nisa langsung menghempaskan tangan wanita itu membuat wajah wanita tersebut merah padam. "Sebelum menghentikanku, sebaiknya Anda hentikan dulu napsu makan Anda itu."


"Apa?" Wanita itu menjadi murka. "Beraninya kau mengatakan hal seperti itu padaku!" Dia menatap Nisa dengan sangat geram.

__ADS_1


"Makanya, berhenti ikut campur dengan apa yang aku lakukan. Dan urus saja tubuh Anda yang semakin mengembang itu." Nisa langsung berbalik dan tidak menghiraukan umpatan wanita paruh baya tersebut. Dia kesal sekali dengan wanita-wanita bermuka dua sepertinya.


Di depan si empunya masalah merasa tidak berhak untuk ikut campur, tetapi jika sudah berkumpul dengan para ratu gosip. Sudah pasti wanita itulah yang paling semangat membuka aib orang lain.


"Tuan Riko!"


Riko yang sudah akan masuk ke dalam mobil mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan seseorang. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah samping sambil memasang senyum manis.


"Ada apa, Nisa?" tanyanya dengan ramah.


"Tidak ada, Tuan. Hanya ingin menyapa saja," ucap Nisa sambil melirik ke arah pintu. Dia masih bisa mendengar suara Nita yang ada di balik pintu tersebut.


"Ooh, begitu." Riko mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau gitu, saya pergi dulu ya, Nisa. Saat ini saya sudah sangat terlambat." Riko mencoba untuk menghindar dari wanita itu sebelum muncul berbagai pertanyaan darinya.


Riko mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Nisa. "Maaf, saat ini istri saya tidak bisa ditemui oleh siapa pun." Riko menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan.


"Aduh, sayang sekali ya. Padahal ini sesuatu yang sangat penting, loh." Nisa menggelengkan kepalanya seolah-olah Riko akan menyesal jika tidak menuruti apa yang dia inginkan. "Padahal beberapa hari yang lalu istri Anda sedang meminta bantuan saya untuk menyiapkan kejutan untuk seseorang, dan saya pikit itu untuk Anda."


Riko mulai terpancing saat mendengar ucapan Nisa, terlihat jelas dari raut wajahnya yang sedang berpikir keras saat ini. "Apa dia ingin membuat kejutan untuk ulang tahunku?" Tiba-tiba dia merasa senang karena memang ulang tahunnya hanya tinggal beberapa hari saja.


Nisa yang sadar kalau saat ini Riko mulai terpancing langsung tersenyum miring, tetapi dia bingung kenapa dia sampai melakukan hal seperti ini. "Kenapa aku repot-repot gini sih? Jelas-jelas wanita itu selalu saja menyindir dan mengejekku perawan tua." Dia bingung kenapa peduli pada Nita padahal hubungan mereka tidak baik, dan hubungannya dengan orang-orang yang ada disekitarnya juga tidak ada yang baik sama sekali.

__ADS_1


"Tapi, saat ini istri saya sedang dihukum dan tidak bisa keluar rumah ataupun bertemu dengan orang lain. Mungkin kau bisa menelponnya saja," ucap Riko, dia masih teguh pendirian untuk tidak membiarkan istrinya bersama dengan orang lain. Walau dengan wanita sekali pun.


"Dasar gila! Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu. Sebenarnya salah apa sih, Mbak Nita sampai dihukum kayak gitu?" Nisa benar-benar tidak habis pikir. Memangnya ini jaman purba, yang dihukum dengan dikurung di rumah?


"Maaf, Nisa. Saya harus segera pergi,"


"Ah, ya. Baiklah, silahkan." Nisa memasang wajah full senyuman lalu beranjak menjauh dari tempat itu, matanya masih melirik ke arah rumah Nita dengan helaan napas kasar.


"Aku sudah berusaha untuk menolongmu ya, Mbak. Tapi suamimu saja yang kepala batu." Nisa lalu mengendikkan bahunya dan berlalu pulang ke rumahnya. Dia sudah berusaha untuk membantu Nita, tetapi tidak berhasil dan sekarang dia tidak memperdulikannya lagi.


Sementara itu, Nita yang masih berada di balik pintu terlihat duduk di atas lantai. Dia memandang ke arah lantai dengan sayu, sungguh hatinya sangat terluka sekali dengan apa yang suaminya lakukan.


"Aku bukan binatang yang bisa kau kurung seperti ini, Mas. Aku ini manusia yang punya perasaan, aku ini istrimu!"





Tbc.

__ADS_1



VISUAL QANITA


__ADS_2