
Sepasang kaki jenjang berjalan menuruni anak tangga, dengan sejuta pesona, wanita yang sudah berumur namun masih terlihat cantik itu menatap para suruhannya dengan tajam. Dia melipat kedua tangan setelah berada di hadapan para suruhannya, dirinya berjalan kesana-kemari seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat.
"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan informasi tentang kehidupan Abian?" tanya wanita itu santai.
"Sudah, Nyonya. Tuan Abian saat ini menjadi pengusaha nomor satu di kotanya, bahkan saham di perusahaan Tuan Abian terbilang naik dengan pesat."
"Berarti dia telah menjadi pengusaha sukses? Wah, aku tidak menyangka jika pria itu bisa bangkit dari keterpurukannya." wanita cantik tersebut tersenyum sinis.
"Lalu, apa lagi langkah selanjutnya, Nyonya?" tanya sang pesuruh.
"Kalian cukup memata-matai Abian dari kejauhan, jangan sampai ada yang tahu jika kalian adalah orang suruhanku. Apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti, Nyonya." jawab empat orang pria itu.
Setelah itu, mereka berempat pergi dari rumah wanita cantik tersebut.
"Pada akhirnya aku akan memutuskan langkah selanjutnya," wanita tersebut mendudukkan diri di sofa dengan menumpukan sebelah kakinya di atas paha.
Eveline Pranata, dia adalah mantan istri dari Abian Argantara. Selama dua tahun ini, dirinya selalu mencari informasi tentang Abian sang mantan suami. Entah apa yang ingin Eve rencanakan tetapi intinya dia ingin mengetahui kehidupan pria itu setelah berpisah darinya.
Sifat keras kepala, egois dan tidak mau kalah itulah yang membuat Abian tidak nyaman dengan Eveline. Perceraian mereka bahkan terjadi akibat perusahaan Abian yang terancam bangkrut. Pekerjaan Eve sebagai seorang model, membuat dia pergi jauh dari kehidupan Abian yang kala itu tengah terpuruk.
****
Di sudut lain, Abian telah bersiap untuk meninjau lokasi pembangunan villa yang akan dia dan perusahaan Selaras Land kerjakan. Dirinya pergi bersama dengan Nita juga Nisa, kedua wanita itu ikut bersama dengan Abian karena memang keduanya adalah orang kepercayaan di perusahaan.
Padahal Nita baru saja bekerja di perusahaan Abian tetapi dia bisa dengan cepat menguasai semuanya hingga mempermudah pekerjaan.
Sesampainya di lokasi, Nisa kaget karena disana ternyata ada Sebastian. Dia melirik ke arah Abian yang terlihat mengembangkan senyum ketika bertemu dengan keponakannya itu.
"Tian, ternyata kau sudah sampai duluan?"
__ADS_1
Tian tersenyum, dia menghampiri Abian.
"Ya, aku sengaja datang lebih dulu agar kalian tidak susah payah menungguku disini. Kalian tahu 'kan, jika menunggu seseorang itu pasti sangat membosankan." ujar Tian asal diselingi kekehan kecil.
Nisa hanya diam saja berbeda dengan Nita dan Abian yang ikut tertawa kecil.
"Nisa, apa kabarmu?" tanya Tian menatap Anisa.
"Hah, kenapa? Maksudku, kenapa kau bertanya seperti itu, Tuan Sebastian?" ujar Nisa menggunakan nada formal.
Abian hanya tersenyum sembunyi melihat wajah Nisa yang terlihat lucu. Begitu pula dengan Tian, dia mengerutkan dahi ketika mendengar ucapan dari Nisa.
"Anisa, apa kau—" ucapan Tian terputus karena Nisa dengan cepat menyelanya.
"Sudah-sudah, apa kita datang ke tempat ini hanya untuk mengobrol?" tanya Nisa menyudahi pembicaraan basa-basi itu.
Tian hanya mengedikkan bahu menyetujui keinginan Nisa.
Saat hendak kembali ke mobil, tak sengaja Nisa memijak sesuatu hingga dia jatuh tersungkur di tanah.
"Aw!" pekiknya kaget sambil memegang pergelangan kaki.
Tumit heels yang dia pakai putus, entah betapa kuatnya dia memijak sesuatu itu yang ternyata benda tersebut adalah batu besar tertancap di tanah. Tentu saja tidak terlihat karena di tutupi oleh rerumputan.
"Argh, sakit sekali." ringis Nisa memegangi pergelangan kakinya.
Abian, Tian dan Nita menghentikan langkah mereka.
"Anisa," seru Tian khawatir sambil berjongkok di sebelah Anisa.
"Nisa, kau ini kenapa? Usahakan melihat jalan jika kau sedang melangkah. Lihat, kau jatuh dan terluka." ucap Nita yang melihat pergelangan kaki Anisa memerah.
__ADS_1
Nisa ingin sekali membalas ucapan Nita tetapi dia ingat dan sadar jika di tempat itu masih ada Abian juga Tian. Dirinya lebih memilih diam daripada meladeni ucapan Nita.
"Nisa, kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" tanya Tian melihat keadaan Nisa.
"Kakiku, kakiku sakit." Nisa mengadu.
Tian dapat melihat jika pergelangan kaki Nisa merah dan ada sedikit benjolan disana.
"Mungkin dia terkilir, coba bawa ke tukang urut atau tidak ke rumah sakit." saran Abian.
"Aku, aku ingin pulang saja. Aku akan menghubungi kantor jika diriku sedang mengalami musibah dan tidak bisa kembali ke kantor." pinta Nisa karena dia sedikit takut dengan tukang urut.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." tawar Tian.
"Tidak-tidak, jika kau yang mengantarkan aku pulang, bisa-bisa Mira akan—"
"Nisa, kalau kau tidak pulang bersama dengan Tuan Sebastian, lalu dirimu ingin pulang dengan siapa? Aku dan Tuan Abian akan kembali ke kantor karena masih banyak tugas yang menunggu disana."
Nisa mendegus kesal mendengar ucapan dari Nita, dia tidak ingin di antar pulang oleh Tian karena pasti akan menimbulkan masalah nantinya. Ya, tentu saja Mira pasti menjadi salah paham.
"Tapi—" lagi-lagi penolakan dari Nisa terputus karena Tian menyelanya dengan cepat.
"Sudahlah, Nisa. Jika kau tidak segera dapat penanganan, maka kakimu pasti akan semakin parah."
Nisa mau tidak mau mengikuti perkataan Tian, dia pulang bersama dengan pria itu dan dirinya mencoba untuk tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Tian membantu Nisa jalan karena wanita itu tidak bisa berjalan dengan sendirinya. Sementara Nita, dia tersenyum ke arah Nisa sambil melambaikan tangannya. Hal itu membuat Nisa berdecak kesal.
•
•
__ADS_1
Tbc