Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 42 Kemarahan Ibu


__ADS_3

"Me-menderita?" tanya Aini dengan menatap Nita penuh tanda tanya.


Nita menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Aku tidak tau pasti apa yang sudah terjadi pada Nisa, tapi aku bisa melihat penderitaan yang sangat besar melalui tatapan matanya. Aku bahkan pernah melihatnya menangis di taman seorang diri, dia melampiaskan semua penderitaannya karna tinggal bersama dengan mereka."


Aini terdiam mendengar apa yang putri sambungnya itu katakan, lalu beberapa saat kemudian dia bertanya kenapa saat ini Nisa berada di rumah Nita.


"Mereka mengusir Nisa, Ma. Mereka mengusirnya."


"A-apa? Irwan, Irwan mengusirnya?" Aini langsung berdiri saat mendengar ucapan Nita.


"Ya, tuan Irwan dan semua orang yang ada di rumah itu mengusir Nisa. Mereka bahkan tidak pernah memperlakukan Nisa dengan baik, dan Nisa menjadi keras kepala dan keras hati seperti sekarang ini karena perbuatan mereka." ucap Nita dengan lirih membuat Aini kembali terisak.


"Bagaimana, bagaimana mungkin Irwan melakukan semua itu pada Nisa? Dia, dia sangat menyayangi anaknya. Bahkan dulu dia selalu memanjakan dan menuruti semua yang Nisa inginkan walaupun hubungan kami tidak baik."


"Itu karna Mona, Ma. Pasti wanita itu yang sudah memasukkan racun dalam hubungan Nisa dan ayahnya."


Aini mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Wajahnya semakin memerah dengan urat-urat menonjol disekitar leher karena menahan emosi yang sudah membara dihatinya. "Beraninya, beraninya mereka melakukan itu pada putriku?" dia benar-benar merasa sangat emosi.


Dulu, Aini berusaha mati-matian untuk mendapatkan hak asuh Nisa pada saat bercerai dengan Irwan. Namun, dia dikalahkan bahkan tidak bisa berbuat apa-apa karena kekuasaan yang Irwan miliki.


Aini terpaksa pergi meninggalkan Nisa walaupun hatinya sangat tersiksa, dia harus rela berpisah dengan putri semata wayangnya itu. Namun, disisi lain Aini tidak khawatir karena Nisa bersama dengan ayahnya.


Laki-laki itu pasti akan sangat menyayangi Nisa dan memberikan semua yang anaknya itu inginkan, Nisa akan hidup dengan berkecukupan dan tidak bersusah payah sepertinya. Setidaknya itulah yang dia pikirkan saat pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Namun, apa yang sedang dia ketahui ini? Bukannya hidup bahagia, tapi Nisa malah menderita dan tersiksa? Bahkan sampai diusir dari rumahnya sendiri?


"Ma!" Nita ikut berdiri sambil menggenggam tangan sang mama. Dia cukup kaget saat melihat kemarah diwajah mama sambungnya itu, yang selama ini tidak pernah dia lihat sebelumnya.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi."

__ADS_1


"Mama mau ke mana?" Nita menahan tangan Aini yang sudah berbalik dan hendak keluar dari rumah.


"Mama harus menemui mereka, Nita. Mama tidak bisa diam saja dengan apa yang sudah mereka lakukan pada Nisa,"


"Apa? Tidak, Ma. Jangan lakukan itu!" Nita menggelengkan kepalanya.


"Lepaskan tangan mama, Nita. Mama harus memberi mereka pelajaran, terutama pada Irwan,"


"Tidak, Ma. Nisa pasti tidak akan suka dengan apa yang Mama lakukan ini," ucap Nita.


"Nak, mama tau kalau Nisa pasti tidak akan suka. Tapi mama juga tidak bisa diam saja dengan ketidak adilan yang telah Irwan lakukan, walaupun setelah ini Nisa akan semakin membenci mama. Mama harus tetap memberi mereka pelajaran."


Nita tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang, sepertinya keputusan mamanya sudah bulat untuk menemui Irwan.


"Baiklah. Kalau gitu aku akan menemani mama,"


Namun, Nita tetap ingin bersama dengan Aini. Dia tidak bisa membiarkan wanita paruh baya itu sendirian, dan dia juga takut terjadi apa-apa dengan sang mama.


Akhirnya Nita dan juga Aini pergi ke rumah Irwan dengan menaiki mobil Nita, walaupun jarak rumah mereka terbilang cukup dekat.


Sementara itu, Tian yang mendapat kabar dari Nita tengah sibuk mencari di mana keberadaan Nisa. Dia merasa kesal karena gadis itu selalu saja pergi entah ke mana membuatnya merasa sangat khawatir.


"Aargg!" Tian memukul setir mobilnya sendiri karena belum bisa menemukan keberadaan Nisa. "Sebenarnya ada di mana dia?"


Sudah berulang kali dia menghubungi Nisa, tetapi tidak ada satu panggilan pun yang dijawab membuat perasaan Tian semakin kacau. "Aku harus mencarinya ke mana?" dia merasa pusing sendiri.


Tian melajukan mobilnya dengan pelan untuk menyusuri jalanan, sambil melihat ke sana kemari mencari keberadaan Nisa. Lalu, tiba-tiba mata Tian tertuju pada seseorang yang sedang duduk dipinggir jembatan.


Dengan cepat dia menepikan mobilnya untuk melihat supaya lebih jelas. "Itu, itu bukannya Nisa? Apa, apa yang dia lakukan di sana?" dia segera keluar dari mobil dan berlari untuk mendekati gadis itu.

__ADS_1


"Nisa!"


Nisa yang berdiri menghadap ke arah sungai beralih melihat ke belakang saat mendengar panggilan seseorang. "Tian?"


"Apa, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tian dengan napas tersengal-sengal, jantungnga berdebar keras karena berlari dan juga khawatir melihat Nisa berdiri di pinggir jembatan seperti ini.


Nisa hanya bisa diam sambil menatap Tian, mulutnya seakan terkunci dan tidak bisa mengeluarkan suara membuat Tian menatap heran.


"Nisa, kau, kau baik-baik saja?" tanya Tian dengan lembut, dia memang tidak tau alasan Nisa pergi karena Nita tadi tidak sempat untuk mengatakannya.


Nisa terdiam dengan kepala tertunduk. Sungguh dia tida sanggup untuk menjawab pertanyaan Tian, dan hanya air mata saja yang kembali menetes diwajahnya.


Tian sangat terkejut saat melihat Nisa menangis. "Ada apa, Nisa? Kenapa kau menangis?" dia memegang kedua bahu Nisa membuat gadis itu mendongak untuk menatapnya.


"Katakan padaku, apa yang sedang terjadi?" tanya Tian kembali sambil menatap wajah Nisa.


Nisa memandang Tian dengan sendu, lalu tiba-tiba dia memeluk tubuh laki-laki itu membuat Tian tersentak kaget.


"Aku, aku tidak baik-baik saja, Tian. Aku, aku tidak baik."





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2