
Mona merasa tidak terima, dia seperti terhina atas perkataan yang Irwan lontarkan. Dirinya mengepalkan kedua tangan dan mengeraskan rahangnya. Matanya melotot seakan ingin keluar dari tempatnya, giginya bergemerutuk karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Kau keterlaluan, Irwan!" teriak Mona kesal.
"Jaga sikapmu, Mona! Jangan sampai aku melakukan hal di luar kendali." tutur Irwan tajam.
"Jadi, kau lebih mementingkan mantanmu itu dibandingkan aku, hah?"
"Sudah aku katakan jika kau salah paham, Mona. Aku hanya ingin mencari Nisa, apa kau tidak mengerti apa yang ku ucapkan?"
Irwan tidak punya banyak waktu untuk meladeni Mona, dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Nita dan akan menemui Aini.
Beberapa menit kemudian, pintu rumah Nita pun di ketuk. Sementara di dalam, kedua wanita beda usia yang kala itu sedang duduk di rumah tamu hanya mengerutkan dahi heran.
"Nita, siapa itu? Jangan-jangan itu, Nisa. Mama akan membuka pintunya." Aini ingin beranjak dari tempat duduk tetapi di larang oleh Nita.
"Tidak, Ma! Mama disini saja, biar aku yang membuka pintunya." putus Nita sambil berjalan ke arah pintu.
Saat pintu tersebut sudah terbuka, dirinya mematung di tempat dan melongo melihat siapa yang datang ke rumahnya.
"Nita! Siapa, Nak?'' teriak Aini dari dalam.
Nita pun tidak menjawab pertanyaan dari Aini. Tetapi, sejenak kemudian dia tersadar karena suara seseorang itu.
"Tuan, silakan masuk.''
Abian berjalan masuk ke dalam dan dia tersenyum ramah ke arah Aini.
"Selamat malam, tante. Maaf jika saya menganggu kalian berdua," ucap Abian tidak enak hati karena dia datang malam-malam seperti ini.
Aini tersenyum tipis, dia mempersilakan Abian duduk. Meski suasana hatinya sedang tidak baik, dia tetap memutuskan untuk bersikap tenang dan biasa di depan tamunya itu.
__ADS_1
"Nita, dia siapa?"
Nita duduk di sebelah sang Mama. "Dia, dia bosku di kantor, Ma. Namanya Tuan Abian, dia juga tinggal di kompleks ini."
Aini mengangguk paham dan dia melirik Abian sejenak yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu pada Nita. Sebagai seorang Ibu dan tentu saja pernah muda, Aini pun peka. Dia berpamitan ingin pergi ke kamar dan jelas itu hanyalah alasannya, agar kedua anak muda itu bisa saling berbicara tanpa rasa canggung.
Saat Aini sudah pergi, tinggallah Abian juga Nita disana. Mereka masih terdiam seakan kecanggungan menyelimuti suasana rumah itu. Hingga beberapa detik kemudian, Abian membuka mulutnya untuk memulai topik pembicaraan.
"Nita, bagaimana keadaan Nisa?" tanyanya berbasa-basi terlebih dahulu. "Ya, aku dengar semuanya dari Tian. Dia menceritakan padaku tentang apa yang terjadi pada Nisa hingga dia bisa pergi seperti itu."
Nita menghela napas. "Bagaimana aku harus menjelaskannya, Tuan? Kau tentu tahu bagaimana keadaan Nisa, bukankah Tian sudah menghubungimu? Apa dia tidak mengatakan tentang keadaan Nisa saat ini? Atau kenapa kau tidak bertanya sendiri soal kondisinya?" sambungnya memberikan Abian banyak tanda tanya.
Abian merasa pertanyaan memanglah salah, entah kenapa dia sangat gugup dan bingung akan berbicara apa.
"Nita, aku ingin mengatakan hal serius padamu.'' Abian menatap kedua mata Nita dengan lekat.
"Ada apa, Tuan? Tadi And bertanya masalah Nisa, dan sekarang apalagi yang ingin Anda—"
"Tentang perasaan."
"Nita, kenapa kau hanya diam saja? Aku ingin mengatakan jika aku, mencintaimu."
Deg!
Waktu seakan berhenti, dada Nita pun seperti enggan untuk berdetak. Dia sangat kaget atas apa yang Abian katakan, sungguh di luar dugaan. Dia menatap Abian dengan dalam begitu sebaliknya. Mereka terdiam untuk sejenak, hingga pada akhirnya Nita berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah pintu rumah dan tentu saja diikuti oleh Abian.
"Maafkan saya, Tuan." Nita terpaksa mengatakan hal ini. "Saya, saya tidak bisa menerima cinta Anda." ucapnya sambil memejamkan mata karena rasa sesak di dada saat mengucapkan hal ini.
Abian kaget, dia pikir Nita juga memiliki perasaan yang sama untuknya. Dia mensejajarkan tubuh dengan wanita itu dan memegang pundaknya.
"Nita, apa yang kau katakan? Bukankah kau juga tertarik padaku? Aku pikir, selama ini perhatian dan sikap baikmu adalah ungkapan cinta untukku. Tetapi, sepertinya aku salah sangka." Abian menggeleng kecewa.
__ADS_1
Nita dengan cepat melepaskan tangan Abian yang ada di pundaknya, dia menatap pria itu dengan rasa bersalah.
****
Di tempat lain, Nisa hari ini akan bersiap untuk pergi mengambil barang-barangnya. Dia tidak jadi meminta tolong seseorang dah dirinya memutuskan untuk pergi ke rumah Nita sendirian. Ya, meski nantinya dia akan bertemu dengan sang Mama yang sangat dia benci. Namun, Nisa tetap berusaha tegar dan dia harus menunjukkan siapa Mamanya itu.
Ponselnya berdering, dia pun menjawab panggilan masuk itu dan ternyata Tian—lah yang menghubunginya.
"Halo, ada apa, Tian?''
📱"Nisa, apa kau jadi pergi ke rumah mbak Nita?"
"Ya, tentu! Aku bahkan sudah bersiap dan akan segera pergi kesana. Memangnya ada apa?"
📱"Aku hanya khawatir denganmu, ini sudah malam. Sebaiknya besok saja, aku akan menemanimu."
Terdengar tawa kecil dari seberang telepon.
"Tian, kau pikir aku ini ingin berperang? Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Kau tau 'kan jika aku ini adalah wanita yang tangguh dan kuat. Aku tidak selemah itu, Tian. Kau tenang saja." jawab Nisa sambil tertawa.
Tian pun ikut tersenyum mendengar tawa kecil itu, dia bersyukur karena Nisa terlihat bahagia tetapi entah dengan hatinya.
'Nisa, aku tau jika kau adalah wanita tangguh. Maka dari itu, kau sangat pintar menyembunyikan suasana hatimu. Sangat sulit menebaknya, hatimu sedih tetapi wajahmu berseri seperti kau tidak punya masalah apa pun.' batin Tian terdiam hingga dia tidak menghiraukan panggilan dari Nisa
"Tian! Halo, Tian!" teriak Nisa membuat telinga Tian berdengung.
Di seberang sana, Tian mengusap telinganya karena suara Nisa. Dia pun mengatakan hati-hati dan sambungan langsung terputus. Jujur dia ingin menemani Nisa tetapi keluarganya ada pertemuan dengan sahabat lama sang Ayah, Tian pun di haruskan untuk ikut.
•
•
__ADS_1
TBC