Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab 19. Berawal dari kesalahpahaman


__ADS_3

Mereka bertiga memutuskan untuk berkumpul di satu meja, Nita mengembangkan senyum ketika menatap Nisa sementara yang di tatap hanya diam saja tidak menghiraukan.


"Nisa, kau ada disini?" tanya Abian heran.


"Ya, kebetulan saya tadi baru saja selesai meeting dengan klien. Biasalah, melakukan kesepakatan kerjasama." jawab Anisa menjelaskan.


Abian mengangguk.


"Kau sendirian?" Nita gantian bertanya dan hanya di jawab anggukkan oleh Anisa.


Abian pun berinisiatif memesan makanan karena jam sudah lewat dari pukul dua belas siang. Setelah makanan datang, Abian dan kedua wanita di depannya itu langsung menyantap makanan tersebut.


Sesekali Anisa mencuri pandang ke arah Nita, dia heran kenapa perempuan itu bisa ada bersama Abian. Namun, Nisa mengurungkan niatnya untuk bertanya, dia cukup memasang sikap tidak peduli karena itu juga tidak terlalu penting untuknya. Sesaat kemudian, Anisa menatap Abian. Dia tersenyum tipis dan tentu saja tidak di ketahui oleh siapapun.


'Apa-apaan ini?' batin Nisa dalam hati setelah dia merasakan getaran aneh saat memandang wajah Bian.


"Uhuk, uhuk." Abian terbatuk karena ada sisa makanan yang menyangkut di tenggorokannya.


Kedua wanita itu dengan sigap menyodorkan satu gelas air putih secara bersamaan. Sontak hal tersebut membuat Abian terdiam sambil menatap kedua wanita tersebut secara bergantian.


Nita mengalah, dia menurunkan tangannya dan kembali meletakkan gelas di atas meja. Sementara Abian, dia menerima gelas dari Nisa.


"Terima kasih," ujarnya tulus.


Anisa hanya mengangguk dan tersenyum simpul, dia melirik Nita sejenak yang menunduk sambil menyantap makanannya.


Selesai makan siang, mereka bertiga kembali mengobrol.


"Setelah ini, kau mau kemana?" tanya Bian memecahkan keheningan.


"Tentu saja kembali ke kantor, bosku pasti sudah menunggu," Nisa tersenyum tipis sambil mengangkat ponselnya.


"Kami juga akan bertemu dengan klien disini."


'Kami? Berarti, Mbak Nita bekerja di perusahaan Abian?' Nisa baru paham mengapa Nita datang bersama dengan Bian.


Waktu dengan cepat berjalan, Anisa pamit untuk kembali ke kantor. Dia bergegas menuju motornya dan tanpa sengaja, Anisa menubruk seseorang.


"Aw!" adunya seraya berdecak kesal.

__ADS_1


Anisa dengan cepat berdiri, dia menatap pria yang saat ini diam mematung di depannya.


"Kau lagi, kau lagi! Kenapa setiap bertemu denganmu harus bertabrakan seperti ini?" kesal Nisa dengan wajah menahan amarah.


Bagaimana tidak, dirinya sedang terburu-buru dan saat ini pria di depannya itu malah mengulur waktunya.


"Maafkan, aku. Aku tidakโ€”" ucapan Tian terhenti karena Anisa mengangkat sebelah tangannya.


"Tidak sengaja? Selalu itu yang kau katakan jika sudah menabrakku! Sudah, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang sepertimu!" Nisa segera pergi meninggalkan Tian yang diam mematung.


Setelah Anisa menjauh, Tian menggelengkan kepala.


"Wanita yang unik, cuek, jutek, dan tidak merasa bersalah. Padahal dia yang menabrakku tetapi dia menyalahkan aku. Pria memang selalu salah." Tian menggeleng lalu pergi masuk ke dalam restauran.


Dia sudah biasa makan siang di restoran itu karena masakan disana sangat cocok dengan lidahnya.


****


Sore hari.


Anisa sudah sampai di rumah, hari ini lebih melelahkan daripada sebelumnya. Ya, dia harus meninjau lokasi, melakukan kesepakatan dengan klien, dan tugas-tugas lainnya. Sialnya, kebetulan mobil perusahaan sedang dipakai dan membuat Nisa mau tidak mau harus memakai motornya kesana-kemari.


Nisa bergegas masuk ke dalam rumah, dia melihat rumah itu terlihat sepi. Dirinya mengedikkan bahu karena tidak peduli dengan keadaan rumah tersebut. Lalu, Nisa pun menuju kamarnya karena dia ingin segera mandi dan merebahkan diri di ranjang king size miliknya.


Tubuhnya lelah, wajahnya terasa kusam karena debu, dan rambutnya terasa lepek. Namun, baru saja hendak menutup pintu kamar, Anisa di kagetkan dengan kedatangan Mira yang secara tiba-tiba menahan pintu kamarnya.


BRAK!


Bantingan pintu terdengar cukup keras, Mira berdiri di hadapan Nisa yang terlihat mengerutkan dahinya.


"Keluar dari kamarku sekarang!" teriak Nisa seraya menunjuk pintu kamarnya.


Mira tersenyum miring, dia mengeluarkan amplop berwarna cokelat dan melemparkannya tepat di wajah Nisa.


"Hei, berani sekali kau!" Nisa mengeram sambil mengepalkan tangan.


"Apa!" tantang Mira dengan mata mendelik. "Buka! Coba kau buka amplop itu dan lihat isinya! Setelah ingin mencoba menghancurkan rumah tangga Nita ternyata kau juga berniat untuk menghancurkan hubunganku dengan Tian! Dasar perempuan murahan!" maki Mira.


Anisa penasaran sekaligus bingung, dia mengambil amplop yang ada di bawah kakinya dan segera membuka amplop itu. Dirinya tercengang ketika melihat isi dari amplop tersebut, dia meremas foto yang ada di dalam amplop tersebut. Ya, fotonya bersama dengan Tian sewaktu di restoran tadi siang.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Nisa menurunkan nada bicaranya.


"Kau bertanya padaku? Seharusnya pertanyaan itu untuk dirimu sendiri, Anisa! Apa yang sudah kau lakukan bersama dengan Tian, hah!" bentak Mira seakan ingin mencabik-cabik wajah Anisa.


"Kau sudah gila ya, hah!" Nisa tidak terima dengan semua ini.


"Kenapa kau bisa bersama dengan Tian, apa yang telah kau sembunyikan dariku? jawab!" Mira menarik rambut Anisa.


Anisa meringis karena rambutnya sangat sakit, dia lelah karena baru pulang kerja dan sekarang di tambah harus bertengkar dengan saudari tirinya.


Anisa melepaskan tangan Mira dengan kasar, dia melotot dan bergantian menarik rambut Mira. Berhubung Mona tidak ada.


"Ya, aku memang bersama dengan Tian di restoran tadi siang. Kenapa? Kau ingin marah, kau ingin memberikan aku pelajaran karena sudah berani dekat-dekat dengan priamu itu? Iya! Aku tidak takut. Kau harus mendengarkan aku Mira, selagi janur kuning belum melengkung, bebas bagiku untuk mendekatinya ataupun tidak! Kau tahu!" tekan Nisa menahan emosi.


Dia sengaja mengatakan itu untuk membuat Mira ketakutan dan bingung. Anisa melepaskan tangannya yang ada di rambut Mira, dia mendorong Mira hingga terjatuh ke lantai.


"Kau, dasar pelakor! Pantas saja kau tidak menikah, ternyata hobimu merebut milik orang lain. Memalukan!" cibir Mira tidak kapok.


Anisa mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan rahangnya mengeras dan dia ingin sekali memukul mulut Mira yang seenak jidatnya bicara asal seperti itu.


"Keluar dari kamarku sebelum kesabaranku habis!" perintah Nisa seraya menunjuk pintu.


Mira hanya diam saja, hal itu membuat Anisa geram. Dia segera menghampiri Mira lalu menarik tangan Mira agar berdiri. Anisa memaksa Mira keluar dari kamarnya dengan cara mendorong ke pintu.


"Jangan macam-macam denganku, kau dan Mamamu hanyalah benalu yang menumpang hidup dirumah ini. Kauโ€”"


"ANISA!" teriak Irwan menatap sang putri dengan tajam dari kejauhan.


Suara Anisa cukup kencang mengatakan hal itu hingga bisa di jamin jika Irwan mendengar apa yang Nisa katakan pada Mira barusan.


โ€ข


โ€ข


TBC


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


MAMPIR KE NOVEL KARYA DARI TEMAN OTHOR YUK ๐Ÿฅฐ

__ADS_1



__ADS_2