Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 21 Melupakan hari special


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Hari bahkan sangat cepat berlalu menjadi bulan. Terlihat Nisa baru saja keluar dari toko pakaian, dirinya baru saja mencari beberapa pakaian untuk bekerja. Ya, dia hidup mandiri dan belanja menggunakan uangnya sendiri maka dari itu, dia puas dan tidak perlu memikirkan apa pun.


Saat dirinya hendak ke parkiran motor, seseorang memanggilnya dan berlari kecil ke arahnya. Hal itu membuat Anisa mengerutkan dahi.


"Hai." sapa Tian dengan senyum merekah.


Entah sejak kapan Sebastian berada di tempat itu, dia berulang kali mengecek motor milik Nisa karena dirinya takut jika Nisa sudah pergi dari toko itu. Untung saja Sebastian tidak pergi, dia akhirnya bisa bertemu dengan Nisa.


"Mau apa kau di tempat ini? Oh, jangan-jangan kau sengaja mengikutiku ya, iya!" tanya Nisa dengan sedikit bentakan.


Tian sudah terbiasa dengan kejutekan Anisa, dia bahkan tidak terlalu mengambil hati tentang cibiran yang selalu Anisa lontarkan padanya.


"Maaf, aku hanya ingin memberikan ini," Tian menyodorkan sebuah kado kepada Nisa.


Kado itu sangat kecil dan Nisa yakin jika itu adalah kotak.


"Untuk apa?"


"Kau ingat saja ini hari apa," ujar Tian seraya meletakkan kado itu di telapak tangan Nisa, dia pun pergi tanpa mengatakan sepatah kata lagi.


"Eh—" Nisa hanya bisa mendengus kesal karena sikap tidak sopan dari Tian.


Anisa heran, dia berjalan mendekat ke motornya dan mulai membuka kado itu. Matanya membulat ketika dia tahu jika itu ternyata adalah sebuah kotak jam rolex yang mana harganya pasti sangat fantastis. Anisa terus memastikan apakah itu rolex kw atau ori.


"Ternyata ori!" pekiknya kaget. "Apa maksud Sebastian memberikan ini padaku?" dia mengingat ucapan Tian barusan, dirinya harus tau ini hari apa.


Seketika, Anisa langsung menepuk dahi dengan kasar.


"Ini 'kan hari ulang tahunku, dasar bodoh! Kenapa aku bisa melupakan hari ulang tahunku sendiri?" gerutu Nisa pada dirinya sendiri.


Dia sangat menghargai pemberian dari siapapun, hubungan Nisa dan Sebastian cukup akrab beberapa bulan terakhir ini hingga mereka telah menjadi seorang teman. Tetapi, tak hanya sekali Nisa membuat Sebastian tersinggung dengan ucapannya. Untung saja Sebastian adalah tipe pria penyabar yang hanya bisa mengelus dada.


Berulangkali pula Namira menegur Anisa agar tidak dekat-dekat dengan Tian, tetapi Nisa tidak peduli karena dirinya dan Tian hanyalah berteman.

__ADS_1


Anisa pun dengan segera mencoba jam tangan pemberian dari Tian.


"Lumayan," gumamnya seraya mengedikkan bahu.


Tin!


Suara klakson mengagetkan Anisa, dia segera menoleh dan menatap sang pengendara mobil dengan tajam.


"Hei, apa kau ingin membuatku jantungan?" teriak Nisa kesal.


Pengendara mobil itu menyembulkan kepalanya lewat jendela.


"Cepat minggir, kenapa kau berdiri disitu? Menghalangi jalan saja!" tukasnya ikut kesal karena Anisa memang berdiri di pinggir jalan keluar.


Anisa berdecak, dia segera menaiki motornya dan sang pengendara mobil pun melajukan kendaraannya pergi. Anisa memakai helm, lalu dia mulai menancap gas dan pergi dari area pusat perbelanjaan tersebut.


****


Empat puluh menit kemudian, sampailah dia di halaman rumah. Dirinya segera masuk dan bersenandung ria. Tidak biasanya Anisa seperti ini, baginya hari ini cukup menyenangkan karena dia bisa puas berbelanja.


Sesampainya di dekat tangga, Anisa kaget dengan kedatangan Namira.


Anisa memutarkan bola matanya jengah, dia sangat malas dan bosan berdebat dengan saudari tirinya itu.


"Minggir! Aku mau ke kamar," ucap Nisa sambil mendorong tubuh Mira.


Mira kesal, dia tidak terima.


"Tunggu!" teriak Mira menghentikan langkah Anisa.


Nisa berhenti, dia menoleh kebelakang dan menaikkan sebelah alisnya.


"Ada apa? Kau iri denganku yang bisa berbelanja puas seperti ini? Kau ingin mengikuti diriku? Kerja! Supaya kau mendapatkan uang dan tidak menyusahkan orang lain!" pungkas Nisa menyindir.


Mira tidak peduli dengan ocehan Anisa, dia menarik tangan Anisa dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Anisa.

__ADS_1


"Dimana kau membelinya?" tanya Mira seperti mengenal model jam itu.


Nisa menatap jam tangannya dengan kerutan dahi, dia heran dengan pertanyaan Mira barusan.


"Kenapa? Kau menginginkan ini? Kau tidak akan mampu membelinya karena ini sangat mahal. Eh, tapi tentu saja kau bisa membelinya dari uang Ayahku." ejek Nisa membuat Mira mengeraskan rahang.


"Kau tidak perlu mengejekku, katakan saja kau membelinya dimana?"


'Aku seperti kenal dengan jam tangan ini, sama persis dengan yang Tian beli waktu di Mall tempo lalu.' batin Mira mengingat.


"Ini dari seseorang." ucap Nisa memanasi Mira.


"Jangan bilang jika ini dari Tian!"


"Kenapa kau bisa langsung berpikir jika ini dari Tian, hm? Segitu curiganya kau denganku."


Mira menatap Anisa dengan mata merah menahan amarah, bahkan kedua tangannya sudah terkepal erat. Namun, hal itu tidak di pedulikan sama sekali oleh Anisa.


"Kau—" Mira menaikkan sebelah tangannya dan langsung di hempaskan dengan kasar oleh Anisa.


"Turunkan tanganmu atau akan memotongnya!" tegas Nisa menatap tajam ke arah Mira.


Bendera peperangan sudah berkibar untuk kesekian kalinya, Mira tidak terima karena Nisa selalu lebih unggul darinya.


"Kau pikirkan saja sendiri, ini dari Tian atau bukan!" Nisa langsung pergi dari hadapan Mira.


"Anisa, Anisa tunggu! Urusan kita belum selesai, Anisa!" teriak Mira kesal, dia berdecak dan memukul pembatas anak tangga.


•


•


TBC


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


YUK MAMPIR KE NOVEL KARYA DARI TEMAN OTHOR 🌹



__ADS_2