Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 59 Merasa bersalah


__ADS_3

Abian menatap Nisa dengan lekat. "Ini sama sekali bukan lelucon apa pun, Nisa. Aku memang ingin menjadikanmu sebagai istriku, itu juga jika kau menerimanya."


Nisa tidak menyangka jika ternyata Abian memiliki perasaan seperti ini padanya. Dia terkejut sekaligus bahagia, akhirnya cinta tidak bertepuk sebelah tangan.


"Tuan, apa Anda tulus ingin menikahiku?" Nisa menatap mata Abian dengan lekat, pria itu pun jadi salah tingkah karena dia ingin menikah dengan Nisa hanya karena semata-mata memenuhi permintaan Nita.


"Tuan, kenapa Anda diam?" Nisa kembali bersuara dan itu membuat Abian tersenyum.


"Tentu saja aku tulus, Nisa."


Nita diam mematung melihat interaksi keduanya, setelah ini dia akan kehilangan Abian untuk selama-lamanya. Ya, pria itu akan menjadi suami dari adik tirinya, dan semua ini karena keinginannya.


"Abian, jika kau serius dan tulus dengan Nisa, maka kami hanya bisa memberikan doa restu untuk hubungan kalian berdua."


"Aku harap kita semua bisa menentukan tanggal pernikahan, aku tidak ingin jika hal baik itu di undur-undur." Abian berkata sambil melirik Nita yang hanya menunduk.


Beberapa menit kemudian, mereka kembali meminta maaf pada Nisa. Tetapi sayangnya gadis itu tetap bersikeras untuk tutup mulut dan tidak mau memaafkan mereka berdua. Tentu saja hal itu membuat Irwan dan Aini merasa sedih, mereka tidak menyangka jika keegoisan yang selama ini dilakukan pada akhirnya akan membuat hati Nisa beku seperti batu.


Setelah itu, mereka berpamitan karena Nisa masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan mereka semua. Saat sudah sunyi, Abian masuk ke dalam kamar tersebut. Dia melihat Nisa yang termenung sambil berdiri di balkon kamar. Gadis itu menatap ke bawah dimana orang tuanya sudah masuk ke dalam mobil.


Dari arah belakang, Abian menepuk pundak Nisa hingga gadis itu terlonjak kaget. Dia memegangi dada yang hampir saja melompat dari tempatnya.


"Tuan, Anda mengangetkan saya." ujarnya singkat lalu kembali menatap ke bawah.

__ADS_1


"Nisa, kau belum menjawab pertanyaanku tadi."


Nisa memposisikan tubuhnya agar sejajar dengan Abian, dia menghadap pria itu dan menatap mata Abian dengan lekat.


"Tuan, jika kau ingin menikahiku hanya karena kasihan atau rasa peduli, sebaiknya tidak usah!" tukas Nisa berpikir jika Abian merasa kasihan padanya.


"Kenapa kau berpikir sangat jauh begini? Aku memang ingin menikahimu, Nisa. Selama ini aku memendam perasaan istimewa untukmu, kau adalah wanita yang kuat dan tangguh, hal itu membuatku merasa jika wanita sepertimu hanya satu di dunia ini."


Nisa tidak percaya ungkapan itu terlontar mudah dari bibir Abian, dia segera memeluk tubuh tegap pria itu dengan erat. "Tuan, sebenarnya aku juga sangat mencintaimu selama ini. Aku membutuhkan bahu yang selalu siap untuk menerima sandaran kepalaku, mengelus punggungku disaat aku sedang emosi, menenangkan aku dikala aku bersedih, dan memberikan perhatian kecil padaku saat aku ingin di manja."


Abian merasa sakit dengan semua perbuatannya ini, dia benar-benar merasa bersalah karena sudah membohongi Nisa. Dia yakin, jika gadis itu tahu yang sebenarnya, pasti dia akan marah besar dan entah apa yang akan gadis tersebut lakukan.


Pelukan itu terurai, Abian menangkup wajah Nisa dan dia mengecup dahi gadis itu dengan perlahan. Jujur dia hanya menganggap Nisa sebagai adik kandungnya, tetapi saat ini dia harus berusaha untuk mencintai Nisa.


Nisa menggeleng cepat. "Aku tidak selera."


"Jika kau tidak makan maka dirimu nanti akan sakit. Ayo kita makan!" Abian menarik tangan Nisa ke arah sofa.


Setelah Nisa duduk, Abian pun langsung mengambil kotak nasi yang tadi dia bawa. Dirinya duduk di sebelah Nisa dan mulai membuka kotak tersebut. Lalu, duda tampan itu menyuapkan satu sendok nasi ke mulut Nisa. Tentu saja sang empunya menerima dengan senang hati. Dia sudah lama tidak di perhatikan seperti ini. Ya, terakhir kali dia disuapi saat makan adalah ketika dirinya berusia sepuluh tahun.


"Terima kasih, Tuan."


"Sst, jangan memanggilku dengan sebutan Tuan. Aku ini bukan bosmu, panggil aku dengan sebutan Mas. Apa kau lupa, jika kita akan segera menikah?" Abian memicing membuat pipi Nisa bersemu merah.

__ADS_1


Keduanya sama-sama larut dalam kemesraan hingga tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat.


****


Pagi harinya, Nita bangun dengan bermalas-malasan. Dia berjalan ke arah kamar mandi dan terlihat sangat lesu. Bagaimana tidak, sepanjang malam dia terus memikirkan perkataan Abian yang ingin menikahi Nisa secepat mungkin.


"Semoga keputusanku ini tidak salah." gumamnya lemas.


Beberapa menit kemudian, dia keluar dari kamar mandi dan segera bersiap untuk pergi ke kantor. Celana jeans, baju putih polos di padu dengan blazer cokelat membuat penampilan Nita sangat cantik. Bahkan, dia terlihat masih seperti ABG meskipun usianya sudah menginjak dua puluh delapan tahun. Setelah selesai bersiap, dia keluar dari kamar sambil menenteng tas berwarna hitam bermerek channel.


"Nita, kau tidak ingin sarapan terlebih dahulu?" tanya Aini ketika melihat Nita yang ingin keluar tanpa sarapan.


"Tidak, Ma! Aku sarapan di kantor saja,'' alasannya karena dia tidak mood makan hari ini.


Wanita itu berpamitan kepada orang tuanya dan dia segera berjalan menuju ke mobil. Tak lama kemudian, mobil itu melaju dari rumah tersebut. Nita menghidupkan musik dan memutar lagu dari Arif yang berjudul satu rasa cinta. Wanita itu menghayati lagu tersebut hingga tanpa sadar, air mata pun menetes di kedua pipinya.




TBC


****MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK 🥰****

__ADS_1



__ADS_2