Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab 14. Kondisi Nita yang menyedihkan


__ADS_3

Beberapa warga mencoba membantu mendobrak pintu rumah milik Nita, sementara Nita terduduk lemas di lantai.


"T—tolong," lirihnya sambil mengulurkan tangan ke pintu.


Napasnya tercekat, tubuhnya serasa remuk redam, dia seperti tidak memiliki tulang hingga untuk berdiri saja sulit sekali.


FLASHBACK OFF:


Riko berjalan dengan cepat menghampiri Nita, tanpa berbasa-basi, dia langsung membuka ikat pinggang dan menatap Nita dengan tajam. Tentu saja Nita bingung dengan apa yang terjadi, dia ingin bertanya tetapi Riko langsung mencambuknya.


"Argh!" teriak Nita menahan sakit.


Riko berulang kali melakukan itu tanpa menghiraukan permohonan yang keluar dari mulut Nita, bahkan saat ini tubuh Nita sudah banyak bekas cambukan.


"Mas! Sakit, aku mohon hentikan! Kenapa kau menyakitiku? Apa kau lupa dengan janji yang kau lontarkan sebelum kita menikah?" Nita berusaha menyadarkan Riko dari amukkan itu.


Riko menghentikan cambukannya, dia melemparkan ikat pinggang ke sembarang arah.


"Janji apa, hm? Aku sudah tidak peduli dengan janji busuk itu, kau tau!" bentak Riko membuat Nita memejamkan mata karena takut.


Riko mencengkeram dagu Nita dengan kuat, dia tersenyum miring lalu memukul Nita berulang kali tepat di bagian wajah.


Nita menangis dan berteriak histeris, air matanya terus mengalir deras di pipi.


"Kau tidak pernah menghargai aku, lalu untuk apa aku menghargai wanita seperti dirimu?" ucap Riko tajam dan penuh penekanan.


Nita menggeleng, dia tidak mampu bicara karena Riko terus mencengkeram dagunya. Sejenak kemudian, Riko menghempaskan tubuh Nita yang terlihat mengenaskan.


Nita terisak di dalam rasa sakitnya, dia menatap Riko dengan sayu.


"Kenapa kau berubah, Mas? Bukankah kita sudah tahu jika di dalam sebuah rumah tangga itu harus ada rasa saling percaya? Bahkan, aku tidak pernah melakukan hal konyol seperti yang kau pikirkan." lirih Nita hampir tidak bersuara.


"Cuih! Kata-katamu memang manis dan wajahmu sangat melas, tetapi kelakuanmu seperti ja*la*ng!" maki Riko membuat Nita tidak bisa berkata-kata.


Setelah puas melakukan kekerasan, Riko segera pergi.

__ADS_1


"Mas! Kau mau kemana? Mas Riko!" teriak Nita dengan suara lemah.


Sementara Riko, dia melirik Nita sejenak lalu dirinya pergi dari rumah tanpa berpikir untuk menolong sang istri.


Flashback On:


Disinilah Nita sekarang, bersama para warga dan juga Nisa.


"Masyaallah, Mbak! Mbak Nita, apa yang terjadi? Kenapa—" Nisa tidak meneruskan ucapannya, dia membekap mulut karena melihat keadaan menyedihkan yang Nita alami.


"N—nisa, t—tolong a ....'' ucapan Nita terputus dan dia kembali jatuh pingsan.


Nisa mengedarkan pandangan, dia melihat rumah itu yang terlihat sepi.


'Kemana pria gila itu? Apa dia pergi setelah menyiksa istrinya? Dasar psycopath, penjahat, suami tidak tahu diri!' maki Nisa di dalam hati.


"Pak, tolong bantu membawa Mbak Nita ke mobil. Saya dan Tuan Abian akan ke rumah sakit supaya Mbak Nita segera mendapatkan penanganan." ucap Nisa sopan.


Beberapa warga membopong tubuh Nita keluar dari rumah dan menuju mobil milik Abian.


****


Dua jam kemudian.


Setelah di periksa oleh Dokter dan mendapatkan penanganan yang baik, akhirnya Nita tersadar dari pingsannya. Nisa dan Bian segera mendekati brangkar milik Nita.


"Mbak, apa kau baik-baik saja?" tanya Nisa sambil memegang tangan Nita.


Nita terdiam melihat keberadaan gadis yang tidak dia sukai itu dan ternyata disana juga ada Abian.


"Kenapa dia diam saja?" tanya Nisa heran sambil melirik Abian.


"Mungkin dia masih syok, Anda jangan terlalu banyak bertanya terlebih dahulu." sahut Bian menduga.


Mereka hanya saling diam hingga Abian memutuskan untuk bertanya.

__ADS_1


"Apa masih ada yang terasa sakit?" tanya Bian lembut dan pelan.


Nita menggeleng pelan, dia benar-benar sedih dan trauma saat mengingat perlakuan Riko kepadanya.


"Ck! Saat aku bertanya dia hanya diam saja, tetapi ketika Tuan Abian yang membuka suara, dia pun langsung menjawab." gumam Nisa pelan hingga tidak bersuara dan tentu saja Bian juga Nita tidak mendengarnya.


Saat ini Abian sedang bertanya kepada Nita, dia ingin tahu kronologi yang membuat Nita dalam keadaan seperti ini. Nita menceritakan semuanya dengan tetesan air mata, dadanya sangat sesak dan dia ketakutan.


Abian menggeleng dengan helaan napas yang terdengar pelan.


"Mbak, saya harap Anda bisa mengambil keputusan yang tepat untuk lelaki seperti Riko!" ketus Nisa tidak terima karena dia juga seorang perempuan.


"Apa maksudmu?"


"Kau harus melaporkan dia ke pihak berwajib, lelaki itu pantas mendapatkan hukuman dan dia tidak bisa hidup tenang seperti itu!" jawab Nisa menjelaskan.


Ya, Nita berkata jika dia hanya ingin menggugat cerai Riko tetapi bagi Nisa itu semua tidak cocok.


"Aku tidak ingin memperpanjang masalah, bagaimana jika dia membawa pengacara dan tuduhan itu dia putar balikkan ke aku?"


"Ayolah, Mbak Nita. Kau itu kenapa bisa berpikiran pendek? Kau akan di visum dan hasil visum tidak akan bisa berbohong. Hm?" Nisa terus membujuk Nita.


Abian pun menyetujui ucapan Nisa karena ini sudah hal diluar kendali dan hampir saja menghilangkan nyawa seseorang.


"Jika kau tidak mau, itu tidak masalah! Tetapi ingat, saat ini mungkin Riko hanya menyiksamu, namun suatu hari nanti, dia pasti akan menghabisimu! Kau jangan terlalu lemah, berikan pelajaran yang setimpal agar dia jera. Hargailah pertolonganku dan dengarkan ucapanku!" kesal Nisa berlalu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Aku saja yang hanya bisa melihat keadaan Mbak Nita rasanya ingin sekali menghajar pria itu abis-abisan, dan perempuan itu seenaknya saja ingin menggugat tanpa memberikan pelajaran yang setimpal dengan lelaki gila itu." gerutu Nisa sangat kesal.


Dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata sejenak agar tidak terpancing emosi dengan kerendahan hati Nita.




TBC

__ADS_1



__ADS_2