
Nisa segera mengambil bungkusan yang diberi oleh Nita membuat wanita itu tersenyum senang. "Em .... Terima kasih."
"Sama-sama." balas Nita ramah.
Setelah menerima bungkusan dari Nita, Nisa segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Hari ini tubuhnya terasa sangat lelah, dan dia sudah tidak sabar untuk berendam di air hangat.
Nita terus melihat kepergian Nisa walaupun gadis itu tidak pamit atau pun mengucapkan hal lain padanya, tetapi dia sama sekali tidak tersinggung karena semua itu sudah biasa.
"Jangankan jodoh, sampai kapan pun kau bahkan tidak akan dapat teman jika terus seperti itu, Nisa." dia menggelengkan kepalanya.
Terserahlah Nisa mau seperti apa, dia hanya harus memperlakukan gadis itu dengan baik. Biar bagaimana pun juga, Nisa lah yang sudah menyelamatkannya waktu itu.
Nita lalu beranjak kembali ke rumah karena sudah tidak ada lagi yang ingin dilakukan. Dia harus segera menyiapkan diri untuk bekerja besok, supaya tidak membuat kesalahan di hari pertama bekerja.
Pada saat yang sama, Nisa sudah sampai di halaman depan rumah sang ayah. Terlihat ada mobil lain yang terparkir di tempat itu, sepertinya saat ini ayahnya sedang kedatangan tamu.
"Cih, awas saja kalau mereka mencari gara-gara lagi denganku." Nisa memilih untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur.
Namun, siapa sangka dia bertabrakan dengan seorang lelaki pada saat melintas di depan kamar mandi.
Bruk.
"Aw!" Nisa terhuyung ke samping kanan membuat tas yang dia bawa terjatuh ke lantai.
"Astaga, maafkan saya." Lelaki itu segera mengambil tas Nisa dan membereskan beberapa barang yang terjatuh, sementara Nisa sendiri sibuk memegangi pinggangnya yang terasa nyeri.
"Maaf, Anda tidak apa-apa, 'kan?" Lelaki itu menyodorkan tas yang dia pegang kepada Nisa yang langsung ditarik secara kasar oleh gadis itu.
"Tidak! Sekali lagi, hati-hati jika berjalan." Nisa memajukan bibirnya sampai beberapa senti membuat laki-laki itu hampir saja tergelak.
__ADS_1
"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja."
Nisa langsung menganggukkan kepalanya dan akan berlalu ke kamar, tetapi dia penasaran dengan sosok laki-laki yang baru saja menabraknya tadi.
"Tapi, siapa—"
"Tian!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang berasal dari Mira membuat Nisa dan laki-laki itu menoleh ke arah pintu.
Mira menajamkan sorot matanya ke arah Nisa sambil mendekati laki-laki bernama Tian itu, dengan cepat dia melingkarkan tangannya dilengan laki-laki itu membuat Nisa memgernyitkan kening.
"Sayang, kenapa kau lama sekali? Aku sedari tadi sudah menunggumu." ucap Mira dengan lembut membuat Nisa ingin muntah saat mendengarnya.
"Ah ya, tadi aku tidak sengaja menabrak Nona ini. Makanya jadi lama." Tian berusaha untuk melepaskan tangan Mira di lengannya, tetapi wanita itu malah mengeratkan peganga tangannya.
Nisa tersenyum sinis melihat apa yang Mira lakukan. "Awas putus tuh lengan orang." Dia langsung beranjak pergi dari tempat itu setelah memberikan sindiran pada adiknya itu.
"Em ... Ngomong-ngomong, itu tadi siapa?" tanya Tian yang merasa penasaran dengan sosok Nisa membuat Mira langsung meliriknya dengan tajam.
"Duh, dia itu kakakku. Maaf ya kalau dia nyakiti kamu, dia memang sering berbuat kasar sama orang lain," ucap Mira menebar fitnah, membuat Tian tersenyum canggung.
Sementara itu, Nisa yang sudah menaiki tangga hendak ke kamar terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar panggilan dari sang ayah.
"Ke sini sebentar, Nisa!"
Nisa langsung berdecak kesal saat mendengar panggilan sang ayah. Sudah hampir sebulan dia tidak saling tegur sapa dengan ayahnya, dikarenakan amukan laki-laki paruh baya itu tentang masalah rumah tangga Nita.
"Maaf, Yah. Aku sangat lelah," tolak Nisa secara halus, karena saat ini dia benar-benar merasa sangat lelah.
__ADS_1
"Baiklah. Segera istirahat dan jangan lupa makan dulu."
Nisa mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan ayah Irwan, bahkan Mona dan Mira yang baru sampai diruangam itu juga ikut menatap laki-laki paruh baya ity dengan bingung.
Tidak mau ambil pusing, Nisa langsung saja melangkahkan kakinya menuju kamar. Terserahlah ayahnya mau melakukan apa, yang pasti tidak mengusik kenyamanan hidupnya.
"Tapi, kenapa ayah berkata seperti itu?" Biar bagaimana pun, dia tetap merasa bingung. "Ah ya, dia mengatakan semua itu pasti karna ada tamu. Ya ya, aku paham sekarang." Nisa tertawa miris.
Bahkan untuk memberi perhatian pada anak sendiri saja harus ada tamu dulu. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa bagi Nisa. Toh dia juga tidak pernah memberi perhatian pada sang ayah.
Setelah kepergian Nisa, ayah Irwan menghembuskan napas kasar. Dia baru sadar kalau hubungannya dan Nisa sudah sangat jauh sekali, bahkan mereka tampak seperti musuh dari pada ayah dan anak.
"Tadi itu siapa, Wan? Wajahnya sangat mirip sekali dengan mantan istrimu," seru seorang lelaki bernama Tio, dia merupakan ayah dari Tian.
"Iya benar, wajahnya mirip sekali dengan Aini. Apa dia anakmu?" tanya wanita paruh baya bernama Rosa, dia adalah ibu dari Tian.
Irwan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sahabat lamanya itu, sementara Mona menatap mereka dengan tatapan tidak suka karena membahas tentang mantan istri sang suami.
"Dia adalah Anisa, putriku dan juga Aini."
"Wah, gak sangka kalau dia udah sebesar itu ya?" ucap mama Rosa dengan kagum. Waktu kecil dulu, dia sering sekali menggendong Nisa.
"Iya benar. Kenapa kau tidak mengenalkan kami padanya? Dia pasti tidak kenal lagi pada kami," sambung papa Tio membuat Mona dan Mira langsung merasa tidak suka.
"Em ... begini, Nisa baru saja pulang kerja. Dia pasti sangat lelah, itu sebabnya tadi dia langsung masuk ke kamar kan." Mona memilih untuk angkat bicara sebelum pembicaraan tentang Nisa meluber ke mana-mana.
•
•
__ADS_1
•
Tbc.