
Nita segera beranjak menuju ruangannya dengan membawa sebuah tab yang berisi kegiatan Abian, dia harus segera mengecek semuanya agar nantinya tidak terjadi kesalahan.
Begitu Nita membuka pintu ruangannya, dia dikejutkan oleh keberadaan Abian yang sedang berdiri di samping meja kerja.
"Ya Allah!" Nita tersentak kaget saat melihat keberadaan Abian, sontak tangannya memegangi dada yang berdebar keras.
Abian terkekeh melihat raut wajah Nita. "Maaf, sepertinya saya membuat Anda terkejut, ya?"
Nita langsung mengelengkan kepalanya. "Ti-tidak perlu minta maaf, Tuan. Ya, walaupun saya memang sedikit terkejut tadi." dia tersenyum malu membuat Abian juga ikut tersenyum.
"Bagaimana, Anda sudah menemui HRD saya, 'kan?" tanya Abian kemudian.
"Sudah, Tuan. Beliau memberitahukan jadwal kegiatan Anda untuk satu minggu ini, dia juga menjelaskan pekerjaan yang harus saya kerjakan."
Abian menganggukkan kepalanya. "Bagus, tapi sepertinya tanpa dijelaskan pun Anda pasti sudah tau."
Nita kembali tersenyum tipis. "Saya masih harus banyak belajar, Tuan. Apalagi saya belum mengenal perusahaan Anda, saya harus banyak belajar supaya tidak melakukan kesalahan."
Abian cukup puas dengan apa yang Nita ucapkan, dia yakin kalau wanita yang saat ini ada di hadapannya pasti seorang pekerja keras.
"Tapi maaf, Tuan. Sebaiknya Anda panggil saya dengan nama saja, karna saat ini 'kan, Anda adalah atasan saya." ucap Nita.
Abian membenarkan apa yang wanita itu katakan. "Ya, kau benar. Baiklah Nita, sekarang sebutkan kegiatan saya hari ini!"
Nita menganggukkan kepalanya lalu mulai membacakan apa-apa saja kegiatan Abian pada hari ini, sementara laki-laki itu khusyuk mendengarkan.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12 siang di mana waktu istirahat sudah datang.
__ADS_1
Nita merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Terlalu banyak di rumah ternyata membuat tubuhnya manja, dan cepat lelah saat dipakai bekerja seperti ini.
"Huft, aku merasa seperti baru pertama kali terjun ke dunia pekerjaan." keluh Nita sambil memegangi tengkuk dan juga bahunya yang terasa kaku.
Beberapa saat kemudian, dia beranjak dari kursi untuk masuk ke dalam ruangan Abian. Selain menyiapkan segala urusan perusahaan juga kegiatan Abian, Nita juga harus memastikan kalau pimpinannya itu makan dengan teratur.
Banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan, membuat Abian terkadang lupa makan dan lupa waktu. Itu sebabnya Nita harus menjadi alarm yang selalu mengingatkan Abian akan hal itu.
Ruangan sekretaris masih menyatu dengan ruangan CEO, di mana ruangan Nita tepat berada di bagian depan, dan ruangan Abian di bagian dalamnya. Hanya saja ruangan itu terhalang oleh pintu, yang tentu saja untuk menjaga privasi seorang pemimpin.
Tok, tok.
"Apa saya boleh masuk, Tuan?" Nita mengetuk pintu ruangan Abian sambil menanyakan apakah dia boleh masuk atau tidak.
"Ya, masuk!"
Nita segera membuka pintu ruangan itu saat sudah mendapat jawaban dari Abian, dia lalu masuk ke dalam dan tampaklah laki-laki itu sedang fokus pada laptopnya.
Abian mendonggakkan kepalanya untuk menatap wanita itu. "Tunggu sebentar!" dia lalu kembali melihat ke arah lapotop untuk mengirimkan sesuatu pada seseorang.
Beberapa saat kemudian, Abian beranjak bangun dari kursi kebesarannya sambil menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.
"Apa kegiatan setelah ini?" tanyanya sambil berjalan keluar dari ruangan dengan diikuti oleh Nita.
"Setelah ini, Tuan harus bertemu dengan Tuan Soni untuk membahas proyek yang ada di pulau bunga." jawab Nita. "Itu sebabnya, kita langsung saja ke restoran yang sudah disiapkan untuk pertemuan itu, Tuan."
Abian hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Nita, lalu mereka berdua masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai.
__ADS_1
Pada saat yang sama, seorang gadis tampak sedang duduk di sudut restoran. Dialah Nisa, yang baru saja bertemu dengan salah satu klien di perusahaan tempatnya bekerja.
"Hah, aku capek sekali." Nisa menyandarkan tubuhnya ke kursi. Hari ini dia harus bolak-balik dari kantor ke lapangan karena salah satu anggotanya sedang membuat masalah.
Nisa bekerja disebuah perusahaan yang bergerak dibidang properti, dan dia menjabat sebagai seorang Site Engineer. Di mana dia harus menjalankan tugas dari project manager, yaitu menjelaskan tentang petunjuk teknis proyek kepada semua pekerja.
Bukan hanya itu saja, dia bahkan harus memberi jaminan bahwa proyek yang dikerjakan sesuai dengan konsep yang sudah ditentukan oleh yang berwenang.
Tidak mudah bagi Nisa untuk sampai di tahap ini, banyak sekali halangan dan rintangan yang sudah berhasil dia lalui. Kesibukannya dalam dunia kerja, membuat Nisa tidak sempat untuk memikirkan hal yang lain. Apalagi ditambah dengan kondisi keluarganya yang buruk, membuat gadis itu memilih untuk menyendiri dan hanya fokus pada pekerjaan saja.
Banyak sekali rekan kerja ataupun klien perusahaan yang menaruh hati pada Nisa, tetapi dia tidak memperdulikan semua itu dan hanya dianggap angin lalu saja. Padahal dia sangatlah cantik, tetapi dinding yang dibangun dihatinya tidak dapat ditembus oleh siapa pun.
"Ampun juga kalau tiap hari harus panas-panasan, apa aku beli mobil aja ya?" Nisa mulai tidak tahan kalau terua berlalu lalang di bawah teriknya matahari, tetapi jika dia membeli mobil. Pasti perjalanannya tidak akan secepat pada saat menaiki sepeda motor.
Pada saat sibuk berpikir, mata Nisa tidak sengaja melihat seorang lelaki yang baru saja memasuki restoran yang sama dengannya.
Tanpa pikir panjang, Nisa segera beranjak dari tempat duduknya untuk memghampiri Abian.
"Tuan Abian!" dia melambaikan tangan pada Abian yang sedang melihatnya.
Namun, senyuman yang ada diwajahnya langsung lenyap saat melihat sosok wanita yang saat itu baru masuk ke dalam restoran dan berdiri tepat di samping Abian.
"Kenapa wanita itu bisa bersama dengan Tuan Abian?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.