Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 29 Mengantar pulang


__ADS_3

Sebelum kembali ke rumah, Tian membawa Nisa ke rumah sakit terlebih dulu untuk memeriksakan kaki wanita itu yang sudah mulai membengkak.


"Untung saja Anda segera memeriksakannya, jadi kaki itu bisa langsung ditangani," ucap Dokter yang baru saja selesai memeriksa kaki Nisa.


"Tapi, kakiku tidak apa-apa kan, Dok?"


Dokter paruh baya itu menggeleng. "Tidak apa-apa, Nona. Hanya terkilir saja. Tapi, saya harus memasang gips supaya bisa cepat sembuh."


"Apa, gips?" Nisa terkejut dengan apa yang Dokter itu katakan, dan dibalas dengan anggukan Dokter tersebut.


"Walaupun kaki Anda baik-baik saja, tapi harus tetap pakai gips supaya bisa cepat pulih."


"Maaf, Dokter. Tapi aku tidak mau," tolak Nisa mentah-mentah. Dia pasti akan sangat susah sekali jika ingin berjalan ke mana-mana dengan gips itu, apalagi saat bekerja.


"Kenapa kau menolak ucapan Dokter? Mau, kalau kakimu seperti itu selamanya?" seru Tian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nisa, seolah-olah menyuruhnya untuk diam.


"Yang teman Anda katakan itu benar, Nona. Lagi pula tidak akan lama, paling hanya beberapa hari saja." ucap Dokter itu.


Nisa tetap teguh pendirian untuk tidak memakai benda itu di kakinya, tetapi Dokter terus menyarankannya membuat dia kalah. Apalagi dengan dukungan dari Tian, tentu dia semakin terpukul mundur.


Akhirnya mau tidak mau, Dokter itu memasangkan gips dikakinya. Setelah itu, Nisa dan Tian segera pergi dari rumah sakit untuk pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara di dalam mobil. Hingga tidak terasa jika mereka sudah sampai di tempat tujuan karena memang jaraknya cukup dekat dari rumah sakit.


Tian segera turun dari mobil dan berlari mengitari mobil itu untuk membukakan pintu.


"Aku bisa sendiri," ucap Nisa yang tau kalau Tian akan kembali membantunya.


Tian yang tidak terima dengan penolakan, langsung saja menarik tangan Nisa dan merangkul tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Hey, aku bisa-"


"Sudan diam! Apa susahnya sih, menerima bantuan dariku?" ucap Tian dengan tajam, bahkan sorot matanya lebih tajam dari apa yang dia katakan.


Nisa langsung menutup mulutnya dan tidak melakukan penolakan lagi, membuat Tian tersenyum simpul. Mereka lalu berjalan ke arah rumah di mana terlihat sepertinya sedang ada tamu di rumah itu.


Ayah Irwan dan yang lainnya langsung menolehkan kepala mereka ke arah pintu saat mendengar langkah kaki seseorang. Sontak mereka semua terkejut saat melihat Nisa, di mana saat ini dia sedang dirangkul dan dituntun untuk masuk ke dalam rumah.


Ayah Irwan langsung beranjak bangun dari duduknya dan menghampiri Nisa, begitu juga dengan yang lainnya terutama Mira dan juga Nolan yang sedang bersama dengan keluarganya.


"Ada apa ini, Nisa?"


Nisa yang sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya, dan sedikit kaget melihat semua orang ada di hadapannya.


"Aku tadi tidak sengaja jatuh." jawab Nisa.


"Terus, kenapa kau bisa bersama dengan Tian?" tanya Mira dengan nada tidak terima. Apalagi tadi mereka terlihat sangat mesra, dan si*alnya mereka juga terlihat serasi.


"Kebetulan aku dan Nisa sedang bersama karena urusan pekerjaan, itu sebabnya aku yang mengantarnya pulang," ucap Tian.


Nolan yang juga ada di tempat itu terus menatap tajam ke arah Tian. Dia tau kalau laki-laki itu pasti tertarik dengan Nisa, dan dia tidak akan membiarkan semua itu.


"Wah, Anda baik sekali. Kalau begitu saya ucapkan terima kasih karena Anda sudah mengantar calon istri saya pulang," ucap Nolan dengan senyum lebar, tetapi Tian tahu kalau dia sengaja mengucapkannya untuk menunjukkan kalau Nisa adalah miliknya.


Ayah Irwan juga ikut mengucapkan banyak terima kasih pada Tian, dia juga mengajak laki-laki itu untuk duduk dulu bersama mereka.


"Maaf, Om. Aku tidak bisa lama-lama, karena Om Abian juga sedang menunggu," tolak Tian dengan halus. Sebenarnya dia mau sekali kalau berlama-lama di rumah itu, tapi hanya dengan Nisa dan bukan yang lain.


"Kok buru-buru sih, Kak. Aku kan masih merindukanmu."

__ADS_1


Tian hanya tersenyum saja untuk menanggapi ucapan Mira, kemudian dia pamit pergi dan segera beranjak keluar dari rumah itu.


"Bagaimana keadaan kakimu, Nisa. Apa baik-baik saja?" tanya Nolan sambil berusaha untuk merangkul tubuh Nisa, tetapi dengan cepat wanita itu memajukan tubuhnya hingga berada di depannya.


"Iya, cuma keseleo biasa aja kok," jawab Nisa sambil berjalan pelan ke arah tangga.


"Makanya, lain kali kalau kerja itu hati-hati, Nisa. Lihat, kau membuat calon mertuamu khawatir." Ayah Irwan melihat ke arah orang tua Nolan yang memang tampak khawatir dengan keadaan Nisa membuat wanita itu hanya bisa menghela napas kasar saja.


Nisa lalu mendekati kedua orang tua Nolan dan bertanya bagaimana kabar mereka. Walaupun dia tidak suka dengan perjodohan yang telah mereka dan ayahnya lakukan, tetapi dia tidak boleh mengacuhkan mereka.


"Kami sehat-sehat saja, Nak. Tapi lihat kakimu itu, sampai dipasang gips seperti itu." Riri menunjuk ke arah kaki Nisa dengan khawatir.


"Cuma keseleo biasa aja kok, Tante. Tapi Dokter memasang gips supaya bisa cepat sembuh."


Riri menganggukkan kepalanya lalu mengajak Nisa untuk duduk bersama mereka, walaupun Nisa sendiri merasa sangat malas sekali. Apalagi dia tau kalau saat ini mereka pasti ingin membicarakan hubungannya dengan Nolan.


"Jadi bagaimana, Ir? Apa kita bisa menentukannya sekarang?" tanya Bram, papanya Nolan.


"Tentu saja, segala hal yang baik itu harus segera dilaksanakan.".





Tbc


__ADS_1


VISUAL NISA 🌹


__ADS_2