
Abian pergi menuju ke hotel dimana Nisa tinggal, dia telah sampai di depan kamar gadis itu dan ternyata Nisa belum sampai di hotel. Tentu saja hal itu membuat Abian sedikit khawatir, biar bagaimanapun dia sudah menganggap Nisa sebagai adiknya sendiri. Dia tidak akan bisa tenang jika gadis itu belum pulang seperti ini. Dirinya pergi dari hotel, dia bersiap untuk mencari keberadaan Nisa.
Setelah lama melakukan perjalanan, Abian melihat seorang wanita yang berdiri di pinggiran jembatan. Kebetulan pada saat itu suasana jalan sangat sepi sehingga membuat Abian berpikir aneh.
"Itu, manusia atau hantu?" tanyanya dengan sendiri sambil memicing tajam.
Dia keluar dari mobil dan menatap ke arah wanita itu berdiri, dirinya sangat mengenal baju tersebut.
"Anisa?" gumam Abian yang sangat mengenali baju dan postur tubuh Nisa.
Pria itu berlari menghampiri Nisa yang berdiri di pinggir jembatan, tangannya terkepal erat di pembatas dan gadis itu menundukkan kepalanya.
"Anisa!" teriak Abian setelah hampir dekat dengan Nisa.
Sontak hal tersebut membuat gadis itu menoleh, dia menghapus air matanya dan segera berlari ke arah Abian. Hatinya yang sangat rapuh saat ini membutuhkan tempat untuk bersandar. Setelah di dekat Abian, dia langsung menghambur dan memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Hiks," isak tangisnya terdengar memilukan.
"Nisa, kau harus sabar. Ada aku yang akan selalu berada di sampingmu, aku yakin kau bisa menjalani semua ini karena aku adalah wanita yang tangguh." bujuk Abian menyemangati Nisa.
Nisa dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak, Tuan! Saya hanya wanita biasa, saya memang terlihat tangguh tetapi sebenarnya hati saya itu mudah rapuh seperti perempuan pada umumnya. Namun, sebisa mungkin saya menahan kesedihan selama ini dan tetap menjadi tegar. Tetapi, apa yang saya dapatkan? Saya terus-menerus bersedih dan saya merasa jika Tuhan tidak adil dalam merancang kisah hidup saya ini. Saya sangat terpuruk, Tuan." tangisannya pecah dan membuat Abian mengeratkan pelukan itu.
__ADS_1
"Hei, kenapa kau bicara seperti itu? Jangan menyalahkan Tuhan dalam hal apa pun, ini semua sudah takdir, Nisa. Tuhan ingin mengetes dirimu kuat atau tidak menjalani cobaan darinya. Percayalah padaku, semua akan berakhir dan indah pada waktunya."
"Tapi kapan, Tuan? Kapan kesedihan ini berakhir? Apa tunggu aku mati? Jika memang benar, maka aku akan melompat sekarang juga agar semuanya berakhir sampai disini. Aku tidak tahan dengan semuanya, apa salahku sehingga aku harus mendapatkan cobaan seperti ini?"
Abian merasakan sakit di dalam hatinya, tentu saja dia sangat iba pada Nisa karena hidupnya bagaikan sebatang kara. Pria itu mengajak Nisa masuk ke dalam mobil dan mencoba menenangkan.
"Nisa, kau harus tenang dulu saat ini. Aku tahu semuanya sangat berat untukmu," Abian menggenggam jemari Nisa, mereka bahkan saling duduk berhadapan.
Ibu jari Abian terulur untuk menghapus air mata milik Nisa, dia menatap wajah gadis itu dan kembali teringat perkataan dari Nita.
'Aku merelakanmu untuk Nisa, Mas. Menikahlah dengannya dan aku yakin semua akan membaik setelah itu. Jangan hiraukan aku, aku kuat dan ikhlas. Maaf jika semua keputusan yang ku buat ini salah menurutmu, tetapi aku hanya menginginkan Nisa bahagia. Dia sudah banyak menanggung kesedihan selama ini, buatlah dia bahagia dan jangan biarkan air matanya menetes.' itulah perkataan yang terngiang di benak Abian hingga dadanya tiba-tiba merasa sesak.
"Tuan?" panggil Nisa yang melihat Abian melamun.
"Apa yang sedang Anda pikirkan?" tanya Nisa merasa heran.
"Tidak ada! Aku hanya berpikir jika mau tadi ingin berbuat nekad di jembatan ini."
"Apa Anda pikir saya gila? Mana mungkin saya bunuh diri, meskipun hidup saya penuh dengan beban yang berat." Nisa menyandarkan tubuh di kursi mobil. "Apa Anda tau, Tuan. Seseorang diminta dewasa saat usianya belum mencapai ke tahap itu. Ya, begitulah diriku. Dari aku berusia dua puluh tahun, diriku sudah harus berpikir dewasa dan aku juga tidak boleh cengeng. Walaupun aku selau tersakiti dengan sikap Ayahku selama ini." curahnya mengugkapkan perasaan.
"Nisa, jujur saja aku sangat salut padamu. Kau bisa mengendalikan semuanya dengan baik, dan kau bahkan tidak seperti para gadis lainnya. Apa yang bisa membuatmu bahagia?"
__ADS_1
Nisa tersenyum tipis seraya melirik Abian sejenak, mereka melupakan sejenak kejadian tentang masalah Ayah dan Mama tadi.
"Pernikahan!'' jawabnya singkat namun penuh makna.
Abian mengerutkan dahinya. "Kenapa? Bukankah kau tidak ingin menikah?"
"Dari mana Anda tahu itu, Tuan? Tentu saja semua wanita ingin menikah, tetapi hanya dengan orang yang dia cintai." Nisa kembali tersenyum miris. "Sementara aku, siapa yang bisa mencintai gadis galak dan judes sepertiku? Aku berharap jika ada pangeran berkuda putih yang datang padaku, dan menawarkan sebuah kebahagiaan untukku. Namun, itu semua hanya sekedar khayalan." kekehnya sedih.
Abian dapat melihat jelas kesedihan dan keterpurukan di mata Nisa, bahkan nada suaranya juga sedikit bergetar. Sungguh hati siapapun pasti akan sesak ketika melihat serta mendengar perkataan dari Nisa.
"Kau pasti bisa mendapatkannya, Nisa."
"Benarkah? Dimana aku bisa mendapatkan pria seperti itu? Pria yang bersedia memberikan kebahagiaan untukku, tanpa ingin menyakiti perasaanku sedikit pun."
"Jika aku mengatakan bahwa akulah orangnya, apa kau akan percaya?" tanya Abian membuat bola mata Nisa membulat sempurna. Gadis itu berulang kali mengedipkan matanya dan melongo tanda tidak percaya.
•
•
TBC
__ADS_1
YUK MAMPIR KE NOVEL KARYA DARI TEMAN OTHOR 🌹