Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab 9. Kemarahan Nita


__ADS_3

Nita menatap lawan bicaranya dengan tajam, dia benar-benar merasa kesal karena Nisa semakin memperkeruh pertengkaran di dalam rumah tangganya. Nita berkaca pinggang dengan jari telunjuk yang menuding Nisa.


"Fitnah apa yang kau katakan pada suamiku? Hah!" bentak Nita marah.


Nisa menelan ludah, dia bingung harus menjawab apa.


"Mbak, Mbak Nita tenang dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik di dalam, ayo masuk." ajak Nisa bertutur sopan.


Nita menghempaskan tangan Nisa yang ingin menggapainya.


"Tidak perlu sok polos seperti ini, Nisa! Ya, aku tahu jika kau kesal karena aku sering meledekmu dengan julukan perawan tua. Tetapi itu semua fakta bukan? Kau memang perawan tua karena di usianya yang sudah menginjak dua puluh lima tahun, kau belum memiliki pasangan!" ucap Nita lepas kendali. "Kau tau, meski kau sakit hati padaku tetapi setidaknya jangan pernah membuat masalah rumah tanggaku semakin memanas!" lanjutnya penuh penekanan.


Mona yang sedari tadi mendengarkan ucapan Nita kini mulai buka suara karena dia merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi.


"Nita, ada apa sebenarnya?"


Nita melirik Mona. "Tante, beritahu pada anak tante ini agar tidak terlalu ikut campur dalam masalah rumah tangga orang lain!" ujarnya lalu mulai menceritakan kejadian tadi pagi dimana Nisa mengatakan jika Nita sedang membuat kejutan ulang tahun untuk Riko.


"Mbak, aku sengaja mengatakan itu karena aku ingin menolongmu." ucap Nisa.


"Halah bohong!" Nita melotot. "Kau sengaja mengatakan itu karena kau ingin membalas dendam denganku bukan? Kau ingin masalahku dan Mas Riko semakin panjang? Oh, bagaimana mungkin kau bisa tahu hari ulang tahun suamiku?" Nita mulai bertanya dengan nada curiga.


"Aku hanya asal menebak." sahut Nisa jujur.


"Asal menebak tapi ternyata tepat? Tidak mungkin, atau jangan-jangan, kau—" Nita menaikkan sebelah alisnya seraya tersenyum miring.


"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak segila itu, Mbak Nita!" bantah Nisa yang mengerti pikiran dari Nita.


"Aku yakin kau menyembunyikan perasaan lain pada suamiku, dasar perempuan murahan!" ludah Nita di dekat Nisa, untung Nisa memundurkan langkahnya karena jika tidak, pasti ludah itu sudah mengenai kakinya.

__ADS_1


Nita berbalik badan ingin pergi dari rumah Nisa, tetapi dirinya kembali menoleh ke belakang.


"Jika kau masih ikut campur dalam masalah rumah tanggaku dan Mas Riko, maka kau akan tahu sendiri akibatnya. Ingat itu, Nisa!'' tekan Nita lalu segera melangkah pergi dengan membawa segala emosinya.


Sepeninggalan Nita, Mona menarik tangan Nisa agar masuk ke dalam rumah. Dia merasa malu sebab ada beberapa tetangga yang menyaksikan pertengkaran itu. Setelah berada di dalam, Mona menghempaskan tangan Nisa dengan kasar.


''Apa kau sudah tidak waras, hm? Kau benar-benar sudah membuat nama baik keluarga ini menjadi jelek." ucap Mona tajam menghunus ke ulu hati milik Nisa.


Nisa hanya diam saja, dia sama sekali tidak berniat untuk meladeni ucapan Ibu tirinya itu.


"Kau itu sudah dewasa, Nisa. Kenapa pikiranmu masih seperti anak-anak? Untung saja Ayah belum pulang, jika Ayah tadi berada di rumah, aku yakin dia akan memberikanmu pelajaran." sambung Mira tak mau kalah dari sang Ibu.


"Kau harusnya tadi minta maaf pada Nita agar masalah ini tidak semakin besar. Kau seharusnya mengurusi hidupmu yang belum bener ini."


Nisa menghela napas berat, telinganya sangat gatal karena mendengar ocehan kedua wanita yang menurutnya tidak berguna itu. Sementara Mona, dia menatap Nisa dengan rasa kesal.


"Nisa! Nisa, saya belum selesai bicara!" teriak Mona kencang.


"Apa lagi? Kau tidak tahu apa pun, jadi sebaiknya diam saja. Dasar benalu!" tukas Nisa merasa ingin meremas mulut ibu tirinya itu, seorang Ibu sambung yang hanya memikirkan dirinya saja dan sang anak bawaan tanpa mengerti perasaan Anisa.


Mona mendegus marah.


''Sudah, Bu. Biarkan saja! Kita harus sesegera mungkin membuat gadis itu pergi dari rumah ini dengan cara membujuk Ayah agar menikahkan dia dengan rekan bisnisnya. Ya, atau tidak anak rekan bisnis Ayah."


Mona mengangguk, mereka berdua pergi ke halaman belakang menunggu Irwan pulang dari kantor.


Sementara di tempat lain, matahari hampir saja terbenam tetapi Nita masih setia duduk di taman yang tak jauh dari kompleks perumahan elit itu. Bahkan, Riko sama sekali tidak menyusulnya seakan-akan tidak khawatir dengan keadaan sang istri. Air mata tiada henti mengalir di pipi mulus Nita, dia dengan cepat menghapus air mata itu agar tidak dilihat oleh siapapun.


Nita terlonjak kaget ketika dia mendengar suara seseorang.

__ADS_1


"Permisi," sapa Abian yang baru saja pulang dari kantor, dia tidak sengaja melihat seseorang duduk sendirian di taman sementara hari sudah hampir menjelang malam.


Nita menoleh, dia tidak bereaksi apa pun melihat Abian yang ada di dekatnya.


"Mbak Nita, kenapa Anda berada disini? Hari sudah hampir malam, apa ada sesuatu?'' tanya Abian heran.


Nita hanya menggeleng, dia saat ini sangat malas untuk bicara dengan siapapun.


"Apa Mbak Nita tidak pulang ke rumah?'


Nita mengembuskan napas pelan, dia ingin menjawab pertanyaan Abian tetapi suara Riko menghentikan ucapannya.


"Sayang!" teriak Riko sambil berlari kecil menghampiri Nita dan Bian.


"Astaga, Sayang. Aku sudah mencarimu sedari tadi." ucap Riko, dia baru saja mencari Nita ke rumah Nisa tetapi tidak Mona mengatakan jika Nita hanya sebentar berada di rumah itu.


"Maaf, Tuan. Saya tadi tidak sengaja melihat Mbak Nita duduk sendirian dan melamun di tempat ini." ucap Bian jujur.


Riko hanya tersenyum tipis menjawab ucapan Bian, dia menggenggam jemari Nita.


"Kami permisi, mari!" ucap Riko berpamitan.


Abian hanya mampu menatap kepergian suami-istri itu hingga keduanya semakin menjauh.




__ADS_1


TBC


__ADS_2