
Keesokan harinya, Nisa terbangun karena cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya melalui tirai jendela. Dia membuka kelopak mata dan masih mengumpulkan seluruh nyawanya. Setelah itu, dia duduk sambil mengucek mata. Dirinya menguap lalu melirik jam yang ada di atas meja. Seketika dirinya kaget karena ternyata jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Nisa lupa jika dia saat ini berada di rumah orang lain, tetapi dirinya malah bangun kesiangan.
"Astaga, Nisa! Apa yang kau lakukan? Kau menumpang tinggal di rumah orang dan seenaknya saja bangun siang seperti ini. Ck," Nisa berdecak dan bergegas menuju kamar mandi.
Saat sudah selesai mandi, dia pun segera keluar dari kamar. Namun, baru saja berjalan menuruni anak tangga, tercium aroma masakan yang sangat sedap di hidungnya.
"Aku yakin jika Mbak Nita pasti sudah selesai beberes rumah," ucap Nisa sambil terus berjalan menuruni anak tangga.
Sesampainya di lantai bawah, dia menoleh ke arah dapur. Benar saja, Nita sedang berkutat di depan kompor dan terlihat masih memasak sesuatu.
"Mbak," sapa Nisa yang sudah berada di belakang Nita.
Seketika Nita terlonjak kaget karena pasalnya dia masih fokus memasak. Dirinya menghela napas pelan sambil mengelus dada.
"Nisa, kau mengangetkan saja. Kau sudah bangun?" tanya Nita seraya mematikan kompor.
Nisa tersenyum tipis. "Maaf ya, Mbak. Aku tidak tahu diri, sudah menumpang tapi bangun kesiangan."
"Hei, kenapa kau bicara seperti itu? Tidak masalah, anggap saja rumah sendiri." Nita pun menjawab dengan tulus.
"Apa Mbak Nita sudah selesai memasak? Atau ada yang perlu aku bantu?" tawar Nisa yang merasa tidak enak hati.
"Semuanya sudah selesai, Nisa. Kau tunggu saja di meja makan dan aku akan menyiapkan segalanya. Kakimu belum sembuh total, jadi kau harus beristirahat. Oh ya, menurutku kau juga tidak perlu masuk bekerja hari ini agar kakimu bisa secepatnya pulih." saran Nita memberikan nasehat.
"Baiklah, aku akan meminta izin untuk tidak masuk kerja hari ini."
"Bagus, kalau begitu kau pergilah ke meja makan dan duduk manis. Aku akan segera membawa sarapan ke sana."
Nisa mengangguk, dia berlalu pergi dari dapur. Namun, saat langkahnya belum terlalu jauh, dia menoleh kebelakang sejenak melihat Nita yang sibuk menyiapkan sarapan. Ada rasa tidak enak di dalam hati Nisa, tetapi dia tidak bisa mengabaikan perkataan Nita agar jangan membantu apa pun.
Lagi pula, Nita 'kan tahu jika kaki Nisa belum sembuh dan hal itu tentu saja membuat Nita menjadi pengertian. Nisa tersenyum tipis lalu melangkah pergi dari dapur.
Beberapa jam kemudian, mereka berdua sudah selesai sarapan. Nita berpamitan pada Nisa untuk pergi bekerja.
__ADS_1
"Nisa, kau tidak perlu sungkan untuk melakukan apa pun di rumah ini. Ya, seperti tadi yang aku katakan, jika kau harus menganggap rumah ini seperti rumahmu sendiri."
"Baik, Mbak. Hati-hati di jalan," ucap Nisa sambil tersenyum tipis.
Nita mengangguk, dia masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya sejenak.
"Jaga dirimu baik-baik!" teriak Nita sebelum mobilnya menjauh.
Nisa hanya mengangguk saja sebagai tanda jawaban untuk peringatan yang Nita katakan. Dirinya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya bingung.
Dia pun melangkah menuju halaman belakang, dirinya tersenyum ketika melihat begitu banyak tanaman bunga di halaman itu.
"Wah, bagus sekali. Ternyata Mbak Nita pecinta bunga, dia bahkan merawatnya sangat telaten." ucap Nisa yang sedang melihat tanaman bunga milik Nita.
Ada begitu banyak bunga yakni anggrek, mawar, janda bolong, dan bunga aglaonema lainnya.
Setelah di rasa puas memandang keindahan bunga itu yang membuat matanya segar, Nisa segera masuk ke dalam karena cuaca juga sudah cukup terik. Sesampainya di dalam, dia hendak berjalan menaiki anak tangga untuk ke kamar, tetapi langkahnya terhenti karena suara telepon rumah.
Nisa menatap telepon rumah, dia bingung harus menjawabnya atau tidak. Sedetik kemudian, dia berjalan untuk mengambil telepon rumah.
📞"Halo, Nisa. Apa aku bisa minta tolong?" tanya Nita dari seberang telepon.
"Ya, katakan, Mbak."
📞"Aku tidak sengaja meninggalkan proposal penting untuk meeting hari ini dengan klien dari Jepang. Apa kau bisa mengambilkan proposal itu? Nanti akan ada yang menjemputnya ke rumah, aku tidak bisa pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."
"Dimana Mbak Nita meletakkan proposal itu?" tanya Nisa memastikan.
📞"Aku meletakkannya di dalam kamar, tepat di laci sebelah tempat tidur."
"Baik, aku akan mengambilnya." ucap Nisa menyanggupi.
📞"Terima kasih, Nisa. Kau tidak perlu canggung atau pun sungkan untuk masuk ke dalam kamarku,"
__ADS_1
"Baiklah."
Sambungan pun terputus.
Nisa segera berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamar Nita untuk mengambil proposal itu. Saat dia sudah berada di dalam kamar Nita, dirinya segera menjalankan apa yang Nita katakan.
"Mbak Nita sedikit ceroboh, bisa-bisanya dia melupakan proposal penting seperti ini," ujar Nisa sambil menggelengkan kepalanya.
Dia hampir sampai di meja yang Nita katakan, tetapi langkah kakinya terhenti ketika dia melihat sebuah bingkai foto. Di dorong oleh rasa penasaran, Nisa pun berjalan untuk melihat foto itu.
Dirinya tersenyum tipis saat menduga jika itu adalah foto Nita bersama dengan orang tuanya.
"Ini Mbak Nita? Iya, dia masih sangat imut." ucap Nisa yang melihat foto Nita sewaktu masih kecil.
Di dalam foto itu ada Ayah Nita, Almarhum sang Mama dan Nita sendiri. Mereka terlihat tersenyum bahagia dan tentu saja itu senyum ketulusan juga kebenaran. Tidak seperti foto dia dan kedua orang tuanya yang di yakini jika itu adalah senyum kebohongan.
Nisa tersenyum miris saat mengingat kejadian yang menimpa dirinya, dia menghela napas lalu berusaha untuk melupakan semuanya. Ya, mungkin saja perkataan Nita ada benarnya kalau dia akan menemukan kebahagiaan. Meski pun entah kapan bahagia itu datang padanya.
Dia mengambil proposal yang ada di laci dekat tempat tidur. Setelah menemukan proposal tersebut, dirinya segera menutup laci, tetapi tanpa sengaja dia menjatuhkan selembar kertas tebal. Ya, kertas itu seperti pas photo.
"Apa ini?" tanya Nisa pada dirinya sendiri.
Saat hendak membalikkan pas photo itu, suara seseorang mengurungkan niat Nisa.
"Permisi!" teriak seorang wanita dengan suara cukup kencang.
Nisa menoleh ke arah pintu kamar.
"Iya, sebentar!" balas Nisa dengan suara teriakan yang kencang pula agar di dengar oleh wanita itu.
Tanpa melihat pas photo tersebut, Nisa memasukkan lagi benda itu ke dalam laci dan dia berlalu pergi keluar dari kamar Nita.
Ya, pas photo tersebut adalah foto Ayah Nita, Mama tirinya dan Nita sendiri, kala itu mereka sedang pergi berlibur ke Bali.
•
__ADS_1
•
TBC