
Namun, baru beberapa langkah kaki Nisa melangkah. Tiba-tiba Riko mencekal tangannya membuat dia langsung melihat ke atah belakang.
"Kenapa kau pergi?"
Nisa mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan laki-laki itu, dengan cepat dia menghempaskan tangan Riko sampai cekalan itu terlepas.
"Berhenti menggangguku dan enyahlah, Tuan!" teriak Nisa, kepalanya serasa ingin pecah saat ini.
Riko menatap Nisa dengan heran, apalagi saat ini wanita itu terlihat sekali sangat marah padanya. "Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia marah sekali padaku?" tanyanya dalam hati karena merasa bingung.
Nisa yang sudah merasa sangat kesal mencoba untuk mengendalikan diri. Saat ini dia harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara Riko dan juga Nita, walaupun semua itu bukan karena kesalahannya.
"Baiklah, dengarkan aku baik-baik, Tuan." Nisa berdiri tepat di hadapan Riko sambil menatap laki-laki itu dengan tajam. "Sebelumnya, aku ingin minta maaf karena sudah membuat kekacauan dalam rumah tanggamu. Tapi apa yang aku lakukan waktu itu, itu bukanlah sesuatu yang serius. Aku mengatakan soal kejutan karena ingin mengeluarkan istrimu dari rumah, dan semua ucapanku itu tidaklah benar."
Deg.
Riko mematung saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nisa, dan jujur saja kalau dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang wanita lakukan.
"Jadi aku mohon berhenti membahas tentang masalah itu. Akulah yang bersalah karena sudah berbohong padamu, dan istrimu juga tidak tau apapun soal semuanya." sambung Nisa kemudian.
Untuk beberapa saat Riko tetap diam di tempat itu, sampai akhirnya dia menyeringai membuat Nisa bergidik ngeri.
"Kau mengatakan ini karna Nita sudah mengancammu 'kan?" tanya Riko membuat Nisa menghela napas frustasi. "Sudahlah, Nisa. Kau tidak perlu membela ataupun menutupi kebusukan wanita itu. Dan ya, aku tidak tau kalau hubungan kalian berdua sangat baik. Atau jangan-jangan selama ini kalian sama-sama suka menggoda para lelaki?"
__ADS_1
Nisa mengepalkan tangannya dengan erat, ingin sekali dia meninju wajah lelaki yang saat ini ada di depannya.
"Tutup mulutmu, si*alan! Kami para wanita tidak serendah dan sehina dirimu, yang dengan mudahnya menuduh orang lain bahkan istrimu sendiri tanpa bukti!" kesal Nisa hingga bola matanya ingin melompat keluar.
"Tanpa bukti kau bilang? Jelas-jelas buktinya adalah kau, kau sendiri yang sudah mengatakan—"
"Hentikan!" Nisa mengangkat tangannya membuat ucapan Riko terhenti. "Sudah aku katakan kalau aku berbohong, dan semua itu tidak benar. Tidak benar!" suara teriakannya menggema di tempat itu membuat beberapa pengendara motor beralih memperhatikan mereka, begitu juga dengan pengendara mobil yang melintas di tempat itu.
"Berhenti membahas tentang itu. Dan untuk sekali lagi aku tekankan, apa yang aku ucapkan tidaklah benar! Aku hanya ingin menyelamatkan wanita itu dari laki-laki gila sepertimu, aku ingin menyelamatkannya dari laki-laki egois dan tidak waras sepertimu."
"Nisa!" bentak Riko dengan wajah yang sudah merah padam. Rahangnya mengeras dengan urat-urat yang menonjol disekitaran leher, bahkan kedua tangannya juga sudah mengepal kuat saat ini.
"Kenapa? Apa kau tidak terima dengan apa yang aku ucapkan?" Nisa tersenyum sinis membuat Riko kian membara. "Kau dengarkan aku baik-baik, Tuan Riko yang terhormat." dia menunjuk tepat ke wajah Riko yang tentu saja membuat laki-laki itu semakin terbakar emosi.
"Nita adalah wanita yang paling tidak beruntung karena mendapat suami gila seperti! Bukan-bukan, bukan hanya gila tetapi kau juga egois, angkuh dan keras kepala. Kau bahkan seorang psyco gila yang tega menganiaya istrimu sendiri." cibir Nisa tanpa memikirkan ekspresi lawan bicaranya.
Nisa yang sudah memejamkan kedua matanya dan bersiap menerima pukulan, kembali membuka mata saat tidak ada sesuatu yang mendarat di wajahnya. Dia lalu merasa terkejut saat melihat seseorang.
"A—Abian?"
Riko menatap tajam ke arah seorang lelaki yang saat ini sedang mengcengkram tangannya. "Lepaskan tanganku!"
Abian langsung menghempaskan tangan Riko dengan kasar sampai laki-laki itu mundur selangkah ke belakang, dia lalu melirik ke arah Nisa seolah-olah sedang memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.
__ADS_1
Nisa yang melihat sosok Abian hanya bisa diam di tempatnya dengan jantung berdegup kencang. Entah kenapa matanya tidak bisa berpaling dari laki-laki itu, juga suaranya yang seakan-akan tercekat di tenggorokan.
Abian yang ternyata baru saja pulang dari sebuah pesta tidak sengaja melihat keberadaan Nisa dan Riko yang berada tidak jauh dari jalan. Awalnya dia merasa tidak peduli, tetapi saat melihat wajah Nisa yang tampak sangat marah membuat dia langsung meminggirkan mobilnya dan mendekati wanita itu.
"Apa Anda hanya bisa main tangan dengan seorang wanita?" ucap Abian dengan tajam membuat Nisa tersentak dari lamunannya, sementara Riko sendiri sudah dipenuhi oleh kemarahan.
"Jangan ikut campur urusanku, atau kau akan menyesal!" Riko menunjuk tepat ke wajah Abian membuat suasana kian memanas.
"Maaf jika saya ikut campur, tapi saya tidak bisa membiarkan seorang lelaki menyakiti wanita di depan mata saya."
Riko langsung mencengkram kerah kemeja Abian membuat Nisa tersentak kaget. "Tutup mulutmu dan pergi dari sini, sebelum aku membunuhmu!"
"Lepaskan dia!" Nisa menarik tangan Riko dengan kuat membuat cengkraman laki-laki itu terlepas. "Kalau kau berani menyakitinya, maka aku tidak akan tinggal diam." Nisa mengeraskan rahangnya sambil menatap Riko dengan tajam.
Abian sendiri beralih melihat ke arah Nisa, dia tidak menyangka kalau wanita itu sangat berani. "Dasar! Sepertinya dia tidak butuh bantuanku sama sekali."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL KARYA DARI TEMAN OTHOR 🤗