
Nisa terus memandang hamparan langit yang membentang indah di atasnya. Hati yang semula panas, kini terasa sejuk dan juga tenang.
Tian yang masih setia berada di tempat itu terus memandang ke arah Nisa. Betapa cantik dan manisnya makhluk ciptaan Tuhan itu, hingga dia tidak bisa mengendalikan hati dan perasaannya yang terus tertuju pada gadis tersebut.
"Mau sampai kapan kau menatapku, Tian? Apa wajahku jauh lebih indah dari kerlip bintang di atas sana?" Nisa memalingkan pandangannya ke arah Tian membuat wajah laki-laki itu bersemu merah.
"Tidak ada yang bisa menandingi keindahan ciptaan Tuhan, Nisa." ucap Tian. "Bahkan, untuk wajahmu sekali pun, tidak ada yang bisa menandingi keindahannya," gumamnya kemudian yang tentu saja tidak bisa di dengar oleh wanita itu.
Nisa tersenyum mendengar ucapan Tian. "Baiklah. Aku harus pulang sekarang, Tian. Dan terima kasih untuk malam ini."
Tian menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu, Nisa. Anggap saja itu sebuah tanggungjawab karena aku sudah membawamu ke tempat ini."
Nisa langsung tergelak saat mendengarnya. "Ternyata kau adalah sosok pria yang sangat bertanggungjawab ya, Tian."
"Tentu saja! Bahkan, di dunia ini tidak ada yang gratis, Nisa. Kecuali perasaan," ucap Tian.
"Kau salah, Tian. Justru perasaan lah yang harus kau bayar dengan sangat mahal, bahkan aku saja belum bisa membayar perasaan bahagia yang selama ini selalu aku impikan." suara Nisa terdengar sangat getir, seolah tersimpan rasa sakit yang teramat sangat di dalam hatinya.
Tian memandang Nisa dengan sendu. '**Se**benarnya apa yang selama ini sudah terjadi padamu, Nisa? Bolehkah kau membaginya denganku? Atau bisakah aku menjadi tempatmu bersandar? ' ingin sekali Tian mengatakan semua itu pada Nisa, tapi apalah daya mulutnya itu tidak punya hak untuk mengatakan semua.
Kemudian Nisa dan Tian beranjak pergi dari tempat itu menuju rumah keluarga Nisa. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, di mana semua orang sudah bersiap untuk terlelap di atas ranjang mereka masing-masing.
Begitu juga dengan Nita, yang saat ini sudah berbaring di atas ranjang setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku tidak menyangka kalau perusahaan tuan Abian akan bekerja sama dengan perusahaan lain, padahal perusahaan tuan Abian jauh lebih dari mampu untuk mengerjakan mega proyek itu." Nita terkejut saat mengetahui bahwa bukan hanya perusahaan Abian saja yang akan mengerjakan proyek kali ini.
"Memang sih, mega proyek ini sangatlah besar. Bahkan perusahaan lain sudah menunggu hari dimana proyek ini diresmikan. Padahal pembangunannya juga belum dimulai." Niat menggelengkan kepalanya. "Aku harap semua berjalan dengan lancar, dan tidak ada gangguan yang menghambat."
Kemudian Nita memejamkan kedua matanya dan langsung masuk ke dalam alam mimpi."
__ADS_1
****
Keesokan harinya, Nita sudah siap dengan pakaian kantornya sambil menentang tas yang berisi beberapa laporan. Dia masuk ke dalam mobil yang baru beberapa hari ini dia beli, dan rasanya sungguh sangat membahagiakan sekali.
Hidup Nita saat ini benar-benar bebas, tetapi bukan dalam artian buruk. Tidak ada lagi aturan di sana sini yang mengekangnya, apalagi amarah dan sikap posesif yang kerap kali dilakukan oleh mantan suaminya.
"Aku benar-benar bersyukur atas kehidupanku saat ini." dia lalu segera berangkat menuju perusahaan Abian sebelum terlambat.
Beberapa saat kemudian, Nita sudah sampai di tempat tujuan. Dia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam perusahaan tempatnya bekerja.
"Selamat pagi, Tuan." Nita menyapa Abian saat bersamaan hendak masuk ke dalam perusahaan.
Abian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum cerah. "Apa tadi malam kau mimpi indah, Nita? Hari ini wajahmu terlihat sangat cerah dan berseri-seri."
"Benarkah, Tuan?" Niat memegang wajahnya dengan kedua tangan sambil masuk ke dalam lift.
Abian menganggukkan kepalanya. "Ya. Biasanya juga seperti itu sih, hanya saja hari ini jauh lebih bersinar."
"Mungkin karena hari ini saya merasa bahagia, Tuan. Itu sebabnya wajah saya jadi bersinar." Nita merasa malu saat mengucapkannya.
Abian hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Nita. Kemudian mereka keluar dari lift setelah pintu lift itu terbuka.
"Siang ini kita akan ada pertemuan dengan perwakilan dari perusahaan Selaras Land, Tuan. Apa Anda ingin menentukan tempatnya?"
"Wah, Selaras Land ya? Itu berarti kita akan bertemu dengan Nisa."
Nita mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Abian. 'Nisa? Apa itu nama dari wanita yang akan bertemu dengan kami nanti?' tanyanya dalam hati.
"Pesan tempat di Sky hotel, makanan di sana sangat enak. Nisa pasti menyukainya."
__ADS_1
Nita kembali mengernyitkan keningnya, sepertinya wanita yang bernama Nisa itu istimewa untuk Abian. "Dia bahkan memikirkan makanan yang akan di makan oleh wanita bernama Nisa itu, lagi pula siapa sih Nisa ini? Kenapa namanya sama seperti nama gadis itu, tidak mungkin kan kalau mereka orang yang sama?" batinnya.
"Ada apa? Kenapa kau melamun?"
Nita tersentak kaget saat mendengar suara Abian. "Ti-tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya sedang berpikir tentang wanita yang Tuan sebutkan tadi, mungkin Tuan bisa sekalian memesankan makanan kesukaannya." entah kenapa dia jadi merasa tidak nyaman dan tidak suka.
"Em ... bisa saja sih, tapi sayangnya aku tidak tau. Bagaimana denganmu, apa kau tau makanan kesukaan Nisa?"
"Hah?" Nita menatap Abian dengan bingung. Jangankan makanan kesukaan, bahkan bentuk orangnya saja dia tidak tau.
"Kenapa kau kaget, kau kan lebih dekat dengannya. Pasti kau lebih tau dari pada aku,"
"Tunggu! Sepertinya ada yang mengganjal di sini." Nita lalu memikirkan semua ucapan Abian tadi membuat laki-laki itu menatapnya dengan bingung. "Apa Nisa yang Tuan maksud itu Anisa? Nisa satu kompleks kita?"
Abian langsung mengangguk. "Loh, apa kau tidak tau kalau perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan Selaras Land?"
"Sa-saya tau, hanya saja-"
"Nisa bekerja di perusahaan Selaras Land, dan dia akan bergabung dalam mega proyek itu bersama kita,"
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
YUK TINGGALKAN JEJAK MANISNYA 😘