Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 57 Memperbaiki semuanya


__ADS_3

"Kenapa kau berkata seperti itu pada Mira? Dia kan hanya sekedar menyebut nama Nisa saja." Mona merasa tidak terima saat Irwan memarahi putrinya.


"Ternyata selama ini sikapmu seperti ini ya, Mona?"


Mona menatap Irwan dengan tajam dan tidak mengerti. "Apa, apa maksudmu?"


"Selama ini aku menganggap anakmu sebagai anakku sendiri dan menyayanginya setulus hati, tapi ternyata kau tidak melakukan seperti apa yang aku lakukan." Irwan menggelengkan kepalanya.


Selama ini dia hanya bisa melihat kesalahan Nisa saja karena putrinya itu selalu ketus pada orang lain, tanpa sadar bahwa sebenarnya Nisa tidak melakukan apa-apa.


"Selama ini kau tidak pernah menyayangi Nisa dan menganggapnya sebagai anakmu sendiri, kau selalu membedakan antara anakmu dan juga anakku."


"Apa? Apa yang kau katakan, aku tidak-"


"Selama ini aku tidak sadar kalau kau melakukan hal seperti itu, Mona. Dan aku selalu menyalahkan Nisa yang selalu berdebat denganmu dan juga Mira, padahal bisa saja kalau kalian lah yang mengusik putriku."


Mona dan Mira tersentak dengan apa yang Irwan katakan. "Kenapa kau malah menuduh kami seperti itu? Selama ini aku selalu memperlakukan Nisa dengan baik, dia saja yang tidak bisa menghormatiku sebagai ibu sambungnya."


"Dia butuh waktu, Mona. Tapi kau tidak sabar untuk menunggu semua itu, hingga tidak peduli dan memilih untuk mengabaikannya. Kau bahkan sering melakukan sesuatu yang dia tidak suka, dan terus memancing keributan padanya hingga membuat aku marah."


Mona tergelak dengan apa yang Irwan katakan, dia kini tau kenapa laki-laki paruh baya itu mengatakan hal seperti ini. "Kau ingin mengkambing hitamkan aku, karena sudah lalai mengurus dia, hah?"


Irwan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mona. Hanya saja aku sudah sadar dengan semuanya, aku sadar dibalik kata-kata khawatir yang kau ucapkan untuk Nisa. Kau juga menyelipakan sesuatu yang bisa membangkitkan emosiku, hingga aku terus saja menyakiti hati putriku."


Mona mengepalkan kedua tangannya dengan erar. "Jangan menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang kau lakukan, Irwan."

__ADS_1


"Aku tidak menyalahkanmu, Mona. Aku sadar kalau semua ini adalah salahku, hanya saja kau semakin memantik api antara aku dan Nisa hingga hubungan kami semakin renggang."


Mona terdiam karena tidak bisa mengucapkan apapun lagi. Hatinya terasa panas dengan emosi yang menguasai jiwa.


"Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku, Mona. Dan aku akan sangat senang jika kau juga melakukannya, yaitu menganggap dan menyayangi Nisa sebagaimana anakmu sendiri. Aku pergi dulu." Irwan segera pergi menuju rumah Nita untuk bertemu dengan Aini.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Ma. Kenapa ayah jadi seperti itu?" tanya Mira. Dia baru berani mengeluarkan suaranya saat Irwan sudah pergi.


"Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Padahal kita sudah berhasil membuat Nisa pergi, tapi Irwan malah kerasukan setan seperti itu," ucap Mona dengan kesal. Dia harus kembali mencari cara agar hubungan mereka tidak baik, dan dia bisa menguasai semua harta Irwan.


Beberapa saat kemudian, Irwan sudah sampai di rumah Nita karena memang jaraknya sangat dekat. Dia bergegas turun dari mobil dan segera berjalan ke arah rumah itu.


Irwan segera memencet bel yang ada di sana, dan terdengar suara dari dalam rumah itu.


"Loh, Mas Irwan. Mari masuk." Aini membuka pintunya dengan lebar untuk mempersilahkan Irwan masuk, dan terlihat seorang lelaki paruh baya sedang berjalan keluar dari dapur.


Aini menganggukkan kepalanya dan ikut mengulas senyum tipis. "Perkenalkan, Mas. Ini suamiku."


Lelaki paruh baya yang baru tiba di samping Aini tersenyum sambil mengulurkan tangan. "Saya Hamdan, suami Aini."


Irwan menyambut uluran tangan itu sambil memperkenalkan diri, kemudian mereka sama-sama duduk di sofa yang ada di tempat itu.


"Maaf kalau saya menganggu kalian," ucap Irwan dengan tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, tuan Irwan. Saya tau jika Anda dan Aini ingin membicarakan Nisa, dan saya juga ingin sekali bertemu dengan putri bungsu saya itu."

__ADS_1


Ucapan Hamdan berhasil menusuk hati Irwan. Laki-laki itu saja yang hanya ayah tiri tampak bersemangat untuk bertemu Nisa, tetapi dia yang ayah kandung malah menyia-nyiakannya.


"Saya senang mendengarnya, Tuan."


Obrolan mereka terpaksa berhenti  karen kedatangan Aini yang menyajikan minuman dan makanan ringan untuk mereka.


"Jadi bagaimana, Mas? Apa kau sudah bertemu dengan Nisa?" tanya Aini.


Irwan menggelengkan kepalanya. "Belum, Aini. Dia sama sekali tidak bisa dihubungi, dan nanti aku berniat untuk meminta bantuan dengan Tian untuk menemuinya.


Aini menganggukkan kepalanya. "Aku juga ingin meminta bantuan pada Nita, tapi aku takut jika itu malah akan semakin membuat Nisa merasa tidak suka.


Irwan menyetujui apa yang Aini katakan. Jika mereka melakukan sesuatu, maka Nisa pasti malah akan semakin membenci mereka. Namun jika tidak, mau sampai kapan mereka seperti ini?


"Berusaha untuk menemuinya dan meminta maaf pada Nisa, itu akan jauh lebih baik dari pada berdiam diri. Mungkin awalnya dia tidak akan menerima dan akan semakin memberontak, tapi yakinlah suatu saat nanti dia akan mengerti dan merasakan ketulusan kalian. Entah itu cepat atau lama, tapi kalian juga harus bersabar untuk menunggunya," ucap Hamdan. Tentu dia sudah tahu apa yang terjadi, dan dia mengerti bagaimana sakit dan hancurnya perasaan Nisa.


"Anda benar, Tuan. Penolakan dan kemarahan Nisa adalah hukuman untuk apa yang sudah kami lakukan, dan itu tidak seberapa dibanding rasa sakit yang selama ini dia rasakan." Irwan menundukkan kepalanya dengan sendu. Sekarang dia hanya berharap semoga Nisa sehat dan aman di mana pun dia berada.


"Kalian berdua tidak perlu khawatir. Cepat atau lambat, Nisa pasti akan membuka hati untuk kalian. Menurut Nita, Nisa adalah gadis yang baik dan juga berempati tinggi pada orang lain. Dia pasti tidak akan tega jika terus menyimpan dendam dan amarah untuk kalian, dan kalian tidak perlu cemas. Ada aku dan Nita yang akan membantu kalian."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2