
Tian sudah sampai di kediaman Irwan, dia sengaja datang ke rumah itu sebelum pergi bekerja tujuannya untuk menjenguk dan melihat keadaan Nisa. Ya, setelah kejadian semalam yang Nisa alami, Tian sangat khawatir jika gadis itu pasti mendapatkan masalah yang besar.
"Huft, aku harap semuanya baik-baik saja."
Tian menekan tombol yang ada di dekat pintu rumah.
Ceklek!
Mona keluar dari rumah tersebut dengan senyum tipis.
"Tian, tumben pagi-pagi kau bertamu ke rumah ini. Ada apa, Nak?" tanya Mona bersikap baik karena putrinya menyukai Tian.
"Em, Nisanya ada, tante?"
"Tidak!" jawab Irwan dengan cepat sambil berjalan keluar dari dalam.
Tian mengerutkan dahinya, dia penasaran dengan jawaban tidak yang Irwan lontarkan.
"Selamat pagi, Om. Maaf, saya datang kesini untuk melihat keadaan Nisa."
"Tapi anak itu sudah tidak lagi tinggal rumah ini!" sahut Irwan ketus.
Hal itu membuat Tian cukup paham dan kaget, sesuatu yang dia takuti pun akhirnya terjadi.
"Apa maksud, Om?"
"Nisa sudah pergi dari rumah ini jadi kau tidak perlu lagi berharap bisa bertemu dengannya." jelas Irwan.
"Tapi, om. Kemana Nisa pergi? Bukankah kakinya masih sakit, kenapa om membiarkan dia pergi dari rumah?"
"Itu semua kemauannya, Om tidak memaksa sedikit pun." titah Irwan memutarkan balikkan fakta.
__ADS_1
'Astaga, Nisa. Kau dimana? Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir denganmu.' ucapnya dalam hati.
Tian diam mematung hingga suara Mona menyadarkan dirinya.
"Tian, mengapa kau mencari yang tidak ada? Di rumah ini masih ada Mira, kau bisa menemuinya kapan saja." ucap Mona diselingi senyum manis.
"Maaf, tante, om. Saya permisi," tanpa menjawab ucapan dari Mona, Tian pun berlalu pergi dengan rasa campur aduk yang ada di dalam hatinya.
Mona mendegus kesal saat Tian tidak mengindahkan ucapannya dan malah memilih untuk pergi.
'Dasar gadis si*al*an! Dia sudah pergi dari rumah ini tetapi masih saja membuatku kesal.' batin Mona memaki Nisa.
Tian melajukan mobilnya pergi dari rumah Irwan, dia tidak bisa berpikir jernih sekarang dan tujuannya saat ini adalah rumah Abian. Dia memutuskan untuk bertanya pada Abian karena Omnya itu tinggal satu kompleks dengan Nisa.
Sesampainya di rumah Abian, dia melihat mobil yang masih terparkir di halaman rumah. Beruntungnya jam masih menunjukkan pukul setengah delapan dan Abian tentu saja belum pergi ke kantor.
"Om, Om Abian!" teriak Tian tanpa mengetuk pintu atau pun menekan tombol bel.
Abian membuka pintu dan dia kaget melihat keponakannya yang sudah berada di depan rumah.
"Om, aku sedang pusing dan bingung," Tian langsung masuk ke dalam rumah Abian tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Hei, dasar keponakan kurang ajar!" cibir Abian kesal dengan kelakuan keponakannya itu.
Terlihat Tian duduk di sofa dengan memangku sebelah kakinya sambil tangan memijit pelipis.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Abian menghampiri Tian dan duduk di sebelah pemuda itu.
"Nisa pergi dari rumah, Om."
"Apa!" pekik Abian kaget hingga suaranya membuat Tian terperanjat.
__ADS_1
"Om, bisa tidak jangan membuatku jantungan?" kesal Tian memandang ke arah si duda tampan.
"Aku hanya kaget saja mendengar ucapanmu, Tian. Memangnya ada apa? Kenapa Nisa bisa pergi dari rumahnya?"
"Aku tadi baru saja dari rumah Nisa karena ingin melihat keadaannya." ucap Tian menghela napas pelan, lalu mulai menceritakan semua yang dia ketahui sore kemarin.
Setelah selesai bercerita, Abian menggelengkan kepalanya.
"Pasti ada problem di keluarga itu."
"Aku juga menyakini itu, Om. Tapi satu yang saat ini sedang ku pikirkan yaitu keberadaan Anisa. Orang tuanya tidak tahu dia pergi kemana dan hal itu membuatku semakin merasa khawatir." keluh Tian jujur.
"Kau harus tenang, nanti sore sepulang dari kantor kita akan bersama-sama mencari Nisa. Aku juga ikut khawatir dengan keadaannya."
Tian hanya menganggukkan kepala.
'Aku harap tidak terjadi apa pun padamu, Nisa. Keadaanmu yang masih sakit membuatku tidak bisa berhenti memikirkan dirimu.' batin Tian dalam hati.
'Semoga saja tidak terjadi sesuatu apa pun pada Anisa, dia adalah wanita yang kuat dan tangguh. Aku yakin dia bisa menjalani semuanya dengan keikhlasan juga kesabaran.' batin Abian.
Kedua pria beda usia itu sama-sama terdiam memikirkan keadaan Nisa.
****
Di tempat lain, Nolan pun mendoakan kabar jika Nisa telah pergi dari rumah. Dia berpikir jika Nisa pergi bersama dengan Tian.
"Aku yakin gadis itu pasti pergi bersama dengan pria yang dia bawa kemarin sore. Si*al! Kenapa dia harus memilih pria itu sementara aku lebih dari segalanya dibandingkan pria brengsek itu." kesal Nolan dengan tatapan tajam lurus ke depan.
Dia tersenyum dan akan mencari ide untuk memisahkan Nisa juga Tian. Padahal nyatanya, kedua manusia beda gender itu tidak memiliki hubungan apa pun melainkan hanya sebatas teman. Namun, kecemburuan dan keirian Nolan membuatnya berpikir jelek dan berburuk sangka akan kedekatan keduanya.
•
__ADS_1
•
TBC