
"Kau bertanya apa yang ayah lakukan? Tentu saja untuk mengajakmu pulang."
"Kenapa? Kenapa Ayah mengajakku pulang?" tanya Nisa dengan tajam membuat Irwan mengernyitkan kening. "Jangan berubah menjadi seorang ayah yang peduli dan juga perhatian, karena itu sangat tidak cocok sekali dengan Ayah."
"Apa? Kau bilang apa?" Irwan kembali tersulut emosi.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah, hem?" Nisa terkekeh pelan membuat semua orang menatap penuh gelsah. "Selama ini Ayah tidak pernah peduli atau pun memikirkanku, Ayah juga selalu memperlakukan aku dengan buruk, Ayah bahkan memaksaku untuk menikah dengan laki-laki yang tidak aku kenal dan tidak aku sukai. Lalu sekarang, Ayah mengusirku dan sama sekali tidak mengasihaniku. Bukankah akan sangat lucu jika Ayah sekarang peduli padaku?"
Irwan terdiam dengan apa yang Nisa katakan, lidahnya terasa keluh untuk membantah apa yang gadis itu ucapkan karena memang itulah yang selaa ini dia lakukan.
"Aku sudah cukup paham dengan semua sifat Ayah padaku, dan aku sudah terbiasa. Jadi, jangan mengubah semua itu, karena aku juga tidak akan mengubah atau pun membuka hati untukmu."
Deg.
Ucapan Nisa benar-benar menusuk hati semua orang yang ada di tempat itu, terutama Irwan yang menatap penuh sesal.
"Dan untukmu, juga." Nisa lalu beralih ke arah Aini yang sudah meneteskan air matanya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, hah? Kenapa kau tiba-tiba muncul dalam hidupku dan menambah penderitaan yang aku rasakan?"
Aini terdiam karena tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-katanya.
"Dan apa itu tadi? Kau bertingkah seolah-olah tidak bersalah dalam hal ini. Lalu menurutmu, siapa yang salah? Aku?"
Aini menggelengkan kepalanya dengan terisak, sungguh dia sama sekali tidak ingin semua ini terjadi.
__ADS_1
Nita yang sudah tidak tahan dengan semuanya berniat untuk menghampiri Nisa, tetapi tangannya dicekal oleh Abian membuat dia merasa heran.
"Jangan ikut campur, Nita! Biarkan Nisa menyelesaikan urusan keluarganya sendiri."
"Tapi, aku tidak-"
"Kasihanilah gadis itu, kita tidak tau betapa sakit dan hancurnya dia selama ini," potong Abian. Dia merasa sangat kasihan sekali dengan Nisa, dan tidak menyangka kalau selama ini gadis itu menjalani kehidupan yang kejam.
"Aku mohon cukup sampai di sini. Kau menyalahkan ayah karena tidak merawatku dengan baik, sementara kau sendiri jauh lebih buruk dari apa yang mantan suamimu itu lakukan. Setidaknya dia masih mau menampungku walaupun aku harus membayarnya dengan penderitaan." ucap Nisa dengan bibir bergetar, tapi dia berusaha untuk tetap menahan air matanya.
"Tidak, Nisa. Tidak seperti itu,"
"Apa? Apa lagi yang ingin kau katakan, apa kau mau membela diri?" Nisa tersenyum sinis. "Aku tau kalau kau pergi karena perselingkuhan ayah, dan aku tau kalau kau tidak mendapatkan hak asuh atas diriku. Tapi kenapa, kenapa kau tidak mengatakan satu kata pun saat meninggalkanku, hah?"
Aini semakin terisak membuat tubuhnya terhuyung ke belakang, dengan cepat Nita menahan tubuhnya sebelum jatuh ke lantai. "Maafkan mama, Nak. Mama tidak-"
"Apa kau tau bagaimana perasaanku saat itu, hah? Aku merasa sakit dan hancur. Aku merasa dibuang oleh ibuku sendiri, dan aku sama sekali tidak diharapkan oleh siapa pun. Kenapa? Kenapa tidak kalian bunuh saja aku waktu itu?"
Untuk pertama kalinya Irwan menatap Nisa dengan penuh luka, hatinya terasa sakit dengan semua yang putrinya itu katakan.
"Setiap jam, setiap hari, setiap bulan dan tahun. Aku terus menunggumu, Ma. Aku terus menunggu kedatanganmu untuk menjemputku, aku juga berharap kalau Ayah mau membagi sedikit saja tentangmu padaku. Tapi apa, apa yang aku dapatkan? Kalian sama sekali tidak peduli denganku, dan kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri!" teriak Nisa dengan air mata yang sudah tumpah diwajahnya.
Aini menangis dengan tersedu-sedu karena merasa menyesal dengan apa yang telah dia lakukan, begitu juga dengan Irwan.
__ADS_1
"Sekarang kalian saling menyalahkan atas apa yang terjadi padaku. Padahal yang sesungguhnya, kalian berdualah yang telah menyakitiku. Kalian memberikan penderitaan dan neraka bagiku. Andai aku bisa memilih, aku tidak akan pernah mau memiliki orang tua seperti kalian. Aku benci kalian berdua, aku sangat membenci kalian." Nisa langsung berbalik dan berlari keluar dari rumah itu membuat kedua orangtuanya panik.
"Tunggu, Nisa!" teriak Aini dan Irwan secara bersamaan, tetapi Nisa tetap pergi dan tidak menghiraukan teriakan mereka.
"Maafkan mama, Nisa. Maafkan mama, huhuhu." Aini menangis dalam pelukan Nita, sementara Irwan juga terduduk di atas sofa dengan air mata yang membasahi wajah.
Setelah kepergian Nisa, suasana di rumah itu menjadi hening. Baik Aini dan Irwan sama-sama terdiam menyesali apa yang sudah mereka lakukan, sementara Nita dan Abian juga tidak tahu harus mengatakan apa saat ini.
"Maafkan aku, Aini. Maafkan aku." tiba-tiba Irwan buka suara membuat Aini, Nita dan juga Abian melihat ke arahnya. "Semua ini gara-gara aku, karena keegoisanku, anakku sendirilah yang menjadi korbannya."
Aini tercengang dengan apa yang Irwan katakan, dia tidak menyangka kalau laki-laki itu akan berkata seperti itu.
"Maafkan aku, aku sudah menyakitimu. Dan sekarang aku juga menyakiti anak kita, aku benar-benar sangat menyesal." lirih Irwan sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
Aini menatap laki-laki itu dengan sendu. "Apa yang Nisa katakan benar, Irwan. Semua ini terjadi karena kita, karena keegoisan kita sehingga Nisa lah yang menjadi korban. Anak kita sudah banyak menderita karena perbuatan kita sendiri. Sungguh aku sangat menyesal, kenapa dia harus terlahir dari ibu yang buruk sepertiku?"
"Itu tidak benar, Aini. Kau adalah istri dan ibu yang baik, hanya saja takdir yang membuat semua ini terjadi."
Suasana pun diselimuti oleh keharuan.
•
•
__ADS_1
TBC