Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 33 Sesuatu yang tidak terduga


__ADS_3

Nita menatap Nisa dengan sendu. Entah karena sedang merasa sedih atau dalam keadaan seperti ini, yang pasti dia senang karena gadis itu tidak menolak kehadirannya.


"Aku tidak tau apa yang sudah terjadi padamu, Nisa. Tapi aku ikut sedih dengan apa yang sedang kau rasakan sekarang, dan aku berharap semoga kesedihanmu ini segera berganti dengan kebahagiaan." ucap Nita tulus.


"Itu tidak akan terjadi." Nisa tersenyum dengan sinis. "Tidak ada yang namanya bahagia dalam takdirku. Sejak dulu, hidupku selalu seperti ini. Mungkin, aku memang tidak pantas untuk merasakan kebahagiaan. Dan itu terlalu mahal untukku."


Nita langsung menggeser tubuhnya sampai hanya tinggal satu jengkal saja dari tubuh Nisa. Dia lalu menggenggam kedua tangan gadis itu membuat Nisa menolehkan ke arahnya.


"Jangan berkata seperti itu, Nisa. Semua orang pasti akan mendapatkan kebahagiaan, walaupun saat ini kau belum merasakannya." Nita mencoba menguatkan Nisa.


"Tau apa kau tentang kebahagiaan orang lain, Mbak?" Nisa menarik tangannya dari genggaman Nita sambil membuang muka. "Kalau pun yang kau katakan itu benar, mau berapa lama lagi aku menunggu kebahagiaan itu datang? Mau sampai sehancur apa lagi agar aku bisa mencapai kebahagiaan itu, hah?"


Nita menghela napas kasar mendengar ucapan Nisa. Dia tau kalau semua ini pasti sangat tidak mudah untuk gadis itu, apalagi sama sekali tidak ada orang yang berada di sisinya.


"Baiklah. Lupakan tentang kebahagiaan atau apa pun itu." Nita memilih untuk tidak lagi membahasnya, karena dalam situasi seperti ini. Nisa pasti tidak akan bisa menerima apa yang dia katakan.


"Jadi sekarang, kau mau ke mana, Nisa?" Nita menunjuk ke arah tas yang ada di sepeda motor Nisa. "Apa kau pergi dari rumah?"


"Tidak. Aku diusir!"


"Apa?" Nita sangat terkejut sekali saat mendengarnya, dia bahkan jauh lebih terkejut saat mendengar jawaban Nisa yang sangat santai. "Terus, kau mau pergi ke mana sekarang?"


Nisa beranjak bangun dari bangku itu membuat Nita juga ikut berdiri dan memandangnya dengan heran. "Aku akan mencari hotel. " dia berjalan ke arah sepeda motornya dengan diikuti oleh Nita.


"Bagaimana kalau kau ke rumahku saja?"


Nisa yang hendak naik ke atas motornya tidak jadi melangkahkan kaki, dia lalu melirik ke arah Nita dengan tajam. "Mbak bilang apa?"


"Aku mengajakmu untuk ke rumahku saja dari pada ke hotel. Lagi pula, aku juga sendirian di rumah." ucap Nita.

__ADS_1


"Terima kasih atas tawarannya, Mbak. Tapi, aku masih bisa mencari hotel yang ada di dekat sini," tolak Nisa, dia tidak mau merepotkan orang lain apalagi orang itu adalah Nita.


"Kenapa kau menolaknya? Apa kau tidak sudi, untuk menginjakkan kakimu di gubuk deritaku?"


Nisa mengernyitkan keningnya dengan tatapan tajam. "Jangan membuat Drama, Mbak. Aku tidak akan terpancing."


"Benarkah? Tapi aku sedang serius, loh. Ayo, kita ke rumahku saja!"


"Tunggu, Mbak!"


Nita langsung menarik tas Nisa dan membawanya masuk ke dalam mobil. "Datang ya, aku akan menunggu di rumah." Nita melambaikan tangannya membuat Nisa kesal.


"Kembalikan tasku! Kenapa kau seenaknya saja sih?"


"Daah!" Nita melajukan mobilnya dengan tidak memperdulikan kekesalan Nisa, toh dia sudah biasa dengan kemarahan gadis itu.


Nisa mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat kelakukan Nita, sampai akhirnya dia terpaksa juga pergi ke rumah wanita itu.


"Sekarang kembalikan tasku, aku harus segera-"


"Apa kau tidak bisa diam? Dari tadi kok berisik sekali," seru Nita sambil beranjak dari ruangan itu menuju dapur, meninggalkan Nisa yang menatapnya dengan kesal.


Beberapa saat kemudian, Nita kembali ke ruangan itu dengan membawa minuman dan makanan ringan. Dia meletakkanya di atas meja, tepat berada di depan Nisa.


"Minumlah. Setelah ini, aku akan mengantarmu ke kamar."


"Tidak, Mbak. Aku tidak-"


"Aku memaksa, Nisa! Memangnya salah, kalau kau tinggal di sini? Lagi pula kita masih satu kompleks, kita juga sedang mengerjakan proyek bersama. Jadi akan lebih mudah jika kau tinggal bersamaku." bujuk Nita.

__ADS_1


Nisa menghela napas dengan kasar. Sebanyak apapun dia menolak, Nita pasti akan tetap memaksakan apa yang wanita itu inginkan.


"Baiklah, aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Tapi, aku akan membayar biaya tempat tinggal juga segala kebutuhanku sendiri. Apa Mbak setuju?"


"Tentu saja kau harus membayarnya. Gajimu bahkan bisa lebih tinggi dariku, kenapa pula aku yang menanggung beban hidupmu?" gurau Nita dengan wajah serius.


"Cih." Nisa mendengus sebal saat mendengar apa yang Nita ucapkan, sementara Nita sendiri tersenyum senang karena gadis itu bersedia untuk tinggal bersamanya.


Setelah Nisa memutuskan untuk tinggal di rumahnya, Nita segera mengajak gadis itu ke kamar tamu. Rumahnya memang tidak sebesar rumah Nisa, bahkan tidak sebesar rumahnya dulu bersama Riko. Namun, rumah itu sangat nyaman dan juga lengkap.


"Ini kamarmu, Nisa. Semoga kau betah tinggal bersamaku." Nita mempersilahkan Nisa untuk masuk ke dalam kamar itu. "Maaf kalau kamarnya tidak sebagus di rumahmu."


"Tidak apa-apa, aku suka kok." Nisa mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sambil tersenyum tipis.


"Syukurlah. Kalau gitu kau bisa istirahat Nisa, dan kamarku ada di sebelah kamar ini. Panggil saja jika kau butuh sesuatu."


Nisa menganggukkan kepalanya membuat Nita beranjak keluar dari kamar itu dan menutup pintunya.


Nisa merebahkan tubuhnya ke ranjang yang sedang dia duduki, matanya menatap langit-langit kamar sambil berpikir tentang apa yang sedang terjadi saat ini.


"Aku tidak menyangka kalau akhirnya akan tinggal bersama dengan mbak Nita. Sungguh permainanMu ini sangat tidak terduga, Tuhan."





Tbc.

__ADS_1



VISUAL NITA


__ADS_2