Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 6 Berkunjung


__ADS_3

Keesokan harinya, Nita pergi berkunjung ke rumah sang Mama karena dia masih merasa kesal dengan sikap Riko kemarin sore. Bahkan, pada malam hari pun keduanya hanya diam saja tanpa ada yang ingin mengalah untuk berbicara. Nita merasa lelah karena harus mengalah dan akhirnya membuat Riko sedikit manja. Sesampainya di rumah sang Mama, Nita mengetuk pintu dan berteriak memanggil Mamanya.


Kebetulan, jarak rumah Nita dan Mama hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit dari kompleks perumahan elit yang Nita tempati.


"Mama! Buka pintunya!" teriak Nita seraya mengetuk pintu, tidak ada sahutan sama sekali.


Nita masih setia menunggu di depan pintu, dia mengintip dari balik jendela dan rumah itu terlihat sepi.


"Kemana Mama? Masih pagi begini kok rumahnya terlihat sepi?" gumam Nita bertanya-tanya.


Dia berniat kembali mengetuk pintu tetapi dirinya mengurungkan niat karena pintu telah dibuka.


Mama Nitaβ€” Aini, keluar dari rumah dan dia terlihat kaget melihat Nita yang ada di rumahnya.


"Sayang, kau datang berkunjung? Kenapa tidak memberitahu Mama jika kau ingin ke rumah ini?" tanya Aini dengan nada lembut, dia memeluk tubuh Nita dan melakukan cipika cipiki.


Aini mengajak Nita masuk ke dalam, dia heran karena wajah Nita terlihat murung. Setelah duduk di sofa, Aini pun segera bertanya tentang keadaan Nita.


"Nak, apa kau baik-baik saja? Jika ada masalah, ceritakan pada Mama," ucap Aini sambil memegang tangan Nita yang saling bertautan.


Nita menghela napas, dia tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya kepada sang Mama.


"Nita cuma sedikit suntuk di rumah, Ma. Mas Riko tidak mengizinkan Nita bekerja, padahal Nita ingin sekali bisa kerja lagi seperti dulu. Lagian, kami belum memiliki anak, jadi di rumah itu serasa seperti kuburan. Sepi!" keluh Nita.


Nita takut jika sang Mama mengetahui hal yang sebenarnya, maka urusan akan semakin panjang. Meskipun Aini adalah Mama tiri Nita, tetapi Aini sangat menyayangi Nita seperti putri kandungnya sendiri. Bahkan, Nita sudah menjadikan Aini sebagai teman curhatnya sedari dulu. Namun, semenjak menikah dengan Riko, Nita tidak pernah mengatakan apa pun masalah dalam rumah tangganya.


Nita sadar jika orang tua sudah ikut campur dalam urusan rumah tangga, pasti semuanya akan rumit.


"Nak, ucapan suami memang tidak boleh di lawan. Kau tau 'kan, surga istri ada di telapak kaki suaminya dan kau tidak boleh durhaka kepada suamimu." ingat Aini mengelus punggung Nita.

__ADS_1


Nita melirik Aini seraya mengangguk, dia memeluk tubuh Aini.


"Nita paham, Ma." jawab Qanita pasrah.


Satu jam kemudian.


Nita masih betah berada di rumah orang tuanya, dia bahkan enggan untuk pergi jika sudah berada disana. Tak lama kemudian, ponsel milik Nita berdering dan dia menjawab panggilan masuk dari Riko.


"Halo, ada apa, Mas?"


πŸ“±"Kau dimana? Kenapa tidak ada dirumah?" tanya Riko dengan nada curiga.


Nita memutar bola matanya jengah, dia yakin jika saat ini Riko memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya.


"Aku di rumah Mama." sahut Nita singkat.


πŸ“±"Benarkah?" tanya Riko lagi untuk memastikan.


πŸ“±"Aku sengaja pulang karena perasaanku tidak enak dan aku terus memikirkan tentangmu."


Helaan napas Nita terdengar kasar, dia memejamkan mata sejenak agar tidak terpancing emosi. Sifat posesif Riko semakin merajalela.


"Mas, kau bisa datang ke rumah Mama jika kau tidak percaya padaku."


Riko tidak mengatakan apa pun, dia hanya berkata sampai jumpa lalu mematikan sambungan telepon. Sementara Nita, dia merebahkan diri dengan kasar di atas ranjang empuknya. Sejenak pikirannya melayang jauh entah kemana, dia tidak menyangka jika Riko akan semakin menjadi seperti ini. Nita harus banyak bersabar dan tidak tahu kapan batas kesabarannya habis.


"Apa aku semurah itu, Mas? Apa kau pikir aku itu perempuan gampangan?" Nita bergumam dengan tetesan air mata yang mengiringi kesedihannya.


Dua jam kemudian.

__ADS_1


Pintu kamar milik Nita di ketuk dan ternyata Aini memanggilnya karena Riko datang untuk menjemput. Mau tidak mau, Nita berjalan keluar dari kamar dengan langkah lesu. Sesampainya di lantai bawah, dia dapat melihat Riko yang memandangnya lekat.


"Sayang, aku sangat khawatir denganmu," ucap Riko beranjak dari sofa.


Nita hanya tersenyum tipis, sementara Aini mengerutkan dahi.


"Apa Nita tidak memberitahumu jika dia ingin berkunjung ke rumah Mama?"


Riko menggeleng. "Saya tadi pulang karena harus mengambil sesuatu yang tertinggal, dan sesampainya di rumah, saya tidak menemukan Nita. Saya khawatir dan langsung menghubungi dia, lalu Nita mengatakan jika sedang berada di rumah Mama. Untuk memastikannya, saya pun menjemput kesini. Tidak masalah 'kan, Ma?" tanya Riko merasa tidak enak hati.


"Tentu saja tidak masalah." jawab Aini.


Riko melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Maaf, Ma. Saya tidak bisa berlama-lama karena tadi saya hanya di perintah untuk mengambil berkas penting yang tertinggal di rumah."


"Jadi, kalian berdua ingin langsung pulang?"


Riko mengangguk.


Aini memberikan izin lalu Riko dan Nita pergi dari rumah tersebut dengan mengendarai mobil perusahaan. Di dalam mobil, Riko dan Nita hanya saling diam. Suasana terlihat canggung dan dingin tidak seperti biasanya. Bahkan, Nita hanya menatap ke arah jendela.


β€’


β€’


β€’


TBC

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹



__ADS_2