Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 40 Bertemu kembali


__ADS_3

Nisa dengan semangat membuka pintu, tak lupa dia juga mengembangkan senyum manisnya agar Mama Nita menganggapnya sebagai gadis yang ramah. Namun, saat pintu itu terbuka, betapa kagetnya Nisa kala seorang wanita paruh baya di depannya saat ini adalah orang yang sangat dia kenal. Keduanya saling berpandangan dan senyum di bibir Nisa pun surut begitu saja.


Tak ada kalimat yang terlontar dari bibir keduanya, mata Nisa memanas dan dadanya naik turun menandakan dia sedang marah. Sementara Nita, dia heran karena Nisa tidak kunjung mengajak Makanya masuk.


"Nisa? Ada apa?" tanya Nita sambil berjalan ke arah pintu.


"Nisa?" lirih Aini menatap Nisa dengan sendu.


Gadis itu tetap membisu, dia enggan membuka mulutnya untuk menjawab panggilan dari Aini.


"Mama!" Nita tersenyum bahagia dan girang, dia langsung menghambur ke pelukan Aini sambil mencium pipi kanan dan kirinya.


Aini pun tersenyum tipis, dia yang awalnya ingin melihat keadaan sang putri kini malah pikirannya kacau karena Nisa.


"Ma, aku senang sekali bisa bertemu dengan Mama. Terima kasih ya karena Mama udah mau menjenguk aku," Nita mengurai pelukan.


"Sama-sama, sayang. Mama sangat khawatir dengan keadaanmu," sahut Aini.


Nita mengajak Aini masuk ke dalam, tetapi dia heran karena melihat perubahan sikap Nisa yang hanya diam saja. Dirinya pun berinisiatif memanggil Nisa dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Nisa! Kenapa kau terus berdiri di depan pintu? Bukankah kau ingin bertemu dengan Mamaku? Lihatlah, beliau sudah ada di rumah ini dan kalian bisa saling berkenalan." ucap Nita tak tahu jika Aini adalah Ibu kandung dari Nisa.


Lamunan Nisa buyar, matanya merah dan air mata hampir saja jatuh dari sana. Gadis itu dengan cepat menahan rintikan air mata yang ingin terjatuh, dirinya menarik napas dan menghembuskan dengan perlahan, lalu dia berbalik badan dengan ekspresi yang sulit untuk dibaca.


"Nisa, ada apa?" tanya Nita namun tetap tidak di jawab oleh Nisa.

__ADS_1


Gadis itu dengan cepat berjalan ke arah laptopnya, dia mengambil laptop itu dan bekas lainnya yang ada di atas meja. Tentu saja hal itu membuat Nita bingung sekaligus terkejut, dia menatap Nisa dengan penuh keheranan.


"Nisa, kau mau kemana? Bukankah kau menunggu kedatangan Mamaku? Nisa!" teriak Nita memanggil Nisa yang sudah keluar dari rumah. Gadis itu sama sekali tidak menghiraukan perkataan Nita.


Aini merasa bersalah, dia segera mengejar Nisa dan itu semakin membuat Nita bingung akan apa yang terjadi.


"Nisa! Nisa tunggu!" teriak Aini membuat langkah Nisa terhenti.


Gadis itu memejamkan matanya sejenak, rasa sesak melanda di hatinya, dia benar-benar tidak habis pikir jika wanita yang menjadi Ibu tiri Nita adalah Ibu kandungnya.


"Nisa, kau Nisa putriku?" lirih Aini berjalan mendekat ke arah Nisa.


Nisa menaikkan sebelah tangannya dan membuat langkah Aini berhenti seketika.


"Jangan pernah mengatakan jika aku adalah putrimu! Berhenti disana dan jangan mendekat!" teriak Nisa penuh emosi.


"Nisa, apa yang kau katakan, Nak? Kau, kau benar Anisa putriku 'kan?" tangan Aini terulur ingin menyentuh lengan Nisa, tetapi dengan cepat gadis itu menjauhkan tangannya.


"Jangan menyentuhku!" teriak Nisa seperti kesetanan.


Nita pun hanya diam saja melihat interaksi antara Mamanya dan Nisa. Dia benar-benar syok sekaligus tidak habis pikir jika ternyata selama ini anak kandung dari Aini adalah Nisa.


"Menjauh dariku! Kau bukanlah Mamaku, kau bukan orang tuaku!" ucap Nita dengan nada tinggi dan urat leher menegang.


Air mata Aini semakin menetes deras, hal itu membuat Nita tidak sanggup melihat Mamanya bersedih hingga dia memutuskan untuk menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Ma?" seru Nita memegang pundak Aini.


Wanita paruh baya itu hanya bisa menangis, dia sadar dirinya salah dan dia menerima apa pun yang ingin Nisa lakukan padanya.


"Nisa, biar bagaimanapun Mama ini adalah Ibu kandungmu! Kau tidak boleh melupakan itu, kau lahir dari rahimnya dan dia pula yang menyusui juga membesarkanmu!" ucap Nita hilang kendali karena melihat air mata Mamanya.


"Tau apa kau, hm? Tau apa dirimu tentang masalah hidupku? Dia, dia ikut andil dalam keterpurukan yang aku jalani saat ini! Kemana dia saat aku bersedih, hah? Kemana dia saat aku butuh sandaran dan pelukan kasih sayang? Tidak ada, dia tidak ada untukku," Nisa mencoba tegar, dia terus menahan air matanya yang ingin tumpah ruah disana.


"Nyonya, apa Anda tahu jika selama ini aku tersakiti? Aku sendirian, tidak ada yang mencurahkan rasa kasih sayangnya untukku, tidak ada yang tulus menganggap aku sebagai seorang anak!" Nisa menggelengkan kepalanya.


"Semenjak kau pergi, disitulah hidupku menjadi hancur. Kau sama sekali tidak peduli denganku, kau hanya peduli pada keluarga barumu saja!" Nisa melirik ke arah Nita dengan tatapan tajam.


"CUKUP, NISA!" pekik Nita habis kesabaran. "Apa kau sudah selesai mengungkapkan kejelekan tentang Mamamu?" lanjutnya sambil mendekati Nisa hingga jarak meraja hanya beberapa centimeter saja.


"Sekarang kau harus dengarkan aku baik-baik! Apa kau tau, selama ini Mama selalu memantaumu dari jauh. Dia peduli denganmu, dia sangat menyayangimu. Jika dia tidak mengingat tentang hak asuhmu yang jatuh ke tangan Tuan Irwan, Mama pasti sudah membawa dirimu ikut bersamanya." jelas Nita menyadarkan Nisa.


Gadis itu hanya diam saja dengan raut wajah yang masih penuh keemosian.




TBC


YUK MAMPIR KE NOVEL DARI TEMAN OTHOR 🌹

__ADS_1



__ADS_2