Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 56 Perubahan yang terjadi


__ADS_3

Tian menghela napas kasar. Sepertinya Nita tetap tidak mau memberitahukan apa pun padanya, dan dia akan menunggu sebenarnya apa yang sedang terjadi pada mereka.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Tapi jika ada sesuatu, katakan saja padaku, Mbak. Aku tidak ingin hubungan kita hancur."


Glek.


Nita menelan salivenya dengan kasar, kata-kata yang Tian ucapkan terasa menusuk hatinya. "Te-tentu saja. Kalau gitu, ayo kita kembali!" dia berusaha untuk tetap tenang.


Nisa yang saat ini sedang menyiapkan makanan untuk makan siang merasa risih dengan pandangan Abian, yang sejak tadi terus saja terarah padanya.


"Ada apa, Tuan? Kenapa Anda terus saja menatap saya?" dia memalingkan wajah sejenak ke arah Abian, lalu kembali fokus dengan mie yang ada ditangannya.


"Tidak ada, aku hanya tidak tau kalau kau pintar memasak." ucap Abian mencari alasan.


Padahal sejak tadi dia memperhatikan Nisa sambil membayangkan bagaimana reaksi wanita itu, jika mengetahui tentang semuanya.


"Saya tidak pintar, Tuan. Hanya tau sedikit-sedikit saja, yang pintar itu Mbak Nita." balas Nisa.


"Ya, kalau itu aku juga tau," gumam Abian sepelan mungkin.


"Ya, Tuan? Anda mengatakan sesuatu?"


"Ti-tidak, aku hanya bertanya apakah mienya sudah siap karena aku merasa lapar."


Nia tersenyum sambil berkata kalau sebentar lagi mienya akan segera selesai.


Tidak berselang lama, datanglah Tian dan Nita mengampiri mereka dan Nita langsung membantu Nisa.


"Kalian dari mana?" tanya Abian pada Tian.


"Hanya jalan-jalan saja. Aku kan tidak mau mengganggu Om dan Nisa," jawab Tian dengan ketus, dia lalu mengambil ponsel membuat Abian menghela napas kasar.

__ADS_1


"Maafkan om, Tian. Om tau kalau sebenarnya kau menyukai Nisa, tapi apa yang bisa om lakukan? Wanita itu benar-benar keras kepala dan om tidak berdaya untuk menolak." Abian melirik ke arah Tian dengan sendu, dan Nisa memperhatikan lirikan Abian itu.


"Kenapa tuan Abian terlihat sedih, apa dia dan Tian sedang bertengkar?" Nisa mengernyitkan keningnya.


"Apa makanannya sudah siap, Nis?"


Nisa terlonjak kaget mendengar suara Nita membuat gelas yang berisi air panas tidak sengaja tersenggol, dan menumpahi tangannya.


"Aarrgh!"


Abian dan Tian terlonjak kaget mendengar suara Nisa, sontak mereka langsung menghampiri wanita itu.


"Ya Tuhan, maafkan aku Nis." Nita langsung menarik tangan Nisa dan menyiramnya dengan air dingin, dia merasa bersalah karena telah membuat gadis itu terkejut.


"Apa yang terjadi?" tanya Abian dan Tian secara bersamaan, mata mereka menatap tajam ke arah tangan Nisa yang memerah.


"Ma-maaf, aku tidak sengaja mengaget-"


"Astaga! Lain kali kalian harus berhati-hati jika sedang memasak seperti ini, kalian bisa saja-" ucapan Abian terpaksa berhenti karena Tian menarik tangan Nisa dan membawanya duduk di atas matras.


"Tunggulah di sini, aku akan mengambil salep untuk menghilangkan rasa sakitnya."


Nisa menganggukkan kepalanya sambil menatap Tian yang beranjak pergi ke mobil untuk mengambil sesuatu.


Abian dan Nita terdiam dan saling lirik di tempat itu, lalu kemudian mereka ikut duduk bersama dengan Nisa.


Tian kembali datang dengan membawa kotak P3K di tangannya dan duduk tepat di hadapan Nisa.


"Salep ini akan menghilangkan rasa sakit dan mendinginkan luka bakar, untung saja aku membawanya." Tian segera mengoleskan salep itu ke tangan Nisa.


"Kau memang yang terbaik, Tian. Entah jadi seperti apa aku kalau kau tidak ada," ucap Nisa dengan senyum lebar karena saat ini tangannya sudah tidak panas dan sakit lagi.

__ADS_1


Abian dan Nita kembali saling lirik saat mendengar ucapan Nita, sementara Tian juga tersenyum sambil meniup tangan gadis itu.


Setalah semuanya kembali tenang, mereka lalu menikmati makan siang yang sudah Nisa siapkan. Suasana yang sejuk dan tenang benar-benar membuat rasa lelah menguap begitu saja, hingga membuat mereka enggan untuk beranjak pulang.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Irwan sedang bersiap untuk menemui Aini. Namun, langkahnya dihadang oleh Mona dan juga Mira.


"Aku tau kalau kau akan menemui wanita itu, Irwan. Apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku?" ucap Mona dengan tajam.


Irwan menghela napas kasar. Selama beberapa hari ini, dia sudah merenungkan semua kesalahan yang telah dia lakukan. Baik pada Nisa, maupun pada yang lainnya. Dia sadar kalau selama ini sudah sangat keterlaluan pada semua orang.


"Maaf, Mona. Bagaimana kalau kau ikut bersamaku untuk menemui Aini?"


Mona menyernyitkan keningnya dengan apa yang Irwan katakan. "Kenapa kau mengajakku untuk menemui wanita itu? Apa kau berniat untuk menunjukkan padaku tentang hubungan kalian?"


Irwan mencoba untuk menahan diri lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku ingin membicarakan tentang Nisa pada Aini, dan dari pada kau menuduhku yang tidak-tidak, lebih baik kau ikut saja denganku."


Mona semakin tidak mengerti dengan apa yang laki-laki paruh baya itu katakan. "Ada apa dengannya, kenapa dia berkata seperti itu?"


"Kenapa ayah harus bicara tentang Nisa pada tante itu? Lagian kan-"


"Nisa itu kakakmu, Mira. Kalau kau tidak bisa sopan padanya, jangan salahkan ayah jika harus mengajarkan bagaimana berperilaku sopan padamu."


Glek.


Mira menelan salivenya dengan kasar dan tidak berani lagi untuk mengeluarkan suaranya. "Apa yang terjadi pada ayah? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2