
Nita tergelak melihat Bima yang tidak berkedip saat menatapnya membuat laki-laki itu tersentak kaget. "Aku tahu kalau aku ini cantik, tapi biasa aja dong menatapnya."
"Cih! Sombong banget lu."
Nita kembali tertawa membuat Bima juga ikut tertawa. "Aku kan emang sombong." dia mengibaskan rambutnya seperti sedang iklan shampo.
"Iya-iya kau yang paling cantik," ucap Bima sambil berbalik dan berjalan ke arah Aini.
Bima lalu berpamitan dengan Aini untuk membawa Nita makan malam, dan Nita pun ikut berpamitan sambil mengecup pipi sang mama.
Setelahnya, mereka segera pergi ke salah satu restoran yang sudah disiapkan oleh Bima sebelumnya. Sepanjang perjalanan mereka terus bersenda gurau, sambil mengingat kenangan lama tentang masa-masa sekolah dulu.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Bima segera membukakan pintu untuk Nita, lalu mereka berlalu masuk ke dalam restoran tersebut.
Salah satu pelayan menyambut kedatangan mereka dan mengantarkan ke meja yang sudah Bima pesan sebelumnya, terlihat suasana restoran cukup ramai walaupun bukan malam weekend.
Abian dan Nisa yang kebetulan ada di restoran itu juga tidak sadar dengan keberadaan Nita yang duduk hanya terpisah oleh satu meja saja dari mereka.
"Bagaimana pekerjaanmu, Nisa? Apa semua berjalan lancar?" tanya Abian sambil menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapannya.
"Yah, begitulah, Tu- eh maksudnya Mas."
Abian tergelak melihat kecanggungan Nisa saat memanggilnya. "Ya sudah. Terserah kau saja mau memanggilku apa, yang penting kau nyaman."
Nisa menganggukkan kepalanya, dia merasa bersyukur karena Abian sangat pengertian.
"Oh ya, apa Tian sekarang sedang sibuk? Kenapa tidak mau membalas pesanku?" tanya Nisa sambil menatap Abian yang sedang menenggak minuman.
__ADS_1
"Tian? Aku rasa dia tidak sibuk. Tapi, ada apa? Apa kalian ada masalah?"
Nisa langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak! Hanya ada beberapa hal yang aku tanyakan, tapi dia tidak mau membalas pesanku." dia menghela napas kasar, entah kenapa dia merasa tidak nyaman karena Tian seperti sedang menghindarinya.
"Mungkin ada pekerjaan penting yang harus dia kerjakan, nanti dia juga akan membalas pesanmu." ucap Abian yang langsung ditanggapi oleh anggukan kepala Nisa.
"Apa Tian sudah tahu ya, kalau aku akan menikah dengan Nisa? Tapi, dia tahu dari mana? Mungkinkah Nisa yang memberitahunya?" Abian melihat ke arah Nisa yang sedang menikmati makanannya. 'Sudahlah! Toh akhirnya nanti dia akan tahu juga." ucapnya dalam hati.
Setelah menghabiskan makanannya, tiba-tiba Abian merasa ingin buang air kecil. Dia segera beranjak dari tempat itu menuju toilet setelah mengatakannya pada Nisa.
Deg.
Begitu Abian berbalik, matanya langsung menangkap seorang wanita yang sedang berada di sudut ruangan. Terlihat wanita itu sedang bersama dengan seorang lelaki, dan mereka tampak sedang tertawa bahagia.
Abian mengepalkan tangannya dengan erat, dia lalu berjalan cepat ke arah toilet dan setelah itu akan menemui Nita. Ya, Nita lah yang saat ini sedang bersama dengan seorang lelaki.
"Hahahaha, dasar gila. Bisa-bisanya kau melakukan itu." Nita tertawa sampai perutnya terasa sakit akibat cerita Bima. Di mana laki-laki itu mengajak seorang wanita berpacaran, tetapi wanita itu adalah seorang waria.
"Makanya, kalau lihat cewek cantik sedikit aja jangan langsung diembat. Dasar playboy!" cibir Nita membuat Bima berdecih.
"Cih, memang apa salahnya-"
"Kau juga ada di sini, Nita?"
Ucapan Bima terpaksa berhenti saat tiba-tiba mendengar suara seseorang, sontak dia dan juga Nita mendongakkan kepala mereka untuk melihat orang tersebut.
"Tu-tuan Abian?" Nita tersentak kaget saat melihat Abian ada di hadapannya. "A-apa yang Anda lakukan di sini?"
__ADS_1
Bima mengernyitkan keningnya saat mendengar apa yang Nita ucapkan, sementara Abian tersenyum dengan sinis.
"Tentu saja aku sedang makan malam bersama dengan calon istriku." Abian menunjuk ke arah Nisa membuat Nita dan Bima melihat ke arah yang dia tunjuk. "Lalu, bagaimana denganmu? Apa ini lelaki barumu, Nita?"
Nita menatap Abian dengan tajam karena apa yang laki-laki itu ucapkan, sementara Bima tersenyum tipis karena mengerti sepertinya ada sesuatu di antara Nita dan juga lelaki itu.
"Itu bukan-"
"Benar, Tuan!" Bima beranjak berdiri membuat Nita kembali tersentak, sementara Abian menatap laki-laki itu dengan tajam. "Perkenalkan, nama saya Bimasyah Huda." dia mengulurkan tangan di hadapan Abian.
Abian lalu membalas uluran tangan itu. "Saya Abian Argantara." Lalu jabatan tangan itu terlepas.
"Jadi, Tuan Abian. Apa ada yang ingin Anda katakan pada Nita? Soalnya kami sedang makan malam."
Abian mengernyitkan keningnya melihat laki-laki itu mengusirnya secara halus. "Apa Anda mengusir saya?"
"Tentu saja tidak, Tuan. Hanya saja, jika ada sepasang lelaki dan wanita sedang makan malam berdua, itu artinya ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua," ucap Bima dengan senyum manis membuat Nita tercengang.
Abian mengepalkan tangannya penuh emosi, tetapi tidak mungkin jika membuat keributan di tempat ini. "Baiklah, terserah kalian saja." dia lalu pergi dari tempat itu ke arah Nisa dengan dada bergemuruh.
Nita menghela napas lega saat melihat kepergian Abian, dia lalu melihat ke arah Bima. "Bima, apa yang sedang kau lakukan?"
Bima beralih menatap ke arah Nita saat mendengar pertanyaan wanita itu. "Kenapa, bukannya kau ingin kalau aku melakukan hal itu padanya?"
"Hah?"
•
__ADS_1
•
TBC