
Nisa menatap Tian dengan heran. Kenapa pula laki-laki itu terlihat marah dan mengatakan hal seperti itu?
"Apa kau tidak berniat untuk menyuruhku masuk?"
"Hah?"
Tian langsung masuk ke dalam rumah itu tanpa menunggu jawaban dari Nisa, dia duduk di atas sofa sambil memperhatikan seluruh isi dari rumah tersebut.
Nisa sendiri hanya bisa menatap Tian dengan cengo. Bisa-bisanya laki-laki itu main masuk ke dalam rumah orang lain begitu saja, bahkan tanpa menunggu jawaban dari si empunya.
Tidak mau dibikin emosi dengan apa yang Tian lakukan, Nisa segera mengikuti laki-laki itu untuk duduk disofa dan melupakan apa yang baru saja terjadi.
"Sekarang katakan padaku, kenapa kau bisa ada di sini, Tian?" tanya Nisa dengan tajam.
"Seharusnya aku yang bertanya denganmu, kenapa kau pergi dari rumah tanpa mengatakannya padaku? Apa kau tidak tau, kalau aku sangat khawatir?"
Nisa menatap Tian dengan bingung dan terheran-heran. "Kenapa aku harus mengatakannya padamu? Lagi pula semua itu bukan urusanmu, 'kan?"
Tian langsung terdiam karena tidak bisa menjawab apa yang Nisa ucapkan, padahal dia sudah geram sekali melihat gadis itu.
"Tapi syukurlah kau baik-baik saja, Nisa." Tian merasa tenang saat sudah bisa melihat Nisa saat ini.
Nisa lalu beranjak dari tempat itu menuju dapur, dia mengambilkan cemilan untuk Tian. Biar bagaimana pun, saat ini laki-laki itu sudah sampai di rumah Nita.
"Tunggu, kau mau ke mana?" tanya Tian membuat langkah kaki Nisa terhenti. Gadis itu lalu melirik ke arah laki-laki itu.
"Aku ingin mengambil makanan dan minuman untukmu,"
"Tidak perlu." Tian mengibas-ngibaskan tangannya. "Duduk saja, kakimu juga masih sakit, 'kan?" dia melihat ke arah bawah di mana kaki Nisa berada.
"Sudah lebih baik dari semalam, kok. Mungkin besok gipsnya sudah bisa di lepas," ucap Nisa. Dia sudah tidak tahan jika harus memakai benda itu lebih lama lagi.
__ADS_1
Tian lalu ikut beranjak dari duduknya dan mendekati Nisa. "Duduklah, biar aku yang mengambilkannya. Kau mau minum apa?" Dia memandang Nisa dengan senyum manis.
Nisa langsung tergelak dengan apa yang Tian lakuan saat ini. "Tian, kau adalah tamu di rumah ini. Lalu, kenapa jadi aku yang kau layani?" dia menggelengkan kepalanya dengan tawa yang masih terlihat diwajahnya.
"Memangnya kenapa, 'kan tidak masalah kalau aku yang melayani walaupun aku tamu." Tian lalu berbalik dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil sesuatu yang ada di tempat itu.
Nisa hanya bisa geleng-geleng kepala saja saat melihatnya, dia lalu mengikuti langkah laki-laki itu menuju dapur.
Setelahnya, mereka berdua kembali duduk di sofa dan mengobrol panjang lebar. Saat ini, Nisa sudah tidak terlalu ketus dan juga cuek dengan Tian, dia sudah bisa menerima kehadiran laki-laki itu walaupun hanya sebatas teman.
****
Tepat pukul lima sore, Nita dan Abian sudah pulang dari kantor dan langsung menuju rumah Nita untuk bertemu dengan Nisa.
"Bagaimana keadaan kakimu, Nisa?" tanya Abian yang sudah duduk di sofa ruang tamu Nita.
"Sudah lebih baik, Tuan. Mungkin besok saya sudah bisa kembali kerja," jawab Nisa. Dia tidak ingin terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, lagi pula kakinya juga sudah jauh lebih baik.
Nisa menganggukkan kepalanya, lalu permisi ke kamar sebentar karena ada berkas yang ingin dia berikan pada Abian.
Setelah kepergian Nisa, Abian beralih mengobrol dengan Nita mengenai masalah pekerjaan dan juga hal yang lainnya. Mereka mengobrol layaknya seorang teman, dan bukannya antara atasan atau bawahan.
Nisa memperhatikan kedekatan Abian dan juga Nita dari pintu kamarnya. Terlihat jelas bahwa Nita menyimpan perasaan suka pada Abian, tetapi dia tidak bisa melihat perasaan Abian apakah laki-laki itu menyukai Nita atau tidak.
Nisa kemudian kembali bergabung pada mereka dan memberikan berkas yang dia bawa pada Abian. Setelah itu, Abian pamit untuk pulang ke rumah karena hari sudah hampir maghrib.
****
Tidak terasa, sudah beberapa hari berlalu sejak Nisa tinggal di rumah Nita. Sejak itu pula hubungan di antara mereka berangsur membaik layaknya seorang kakak dan juga adik, walaupun hati mereka sama-sama tertarik pada satu lelaki.
Seperti saat ini, Nisa, Nita dan juga Abian sedang berada dilokasi proyek pembangunan. Terlihat pondasi bangunan itu sudah terbentuk, karena memang banyaknya pekerja yang terlibat dalam hal pekerjaan tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu, Tuan?" tawar Nita sambil duduk di sebuah gazebo yang sengaja dibuat oleh para pekerja.
Teriknya matahari siang ini, membuat Nita tidak mau untuk berpanas-panasan yang bisa membakar kulitnya. Namun, lain hal dengan Nisa. Dia yang sudah terbiasa ke sana kemari di bawah panasnya sinar matahari, terlihat cekatan memeriksa semua perlengkapan bangunan.
"Ya sudah. Kalau gitu aku akan memanggil Nisa dulu, supaya kita bisa makan bersama,"
"Tidak perlu, Tuan! Biar saya saja yang memanggilnya." Nita beranjak pergi dari tempat itu untuk memanggil Nisa yang entah di mana keberadannya, sementara Abian memilih untuk menunggu di tempatnya.
"Nisa!" Niat berteriak untuk memanggil Nisa, dan tidak berselang lama terdengar suara sahutan dari arah kanan.
"Ada apa, Mbak?" tanya Nisa yang ternyata ada di ujung tempat itu.
"Ayo kita makan siang, sudah hampir pukul satu siang ini!" ucap Nita yang langsung diangguki oleh Nisa.
Nisa segera menghampiri Nita, dan mereka segera kembali menuju tempat di mana Abian berada.
Namun, saat Nita melangkahkan kakinya melewati besi-besi yang ada di tempat itu. Tidak sengaja kakinya tersangkut dan membuatnya terjungkal ke depan.
"Mbak!" Nisa berteriak dengan sangat kuat sambil menarik tubuh Nita, membuat Abian terkejut dan segera menyusul mereka.
Bruk.
Akhirnya Nita dan Nisa sama-sama terjatuh ke atas tumpukan kayu membuat semua orang terlonjak kaget.
"Astaga, Nita!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.