Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab 45 Keberadaan Nisa


__ADS_3

Aini menatap Irwan dengan tatapan melawan, dia sama sekali tidak takut dengan pria di hadapannya tersebut karena memang semua adalah salah pria itu. Kejadian masa lalu membuat Aini sama sekali tidak bisa lagi menghargai pria tersebut meskipun dia lebih tua darinya.


"Kenapa? Kau tidak terima dengan perkataanku? Kau harus ingat, Irwan! Jika sampai terjadi sesuatu dengan putriku, maka aku akan membuat perhitungan pada kalian semua." ancam Aini sambil berlalu dari sana.


Nita hanya diam saja, dia pun berpamitan pada Irwan sebagai tanda kesopanan. Sementara Irwan, dia bungkam dan tidak bisa melawan ucapan Aini.


"Argh!" pria tua itu memukul udara, dia ditinggalkan oleh Mona karena wanita tersebut tahu jika sang suami butuh waktu untuk sendiri.


Irwan berjalan untuk duduk kembali di sofa, dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Bagaimana ini? Kalau saja Nisa tidak membangkang dan menuruti keinginanku, maka semuanya pasti tidak akan seperti ini! Dasar anak tidak tahu di untung, tidak tahu balas budi." maki Irwan untuk Nisa.


Aini sudah berada di rumah Nita, dia duduk di sofa dengan napas yang masih memburu. Dirinya teringat masa lalu jika dia menginjakkan kakinya lagi di rumah itu, begitu banyak kenangan manis dan pahit bercampur aduk jadi satu di dalam sana. Dia benar-benar kecewa dengan Irwan yang sama sekali tidak bisa menjaga Nisa seorang.


"Pria itu hanya memikirkan tentang istri barunya dan anak tirinya, dia bahkan mengabaikan gadis yang jelas-jelas adalah anak kandungnya sendiri." gerutu Aini.


"Ma, ini minum dulu." Nita memberikan segelas air putih kepada Aini.


Wanita paruh baya itu menenggak air minum yang Nita berikan, dia melirik sang anak tiri dengan rasa bersalah.


"Maafkan Mama, Nita." ucapnya tidak enak hati.

__ADS_1


"Kenapa Mama harus minta maaf padaku? Apa yang Mama lakukan tidak salah, Mama benar karena membela putri Mama dan menegur Tuan Irwan. Mungkin, jika aku berada di posisi Mama, pasti aku akan melakukan hal yang sama pula.'' Nita menggenggam tangan Aini yang saling bertautan.


Keduanya saling berpelukan dan Aini mengecup dahi Nita. Dia sudah menganggap Nita seperti anak kandungnya sendiri, maka dari itu dia tidak pernah membedakan antara Nita dan Nisa yang selalu dia pantau.


Aini pun mengurai pelukan, dia ingat tentang Nisa yang pergi dan entah kemana tujuannya. Dirinya kembali khawatir dan seketika raut wajahnya pun berubah.


"Ma, ada apa?" tanya Nita memegang pundak Aini.


''Mama sedang memikirkan Nisa, dimana dia sekarang? Mama takut terjadi sesuatu dengannya karena dia pergi dengan pikiran yang sangat kacau."


"Ma, Nisa itu perempuan yang kuat dan tangguh. Aku yakin jika dia tidak akan berbuat hal diluar nalar, atau pun sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri." Nita kembali menenangkan Aini.


"Sebaiknya Mama istirahat dulu, bukankah Mama baru sampai? Setelah itu, kita akan mencari Nisa bersama-sama. Aku bakalan minta bantuan pada temanku," tawar Nita memberikan pendapat.


****


Pukul tujuh malam, Nisa berada di hotel bersama dengan Tian. Mereka hanya saling diam karena rasa canggung yang muncul di dalam hati keduanya. Sesekali Tian melirik ke arah gadis itu yang masih asyik melamun dengan menatap lurus ke depan. Ya, gadis tersebut sudah menceritakan semuanya apa yang terjadi pada Tian hingga dia memilih pergi dari rumah Nita.


"Nisa, aku yakin jika saat ini mereka semua pasti sedang memikirkan keadaanmu."


"Biarkan saja!" tukas Nisa yakin. "Aku tidak peduli dengan itu, intinya aku masih membutuhkan waktu untuk sendiri." lanjutnya menunduk.

__ADS_1


Tian mendekati Nisa, dia mengelus punggung gadis itu dan di balas senyum kecil oleh sang gadis.


"Terima kasih karena kau sudah mau memberikan bantuan padaku, Tian. Aku mohon jangan mengatakan pada siapapun kalau aku berada disini, aku akan menemui mereka jika pikiranku sudah tenang." pinta Nisa.


Tian mengangguk, dia pun berdiri dari tempat duduknya. "Apa kau butuh sesuatu? Baju, atau makanan? Aku akan membelikannya untukmu,"


Nisa terdiam, dia saat ini memang tidak memiliki apa pun. Bahkan, dia hanya membawa laptop, berkas penting dan dompetnya saja. Dirinya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyodorkan itu kepada Tian.


"Tolong bantu aku untuk membeli pakaian santai, dan juga sandal rumahan. Aku pergi tanpa membawa apa pun, bahkan semua barang-barangku masih berada di rumah Mbak Nita. Aku akan meminta tolong pada seseorang agar mengambil barang-barangku nantinya.''


Tian menolak uang dari Nisa, dia tersenyum tipis dan berlalu pergi begitu saja.


"Tian! Ini uangnya!" teriak Nisa namun pintu hotel langsung tertutup.


Nisa berdecak kesal, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memejamkan mata.


"Ada apa dengannya? Apa dia tidak mau menolongku untuk membelikan aku pakaian? Aku sebenarnya ingin pergi sendiri, tetapi moodku sedang hancur saat ini." Nisa menggerutu.



__ADS_1


TBC



__ADS_2