Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 64 Kecemburuan


__ADS_3

Nita tidak mengerti dengan apa yang Bima ucapkan. "Apa, apa maksudmu?"


"Aku tahu kalau ada sesuatu antara kau dan laki-laki itu, Nita. Kau juga merasa tidak nyaman 'kan tadi?" ucap Bima yang paham betul dengan apa yang terjadi.


"Di-dia, dia itu atasanku." Nita menundukkan kepalanya. "Dan sebentar lagi dia akan menikah dengan adik tiriku, jadi aku merasa sedikit canggung."


Bima terdiam dengan apa yang Nita katakan, dia tahu betul jika yang dikatakan wanita itu tidaklah benar. Dari tatapan dan raut wajah mereka saja, dia sudah tahu jika Nita dan laki-laki itu saling suka.


"Sudahlah. Lupakan semua itu." Bima tersenyum simpul membuat Nita juga ikut tersenyum. Mereka lalu melanjutkan acara makan malam tersebut.


Abian yang sudah sampai di meja Nisa langsung menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kursi, membuat Nisa yang sedang melihat ponsel terlonjak kaget.


"Ka-kau sudah selesai?" tanya Nisa sambil meletakkan ponselnya ke atas meja.


Abian menganggukkan kepalanya dengan perasaan yang masih kesal membuat Nisa mengernyitkan keningnya.


"Ada apa, apa terjadi sesuatu?" tanya Nisa membuat Abian menghela napas frustasi.


"Tidak ada apa- apa, Nisa. Aku hanya merasa lelah saja." tidak mungkin Abian menceritakan tentang semuanya pada wanita itu.


"Kalau gitu, ayo kita pulang! Anda harus segera istirahat." ajak Nisa kemudian membuat Abian mengangguk.


Kemudian mereka beranjak pergi dari tempat itu untuk pulang, dan Abian bermaksud akan kembali menemui Nita setelah mengantar Nisa.


"Anda tidak perlu mengantarku, aku bisa naik taksi." ucap Nisa yang sudah berada di luar restoran.


"Apa, kenapa seperti itu? Mana mungkin aku tidak mengantarmu." Abian merasa tidak suka.


"Tidak apa-apa, Mas. Kau kan lelah dan harus segera istirahat, jadi lebih baik kalau aku pulang naik taksi. Oke?"

__ADS_1


"Tapi Nisa-"


"Tidak ada tapi-tapian!" Nisa lalu melangkah ke arah jalanan dan kebetulan ada taksi yang melintas.


Abian tidak bisa berkata apa-apa lagi dan mengantar Nisa masuk ke dalam taksi. "Kabarin aku jika kau sudah sampai, ya. Maaf karena aku tidak bisa mengantarmu."


Nisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Kalau gitu aku duluan, ya. Bye." dia melembaikan tangan ke arah Abian yang di balas dengan lambaian tangan laki-laki itu.


Abian menatap ke arah taksi yang sudah berjalan menjauh dengan sayu. "Maafkan aku, Nisa. Aku harus bicara dulu dengan Nita, karena hatiku benar-benar tidak nyaman." dia lalu berbalik dan masuk ke dalam mobil untuk menunggu Nita.


Nita yang masih berada di dalam restoran tiba-tiba mendapat pesan dari Abian yang langsung membuatnya kesal.


[Temui aku diparkiran restoran, atau aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Nisa.] itulah isi pesan dari Abian.


"Ada apa?"


Bima tersenyum sambil menenggak minumannya. "Apa laki-laki tadi yang ingin mengajakmu bertemu?"


Nita terlonjak kaget dengan apa yang Bima katakan. "Ba-bagaimana Bima bisa tahu?" ucapnya dalam hati dengan rasa heran.


"Jangan menatapku seperti itu, Nita. Tentu saja aku tahu karena terlihat jelas diwajahmu, orang lain pun juga pasti akan tahu."


Nita menghela napas frustasi. "Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, Bima. Hubunganku dan dia terlalu rumit."


"Tentu saja rumit, Nita. Bukannya kau bilang laki-laki itu akan menikah dengan adik tirimu?" tanya Bima membuat Nita mengangguk. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi jangan mempersulit dirimu sendiri, Nita."


Nita menatap Bima dengan bingung. "Apa maksudmu?"


"Pikirkan dengan tenang, dan tanya pada hatimu sendiri apa yang ingin kau lakukan. Semua hanya sesederhana itu, dan jika tidak berjalan sesuai dengan apa yang kau inginkan, maka sudahi saja. Tidak perlu berpikir terlalu jauh, karena yang tahu bagaimana dirimu, ya kau sendiri."

__ADS_1


Nita terdiam mendengar ucapan Bima, dia lalu kaget saat tiba-tiba laki-laki itu beranjak berdiri.


"Kalau gitu aku duluan ya, cepat selesaikan masalahmu dengannya."


Nita menatap Bima dengan sedih. "Maaf, Bima. Aku merusak makan malam kita." dia merasa menyesal.


"Tidak apa-apa, Nita. Kita masih bisa makan malam lain waktu bukan?" ucap Bima dengan tersenyum yang langsung dibalas dengan anggukan kepala Nita.


Kemudian Bima beranjak pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh Nita, dan mereka keluar dari restoran bersama-sama.


Nisa yang sudah hampir sampai di hotel memekik kaget saat tidak bisa menemukan ponselnya, dengan cepat dia menyuruh supir itu untuk kembali ke restoran karena mungkin ponselnya tertinggal di sana.


Setelah kepergian Bima, Nita segera mendatangi Abian yang sudah berdiri di samping mobilnya.


"Ada apa, kenapa Anda ingin bertemu denganku?" tanya Nita dengan tajam.


"Ada hubungan apa kau dengan laki-laki itu?"


Nita mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan Abian. "Saya tidak-" tiba-tiba Nita menjeda ucapannya saat sadar kenapa Abian harus sibuk sekali ada hubungan apa dia dengan Bima. "Memangnya ada apa, Tuan? Apa urusan Anda?"


Abian mengepalkan tangannya dengan emosi. "Jawab saja pertanyaanku, Nita. Aku tanya ada hubungan apa kau dengannya, hah?" suaranya menggema di tempat itu.


"Memang apa urusannya dengan Anda? Terserah saya ingin punya hubungan seperti apa dengan Bima, dan Anda tidak berhak untuk ikut campur!"




TBC.

__ADS_1


__ADS_2