Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 52 Kegundahan hati


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat, akhirnya Irwan beranjak pergi dari tempat itu dengan di antara Aini sampai ke depan rumah.


"Aku akan berusaha untuk memperbaiki semuanya, Aini. Sekali lagi maafkan aku," ucap Irwan lagi dengan sendu. Untuk pertama kalinya dia mendengar dan melihat curahan hati Nisa, dan semua itu sangat menancap sekali di hatinya.


"Bukan hanya kau saja, Mas. Tapi aku juga. Kita akan sama-sama memperbaikinya." balas Aini.


Irwan lalu menganggukkan kepalanya dan segera pergi dari tempat itu. Tanpa mereka sadari, saat ini Mona menatap mereka dari dalam mobilnya dengan tajam.


"Si*alan! Aku tidak akan membiarkan semua ini, Aini. Selama ini aku sudah  susah payah menanamkan kebencian dihati Irwan padamu dan juga anakmu itu, jadi kau tidak bisa menghancurkannya." Mona mengepalkan tangannya dengan erat. Dia harus mencari cara agar hubungan mereka tidak kembali baik, dan jika bisa malah bertambah buruk.


Setelah kepergian Nisa, Aini memutuskan untuk masuk ke dalam kamar meninggalkan Abian dan Nita yang masih duduk di ruang tamu.


"Tante tinggal tidur dulu ya, Nak Abian. Maaf karena sudah membuat kau tidak nyaman dengan pertengkaran tadi."


Abian langsung menggelengkan kepalanya. "Tante tidak perlu minta maaf, setiap keluarga pasti akan mengalami hal seperti itu. Aku malah senang bisa mengetahui apa yang terjadi dalam keluarga Nita, dan juga apa yang selama ini dirasakan oleh Nisa."


Aini tersenyum senang dengan apa yang Abian katakan. Kemudian dia beranjak pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam kamar.


Setelah kepergian Aini, suasana di ruangan itu terlihat hening. Nita menundukkan kepalanya sambil berpikir tentang semua yang sudah terjadi, sementara Abian melirik ke arah Nita sambil memikirkan ucapan wanita itu tadi.


"Kau mau ke mana?" tanya Abian saat Nita beranjak bangun.


"Saya ingin mengambil minuman untuk Tuan, sebentar ya." Nita lalu meninggalkan Abian setelah melihat anggukan kepala laki-laki itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Nita menyandarkan tubuhnya ke dinding dapur. "Aku yakin kalau Tuan Abian akan membahas masalah tadi. Lalu aku harus bagaimana?" Dia merasa pusing sendiri.


Sejujurnya, Nita sudah lama menyukai bahkan mencintai Abian. Menghabiskan waktu dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam. Membuat benih-benih cinta tumbuh dihati Nita, apalagi melihat sifat baik dan rendah hati Abian membuat jantungnya selalu berdegup kencang.


Namun, apa yang dia rasakan saat ini sama dengan apa yang Nisa rasakan. Dia bisa saja tidak peduli dan menjalin hubungan dengan Abian, apalagi laki-laki itu juga mencintainya. Tidak ada yang salah dengan semua itu.


Akan tetapi, perasaannya sangat terganggu sekali dengan Nisa. Gadis itu sudah banyak membantunya di masa lalu, bahkan selama ini juga selalu baik padanya walaupun ketus dan terlihat memusuhi.


Apalagi dengan kenyataan bahwa ibu kandung Nisa adalah wanita yang sudah menikah dengan ayahnya, yang berarti sekarang menjadi ibu tirinya.


Selama ini Aini selalu memperlakukannya dengan baik dan penuh peehatian. Wanita paruh baya itu bahkan mengurus semua keperluan sang ayah dan keperluannya sendiri, juga mencurahkan segala waktu dan tenaga untuk keluarga mereka.


Sementara di sisi lain, Nisa yang merupakan anak kandung Aini malah hidup dalam penderitaan yang sangat menyiksa. Lalu, pantaskah sekarang dia menambah luka dihati Nisa dengan menjalin hubungan dengan Abian?


"Benar, keputusanku sudah tepat. Bukan aku yang seharusnya bersama dengan tuan Abian, tapi Nisa. Dengan begitu, dia pasti akan sangat bahagia dab kebahagiaannya akan membuat mama senang."


Ya, itulah yang akan Nita lakukan sekarang. Lalu, bagaimana dengan hatinya sendiri? Sanggupkah dia melihat laki-laki yang dicintai bersama dengan wanita lain? Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.


Nita lalu kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi minuman dan juga makanan ringan, dia lalu menyajikannya di hadapan Abian.


"Silahkan, Tuan." ucap Nita sambil kembali duduk di tempatnya tadi.


Abian menganggukkan kepalanya dan segera meminum kopi yang sudah disajikan oleh Nita, lalu kembali meletakkannya di atas meja.

__ADS_1


"Begini, Nita. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,"


"Saya tau, Tuan. Anda ingin-"


"Tolong jangan menggunakan bahasa formal padaku, Nita. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?"


Nisa menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Mas. Apa, Mas akan kembali membahas masalah tadi?" pertanyaan Nita sangat tepat sasaran sekali.


"Ya, karena aku merasa apa yang kau katakan itu tidak benar, Nita. Bagaimana mungkin aku bersama dengan Nisa? Sementara yang aku cintai adalah kau, Nita. Kau!" ucap Abian dengan penuh penekanan.


"Tapi kau kan menyukainya, Mas. Rasa suka itu pasti akan berubah menjadi cinta, dan hanya tinggal menunggu waktu saja."


Abian menghela napas kasar dengan apa yang Nita katakan. "Aku memang menyukai Nisa, dan aku juga menyayanginya. Dia gadis pekerja keras dan juga mandiri. Dia cantik dan berhati baik walaupun ketus dan selalu memandang orang lain dengan tajam. Tapi rasa sayangku itu berbeda, Nita. Aku menyayanginya layaknya seorang adik, apa kau tidak paham dengan semua itu?" Dia menatap Nita dengan tajam.


"Sudah ku bilang kalau kau hanya tinggal menunggu waktu saja, Mas. Tidak lama lagi, rasa sayangmu itu akan berubah dan kau akan benar-benar mencintainya,"


"Cukup, sudah cukup!"




TBC

__ADS_1


__ADS_2