
Abian, Tian dan juga Nisa tercenganh dengan apa yang Nolan katakan. Terutama Nisa yang benar-benar sangat terkejut saat ini.
"Ca-calon suami?" tanya Nisa mengulang apa yang Nolan katakan tadi.
Nolan langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, Nisa. Kenapa kau kaget seperti itu? Orang tua kita 'kan sudah sepakat untuk masalah perjodohan ini."
Nisa benar-benar tidak percaya dengan apa yang Nolan katakan. "B-bagaimana mungkin? Ini, ini tidak—"
"Wah, selamat, ya?" ujar Tian dengan senyum hambar, dia padahal cukup tertarik pada Anisa tetapi sepertinya dia harus melewati rintangan untuk mendapatkan gadis impiannya itu.
Tanpa menjawab ucapan selamat dari Tian, Anisa langsung menarik tangan Nolan pergi menjauh dari meja.
"Kau ini bicara apa?" Anisa mencoba untuk bertanya kembali pada Nolan. "Katakan pada mereka jika kau bukanlah calon suamiku, jangan mengada-ada, Nolan!" tukasnya marah.
"Hei, Anisa. Perkataanku memanglah benar, kau itu adalah calon istriku dan Ayahmu sudah menyetujui tentang hubungan kita ini."
"Dengarkan aku baik-baik. Memangnya kau akan menikah dengan siapa? Aku, atau Ayahku? Kau tau, keputusan ada di tanganku dan aku tidak akan sudi dijodohkan denganmu. Ingat itu!" Anisa menjentikkan jemarinya di depan wajah Nolan.
Nolan tersenyum miring, dia pasrah dengan perlakuan Nisa saat ini.
"Kau tidak akan bisa lari dari perjodohan ini, Anisa." ucapnya yakin.
"Kita lihat saja apa yang bisa kalian lakukan setelah ini!" Anisa berlalu pergi membawa rasa emosinya.
Saat dia hendak keluar, Irwan melihat Anisa dan dia memanggilnya.
"Anisa!" panggil Irwan dengan sedikit berteriak.
Anisa hanya mengentikan langkahnya sejenak dan dia kembali berjalan pergi. Dirinya benar-benar marah, kesal, sedih, dan semua ini tidak adil baginya. Pikirannya yang berkecamuk bingung membuat Anisa lupa berpamitan pada Tian dan Abian.
Dirinya sampai di dekat mobil, dia mengepalkan tangan dan memukul badan mobil dengan cukup kencang hingga berbunyi suara benturan.
"Argh! Ini benar-benar tidak adil untukku! Bagaimana bisa Ayah mengambil keputusan sebesar ini tanpa bertanya terlebih dahulu padaku?" Nisa sangat kecewa dengan Irwan.
Gadis cantik itu memejamkan matanya sejenak, dia menarik napas dalam-dalam mencoba untuk menetralkan degup jantungnya. Dia harus bisa meredam emosi ini agar pikirannya tetap waras. Dia nekat pulang sendirian tanpa menunggu Ayahnya yang masih betah berada di dalam restoran.
Sementara di meja Irwan, dua keluarga itu heran akan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Nolan, ada apa dengan Anisa? Mau kemana dia?"
Nolan duduk di kursi sambil tersenyum tipis. "Dia ingin keluar sebentar untuk mencari angin,"
Kedua orang tua Nolan hanya mengangguk percaya sedangkan Irwan, dia yakin jika Anisa sudah mengetahui semuanya dan dia marah. Irwan paham sifat putri sematawayangnya itu yang mana akan pergi jika dia sedang dalam keadaan marah.
Irwan berusaha bersikap biasa agar kedua orang tua Nolan tidak khawatir.
****
Anisa sudah berjalan cukup jauh dari restoran tempat dirinya dan sang Ayah makan malam. Dia menyusuri jalanan yang masih terbilang cukup ramai karena jam baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Lampu-lampu jalanan memancarkan cahayanya diiringi oleh rembulan malam. Cuaca cukup dingin karena angin berhembus dengan kencang.
Rambutnya yang di gerai terbang tertiup angin, bibirnya terus saja mengerucut dan rasa kesal masih ada di dalam hatinya. Setelah cukup lelah berjalan, Anisa duduk di sebuah bangku. Dia menunduk sejenak.
"Kenapa Ayah menginginkan aku agar segera menikah? Ini seperti mereka mengusirku tetapi dengan cara halus, aku tidak akan meninggalkanmu, Yah! Mana mungkin aku pergi dari rumah itu jika dua wanita ular berbisa masih ada di rumah kita." gumam Nisa menghela napas kasar.
Tak selang berapa lama, Nisa di kagetkan dengan kedatangan seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Hal tersebut membuatnya sontak menoleh dan dia kaget melihat seorang pria yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kau, kenapa kau bisa tahu jika aku berada disini?" tanya Nisa pada pria yang tak lain adalah Tian.
Tian duduk di samping Anisa, dia tersenyum tipis dan menatap lurus ke depan.
Nisa mendegus.
"Kenapa? Kau tidak perlu heran dengan kedatanganku, aku tadi memang kebetulan ingin pulang dan berniat menawarkanmu tumpangan. Tetapi, aku lihat kau sudah pergi dari restoran dan aku melajukan mobilku, lalu tanpa sengaja melihatmu berjalan entah ingin pergi kemana. Ya, aku sengaja tidak memanggilmu karena aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan." Tian bertitah.
"Benarkah?" Nisa memicing tajam.
Tian pun mengedikkan bahunya.
"Huft, aku hanya sedikit merasa kesal. Tapi, sekarang sudah tidak. Baiklah, aku ingin pulang dan kau tidak perlu mengikutiku ataupun mengantarkanku karena aku—" ucapan Nisa terhenti.
"Sebelum pulang, ikutlah denganku karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Tian tersenyum manis.
Nisa menggeleng cepat. "Tidak-tidak, pergilah sendiri karena aku sedang bad mood." tolaknya halus.
"Ayolah, Nisa! Kau bisa menenangkan diri di tempat itu nantinya," Tian dengan berani menarik tangan Anisa dan mereka berdua pergi menuju mobil.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku gila hingga harus menenangkan diri? Hei, Tian! Kau ingin membawaku kemana?" suara penolakan bercampur rasa penasaran terlontar dari bibir mungil Anisa.
Tian tidak menghiraukan ocehan gadis itu, dirinya membukakan pintu mobil untuk Anisa dan memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil. Lalu, disusul olehnya dan mereka pergi ke tempat tujuan.
Beberapa menit kemudian, sampailah mobil mereka di sebuah gedung yang menjulang tinggi ke atas. Bahkan, disana juga ada banyak mobil terparkir hingga membuat Anisa cukup merasa tenang.
"Tian, mau apa kita datang ke tempat ini?" tanyanya penasaran.
"Sudah, ikut saja denganku. Kenapa kau begitu cerewet?"
Keduanya berjalan masuk ke dalam gedung mewah nan tinggi itu. Sesampainya di dalam, Tian menekan tombol lift ke lantai dua puluh dan itu adalah lantai paling atas. Ya, Nisa sangat penasaran tetapi dia meredam rasa itu karena sebentar lagi dia akan tahu dengan sendirinya.
Setelah lift berbunyi dan pintu terbuka, Nisa tercengang melihat sesuatu di depannya saat ini. Ruangan mewah, lantai yang mengkilap hingga pantulan cahaya rembulan bisa dilihat, dan ukiran-ukiran indah yang berjajar rapi di dalam sana.
"Kau akan menyukainya, ayo!" Tian berjalan mendahului Anisa.
Mereka berdua pun berdiri di atas balkon lantai dua puluh, Nisa menelan ludah secara kasar. Kepalanya sangat pusing jika dia melihat ke bawah.
"Hei, jangan melihat ke bawah! Sebaiknya kau lihat saja itu," ucap Tuan sambil mengacungkan jari telunjuk ke suatu arah.
Seketika senyuman di bibir Nisa pun terbit. Bagaimana tidak, seluruh gedung dan cuaca pencakar langit begitu indah di lihat dari atas sana. Rembulan pun terlihat indah di pandang oleh mata. Bintang-bintang bertaburan menandakan jika malam ini cuaca sangat cerah. Angin yang berhembus menerpa rambut indah milik Anisa, Tian menatap wajah gadis itu dengan senyum tersembunyi.
"Apa kau menyukai tempat ini?"
"Tentu saja! Kenapa aku bisa tidak tahu jika di kota ada tempat indah ini seperti ini?" Anisa terus menyunggingkan senyumnya. "Bahkan aku merasa, jika rumah Ayahku bisa dilihat dari atas sini." lanjutnya diselingi kekehan kecil.
Tian bersyukur karena Anisa bisa tersenyum dan terlihat bahagia, tidak murung seperti tadinya.
•
•
•
TBC
TINGGALKAN JEJAK YUK 🥰
__ADS_1