Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 15 Membuka lembaran baru


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Begitu cepat waktu berlalu hingga satu bulan sudah Nita melewati kesendirian tanpa seorang suami. Ya, dia melaporkan Riko ke pihak berwenang dan akhirnya lelaki itu pun di jatuhi hukuman tentang pasal KDRT. Bukti yang di kumpulkan sangat akurat bahkan ada saksi mata, yang mana membuat Riko tidak bisa mengelak dari perbuatannya itu dan dia harus mempertanggungjawabkan semuanya.


Nita juga sudah menggugat cerai Riko, dia sempat takut karena Riko mengancam akan menghabisi nyawa Nita jika dia sudah keluar dari penjara. Tetapi, Nita mencoba tidak takut dan berpikir kalau semua itu hanyalah gertakan.


Pagi hari yang cerah ini, Nita akan melamar kerja di perusahaan terbesar di kota itu. Keadaanya semakin membaik dan dia harus mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri. Meski orang tua Nita terbilang kaya raya, dia tidak ingin bergantung kepada orang tuanya dan ingin hidup Mandiri.


"Jangan sampai aku telat karena pasti aku tidak akan mendapatkan pekerjaan itu," gumam Nita sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya kala dia berada dalam perjalanan menggunakan taksi.


Nita belum tahu jika perusahaan yang akan dia datangi adalah milik Abian, pria tampan nan mempesona.


Beberapa menit kemudian, sampailah Nita di gedung mewah nan tinggi yang menjulang ke atas. Bisa di perkirakan jika gedung itu memiliki lima belas lantai, kepala Nita sampai pusing saat dia melihat puncak gedung itu.


"Jika saja terjun dari atas gedung itu, sudah bisa di pastikan tidak akan selamat dan mungkin tubuh pun menjadi remuk." ucap Nita berkhayal, dia mengedikkan bahu lalu masuk ke lobi kantor.


Satpam menghentikan langkah Qanita dan tentu saja Nita mengucapkan niatnya. Setelah mendengar alasan Nita datang ke kantor itu, satpam memperbolehkan dia masuk dan Nita pun segera menghampiri meja resepsionis.


"Maaf, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang resepsionis yang bernama Anggun.


"Saya dengar di perusahaan ini sedang membuka lowongan pekerjaan, jadi saya datang untuk melamar kerja." ujar Nita.


"Baik, mari saya antar ke ruangan Tuan Anderson." ujar sang resepsionis, dirinya berjalan mendahului Nita.


Sesampainya di ruangan Abian, Nita di persilahkan masuk dan dia melihat ada seorang pria tengah duduk di kursi. Nita tidak bisa melihat wajah pria itu sebab dia menghadap belakang.


"Permisi, Tuan." sapa Nita sopan dan lembut.


Abian seakan mengenal suara itu, dia memutarkan kursinya dan melihat sosok Nita di hadapannya.


Nita pun tak kalah terkejut, dia tercengang ketika melihat Abian yang ternyata adalah pemilik perusahaan AAN GROUP.


"T—tuan Abian?"


Abian tersenyum tipis, dia mempersilahkan Nita untuk duduk.

__ADS_1


"Maaf, Mbak Nita. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bian sopan dan ramah.


Nita mengedipkan matanya berkali-kali, dia menyodorkan CV lamaran kerja pada Abian. Sementara Abian, dia langsung membaca CV milik Nita.


"Jadi, Anda ingin melamar pekerjaan di kantor ini?"


Nita mengangguk, mulutnya seakan sulit untuk mengucapkan sepatah kata saja.


"Saya sudah membaca CV Anda, sepertinya Anda cukup berpotensi dan juga dulunya sudah memiliki pengalaman kerja."


Nita tersenyum manis. "Lalu, apakah saya bisa di terima untuk bekerja disini?"


Abian mengangguk sejenak. "Saya yakin Anda adalah orang yang tepat untuk di tempatkan sebagai sekertaris pribadi saya. Mbak Nita, saya harap, Anda bisa bekerja dengan baik dan jangan mengecewakan saya."


Nita berbinar, dia sungguh bahagia mendengar pernyataan dari Abian.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak, kalau begitu kapan saya bisa mulai bekerja?"


"Besok saja, sekarang Mbak Nita pulang dan istirahat."


"Saya permisi, Tuan. Terima kasih sekali lagi," ucapnya senang.


"Sama-sama." jawab Abian tulus diiringi senyum tipis.


Nita keluar dari ruangan Abian, dia bersorak riang setelah berada di dalam lift.


"Akhirnya aku bisa bekerja lagi, semoga saja hariku semakin membaik." ujar Nita berdoa.


****


Sore harinya, Nita menyiapkan makan malam. Tidak ada lagi yang harus di pikirkan selain membahagiakan diri. Nita sudah tidak tinggal di rumah milik Riko, meskipun rumah itu adalah mahar pernikahan untuk Qanita. Dia lebih memilih pindah dari sana dan membeli rumah di sekitaran kompleks elit yang masih sama.


Terlalu banyak kenangan bersama dengan Riko di rumah mereka dulunya, Nita tidak ingin selalu ada di bawah bayang-bayang kenangan itu.


Wangi harum masakan sudah menyerbak ke seluruh ruangan, Nita memasak cukup banyak makanan karena dia ingin membagikan kepada tetangganya.

__ADS_1


Selesai memasak dan membungkus, Nita segera mengantarkan makanan itu ke rumah para tetangga.


"Wah, selamat ya, Mbak Nita. Semoga pekerjaannya selalu lancar." ucap salah satu tetangga Nita karena Nita mengatakan jika dia memberikan makanan karena di terima bekerja.


Nita ingin membagi kebahagiaan dengan orang-orang disekitar.


"Amin, terima kasih untuk doanya, Bu." sahut Nita diselingi senyum manis.


Dia melangkah pergi ke rumah tetangga lainnya dan doa yang sama pula Nita dapatkan. Dirinya cukup bersyukur saat ini.


"Tinggal sisa satu bungkus, semua udah dibagi. Apa aku harus memberikan kepada tetangga yang cukup jauh dari rumahku? Tapi tidak mungkin jika hanya satu," gumam Nita seraya mengedarkan pandangan.


Tak lama kemudian, Nisa yang baru saja pulang dari bekerja mengerutkan dahi karena melihat keberadaan Nita. Namun, dia tetap melajukan kendaraannya dan enggan untuk memperdulikan wanita itu.


Nita, yang ternyata melihat keberadaan Nisa langsung memanggil gadis itu membuat Nisa langsung menginjak rem secara mendadak.


"Apa kau ingin membuat aku mati?" teriak Nisa dengan kesal. Untung saja tidak terjadi sesuatu, karna jika tidak habislah wanita itu ditangannya.


Nita langsung menghampiri gadis itu tanpa memperdulikan kekesalan Nisa. "Ini untukmu." dia pun menyodorkan bungkusan berwarna hitam pada gadis itu.


Nisa melirik bungkusan itu dan memicing ke arah Nita. "Apa ini?" tanyanya dengan curiga.


"Ambil saja, kau akan tahu sendiri apa isinya."


"Tidak, terima kasih!" tolak Nisa waspada, karena biar bagaimanapun hubungannya dan Nita masih belum membaik.


"Kenapa? Ini cuma makanan aja kok," tukas Nita yang mencoba untuk menahan kesabarannya.


Kemudian mereka berdua saling tatap dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.




TBC

__ADS_1



__ADS_2