Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 38 Kekhawatiran seorang Ibu


__ADS_3

Abian berlari menghampiri dua wanita itu, dia sangat khawatir dengan keadaan mereka. Setelah sampai di dekat kedua wanita tersebut, dia menolong Nita terlebih dahulu. Terlihat raut wajah khawatir yang dirinya keluarkan. Hal itu tentu saja membuat Nisa melongo karena Bian lebih memilih untuk menolong Nisa.


"Argh, kakiku." lirih Nita kesakitan.


"Apa sangat sakit? Ayo, aku akan menggendongmu." Abian berdiri sambil menggendong Nita ke gazebo.


Sementara Nisa, dia masih terdiam di tempatnya. Dirinya hendak berdiri karena dia baik-baik saja. Tetapi, para pekerja mendatangi Nisa.


"Nona, apa Anda baik-baik saja? Butuh pertolongan?"


Nisa hanya menggunakan dengan senyum tipis. "Aku baik-baik saja, lanjutkan saja pekerjaan kalian." ucapnya pada dua pria yang ada di dekatnya.


Kedua pria itu pergi dan Nisa pun langsung menghampiri Abian.


"Permisi, Tuan. Bagaimana keadaan Mbak Nita?" tanya Nisa berusaha tegar.


"Kakinya membengkak, mungkin dia terjatuh cukup kuat." jawab Abian sambil melirik Nita yang masih meringis kesakitan dan keluar keringat di dahinya.


"Sakit sekali," rintih Nita mengerang.


"Apa kita pulang sekarang? Aku akan membawamu ke rumah sakit agar kau bisa mendapatkan penanganan." tawar Abian tulus.


Nisa hanya diam saja melihat interaksi keduanya, dia tersenyum getir dan menghela napas pelan. Ya, cinta tidak bisa di paksa dan cinta juga tak harus memiliki. Kebahagiaan adalah hal yang paling penting dalam hidup ini daripada keegoisan semata.


Nisa yakin, jika Abian tertarik pada Nita karena terlihat dari reaksinya ketika mengetahui keadaan Nita saat ini.


"Jika kalian ingin pulang, silakan duluan saja. Aku akan memantau proyek ini sejenak." saran Nisa membuat Abian mengangguk.


"Ayo, Nita. Kau tidak boleh menolak karena ini demi kebaikanmu juga." Abian sedikit memaksa.


Nita melirik Nisa dengan tatapan tidak enak, dia tahu bagaimana perasaan Nisa pada Abian karena keduanya terkadang kerap kali saling curhat masalah pribadi masing-masing. Abian tetap memaksa dan Nisa juga mendukung hingga mau tidak mau, Nita mengikuti kemauan Abian untuk pulang terlebih dahulu.


"Hati-hati!" teriak Nisa dan membuat Abian mengangguk.


Nisa menatap kepergian keduanya dengan rasa sedih, dadanya sesak tetapi dia tidak bisa menyalahkan siapapun.

__ADS_1


"Ya, aku memang tidak bisa menyalahkan siapapun karena ini sudah takdirku. Jadi, apa aku harus menyalahkan takdir itu? Tidak-tidak, semua ini sudah scenario dari Allah dan aku hanyalah seorang pemain. Berharap akan bahagia? Itu pasti, tetapi aku tidak tahu kapan hal itu menghampirku." Nisa tersenyum hambar, lalu dia kembali mengecek proyek pembangunan dan melupakan makan siangnya.


****


Keesokan harinya.


Nita masih terbaring di atas ranjang, dia tidak boleh mengerjakan pekerjaan apa pun dan itu adalah permintaan dari Nisa. Gadis itu mengingat saat kakinya sakit dan Nita melarangnya untuk mengerjakan apa pun. Ya, saat ini Nita berada di posisinya dulu.


Pintu kamar terbuka dan terlihat Nita sedang berbicara lewat sambungan telepon.


"Aku baik-baik saja, Ma. Hanya keseleo saja dan kemungkinan beberapa hari lagi sudah sembuh. Mama tidak perlu khawatir, yang penting jaga kesehatan Mama."


📱"Bagaimana jika Mama datang kesana, sebelum melihat keadaanmu dengan mata kepala Mama sendiri, Mama tidak akan bisa tenang.''


"Mama, kenapa begitu berlebihan?"


Nisa duduk di tepi ranjang, dia membawakan sarapan untuk Nita. Dirinya bertanya lewat isyarat dan dijawab bisikan oleh Nita.


"Mamaku," ucap Nita berbisik.


📱"Mama takut terjadi sesuatu yang serius dengan kakimu, Nak." ucap Aini.


"Huft, baiklah jika Mama masih keras kepala. Kalau begitu Mama datang saja ke rumahku agar pikiran Mama bisa kembali tenang."


📱"Nah, ini baru bener. Mama akan segera pergi kesana dan berpamitan pada Papamu terlebih dahulu."


"Tapi, Ma. Jangan sampai Papa tahu tentang keadaanku, aku yakin Papa pasti juga akan ikut khawatir. Katakan saja jika Mama hanya ingin berkunjung dan merindukanku." saran Nita membuat alasan.


Setelah semuanya oke, sambungan pun terputus. Nita meletakkan ponselnya di atas ranjang dan dia menatap Nisa yang masih setia di sampingnya.


"Hei, maaf membuatmu menunggu. Kau membawakan sarapan untukku? Kenapa harus repot-repot seperti ini?" Nita melirik nampan yang ada di atas meja.


"Tidak repot sama sekali, Mbak. Aku merasa senang bisa merawat dan menjagamu." sambung Nisa tulus.


"Terima kasih," balas Nita tak kalah bahagia.

__ADS_1


Nisa ingat jika dia penasaran dengan sosok Mama yang tadi Nita katakan. Dia pun berniat untuk bertanya siapa sang Mama itu.


"Mbak, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Ya, katakan. Sebisa mungkin aku akan menjawabnya," ucap Nita sambil mengunyah roti panggang selai kacang buatan Nisa.


"Aku sangat penasaran dengan Mama yang tadi Mbak Nita katakan. Bukannya Mama Mbak Nita sudah tiada? Ya, aku hanya dengar-dengar ceritanya saja. Lalu, siapa Mama yang tadi menghubungi Mbak Nita?" tanya Nisa.


Nita menghentikan kunyahannya, dia menenggak susu yang ada di dalam gelas. Dirinya menyandarkan tubuh di kepala ranjang, raut wajahnya sendu dan sedih.


"Mbak, ada apa? Jika kau tidak siap menjawab pertanyaanku maka kau tidak perlu menceritakannya." Nisa mengelus pundak Nita.


Seketika raut wajah Nita berubah jadi berbinar.


"Siapa bilang aku tidak bersedia untuk bercerita? Baiklah, dengarkan beritahu ini." Nita menghela napas lalu mulai menceritakan tentang pertemuan Papanya dan sang Mama tiri.


Nisa mendengarkan dengan seksama, ada rasa iri dihatinya karena Nita mendapatkan seorang Ibu sambung yang sangat baik seperti itu. Sementara dia, dirinya pun memiliki Ibu sambung tetapi tidak sebaik Ibu Nita saat ini. Bahkan, kehidupan mereka terbilang berbanding terbalik.


"Kau pasti sangat bahagia karena memiliki Ibu sambung seperti itu,"


"Tentu saja, Nisa. Dia sangat baik, perhatian, dan sangat menyayangi aku layaknya anak kandung sendiri. Bahkan, dia tidak pernah memperlakukan aku berbeda ketika ada Papaku atau tidak. Aku sangat bersyukur karena mendapatkan sosok Ibu pengganti sepertinya," Nita berkata sambil menatap lurus ke depan dan tersenyum lebar.


Berbeda dengan Nita, saat ini Nisa sungguh miris memikirkan hidupnya. Namun, dia tetap ingin menjadi dirinya sendiri. Dari hal yang di jalani selama ini dia bisa belajar menjadi sosok wanita kuat, dewasa, tangguh dan tidak cengeng.


"Nisa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk—" perkataan Nita terputus karena suara ketukan pintu yang cukup kencang.


Kedua wanita itu saling tatap dan mengedikkan bahu mereka bersamaan.


•


•


TBC


YUK MAMPIR KE NOVEL KARYA DARI TEMAN OTHOR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN DUKUNGANNYA 🥰

__ADS_1



__ADS_2