Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 72 Melamar Nisa secara Resmi


__ADS_3

Dua hari kemudian, Nisa pulang ke rumah sang Ayah. Ya, tentu saja hal itu membuat Mona dan Mira tidak suka akan kedatangan Nisa di rumah itu. Padahal mereka seharusnya sadar jika rumah tersebut adalah milik Irwan.


Mona berpura-pura ramah, dia tersenyum dan menyapa Nisa seperti biasanya. "Nisa, akhirnya kau kembali di rumah ini, Nak. Bagaimana kabarmu?" tanyanya ingin memeluk tubuh Nisa tetapi gadis itu dengan cepat menghindar.


Irwan tahu sikap sang putri, dia menatap Mona sambil mengelus pucuk kepala Nisa. "Mona, Nisa ini baru sampai. Biarkan dia istirahat dulu di kamarnya,"


Mona mendegus tetapi dia terus mengembangkan senyum palsunya. Sementara Nisa, gadis itu berjalan pergi menuju kamarnya.


Setelah itu, Irwan keluar dari rumah meninggalkan Mona yang terdiam di tempat. Wanita paruh baya tersebut berdecak sambil melihat ke arah kamar Nisa.


"Dasar gadis sialan! Kenapa dia harus kembali ke rumah ini? Membuat susah saja." gumam Mona seraya bersidekap.


****


Malam harinya, di rumah Irwan kedatangan Tian beserta kedua orang tuanya. Ya, mereka ingin meminang Nisa untuk Putra mereka yang tak lain adalah Tian. Sebagai orang tua, Irwan sangat setuju dan bahagia jika kedua anak mereka bisa bersama. Tetapi, berbeda dengan Mira yang tampak tidak suka dan melongo.


"Ma," rengek Mira sambil menggoyangkan lengan Mona.


"Sst, diamlah!" bentak Mona pelan namun penuh tekanan.


Mira akhirnya hanya bisa diam, dia tidak bisa menyatakan ketidaksetujuan pernikahan Nisa dan Tian.


"Bagaimana, Irwan? Aku sudah mencari tanggal baik itu dan berketepatan dua Minggu lagi. Ya, setelah dua Minggu itu, tidak ada lagi tanggal baik dan kemungkinan akan menunggu lama untuk bisa melangsungkan pernikahan."


"Aku setuju, sangat setuju." Irwan melirik Nisa. "Dan ku rasa putriku juga setuju jika pernikahan akan dilangsungkan dua minggu lagi, benarkan, Nisa?"


Nisa mengangguk diiringi semburat merah di bagian pipinya. Dia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan menikah dengan Tian dalam waktu dekat ini.


"Tapi, om, yah, aku punya satu permintaan." Nisa menatap semua orang secara bergantian.


"Ya, katakan saja, Nak." jawab Papa Tian dengan ringan hati.

__ADS_1


"Aku ingin pernikahan kami di selenggarakan bersamaan dengan Mbak Nisa dan Tuan Abian yang juga sudah memiliki rencana untuk menikah."


"Tentu saja boleh, Nak. Bahkan itu sangat bagus karena dalam satu acara akan ada dua pasang pengantin sekaligus." ujar Ayah Tian bahagia dan setuju.


"Benarkah? Terima kasih, om." Nisa tersenyum senang, dia akan menghubungi Nita dan mengatakan semuanya.


Setelah berbincang, akhirnya Tian dan kedua orang tuanya pun pulang. Tinggallah Irwan, Nisa, Mona juga Mira yang masih ada di ruang tamu. Tak lama kemudian, Nisa pergi dari sana begitupun dengan Irwan.


"Ma, bagaimana ini? Bukannya aku yang akan menikah kak Tian? Aku gak terima, Ma!" Mira seperti ingin menangis.


"Sudahlah, Mira! Biarkan saja Nisa menikah dengan pemuda itu. Lagipula, masih banyak pria lain di dunia ini selain dia. Kau juga jangan lupa, sebentar lagi Nisa pasti akan keluar dari rumah ini untuk ikut suaminya. Ya, dia pergi tanpa paksaan siapapun. Dan kau tau maksud Mama?"


Mira menggeleng.


"Dasar anak bodoh!" Mona menyentil dahi Mira. "Itu berarti kita bisa dengan leluasa menikmati harta Irwan,"


Mira seketika tersenyum dan mengangguk paham. "Benar, Ma. Akh, aku sudah tidak sabar ingin shopping tanpa batas dan dibelikan ini itu tanpa harus berbagi."


"Anak pintar," Mona mengelus pucuk kepala Mira, mereka ingin pergi tetapi langkah keduanya terhenti karena suara Irwan.


Ibu dan anak itu menoleh ke arah pintu, mereka berpura-pura tersenyum manis.


"Mas, aku pikir kau pergi keluar. Dari mana saja?" tanya Mona berbasa-basi.


Irwan berjalan menuju sofa, dia duduk disana dan meminta kepada dua orang wanita itu untuk ikut duduk bersamanya.


"Mona, aku ingin memberikan ini untuk Mira." Irwan menyodorkan amplop berwarna cokelat itu pada Mona.


Mona tersenyum, dia melirik Mira lalu mengambil amplop berwarna cokelat yang Irwan berikan.


"Apa ini, Mas?" tanya Mona penasaran.

__ADS_1


"Buka saja, nanti kau akan tahu sendiri apa isinya."


Mona membuka amplop itu dengan tidak sabaran, senyumnya surut ketika dia melihat tulisan warisan untuk Mira. Tetapi senyumnya tidak tahan lama dan langsung memudar ketika dia sudah membaca isi kertas itu.


"Apa-apaan ini, Mas! Kenapa Mira hanya mendapatkan harta warisan sedikit begini?" teriak Mona tidak terima.


"Tidak perlu protes, Mona. Kau ingat siapa Mira bukan? Dia itu bukan anak kandungku, masih untung aku memberikan dia harta warisan. Kau tidak bersyukur? Baiklah, kalau begitu kembalikan surat itu dan aku tidak akan—"


"Aku menerimanya!" ketus Mona tidak ikhlas.


Irwan hanya tersenyum tipis. "Baguslah, semua harta warisan yakni rumah, properti lainnya dan perusahaan sudah ku balikkan menjadi nama Nisa. Jadi itu, cabang usaha kecil aku berikan untuk Mira. Kalian bisa mengelolanya dengan baik, dan aku yakin jika usaha itu bisa berkembang pesat di tangan kalian."


Mona hanya diam begitupun dengan Mira. Namun, mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa karena Mona tidak mempunyai anak kandung bersama dengan Irwan. Dia harus menerima semua ini, sebab Irwan sudah berbaik hati memberikan tempat tinggal gratis, uang bulanan lebih, dan warisan meski kecil.


"Aku berharap tidak ada iri-irian di antara kalian dan Nisa, Nisa itu adalah anak kandungku jadi aku berhak memberikan semua harta warisan padanya." Irwan beranjak dari sofa dan meninggalkan kedua wanita itu.


Setelah kepergian Irwan, Mona berdecak kesal dan dia melemparkan kertas itu ke meja.


"Argh, sialan! Baru saja kita ingin bersenang-senang, ternyata Irwan sudah selangkah lebih maju dari rencana yang baru saja kita pikirkan." Mona memijit pelipisnya.


"Ma, tapi bukannya kita memang harus bersyukur? Ayah sudah memberikan warisan padaku, padahal aku ini bukan anak kandungnya."


"Diamlah, Mira! Kau itu masih kecil, tidak tahu apa-apa. Warisan segitu kurang dan tidak cukup menurut Mama."


"Tapi masih untung, Ma."


Mona menatap Mira dengan tajam, dia pergi meninggalkan putrinya yang sedang mengerutkan dahi.


"Ma! Mama!" teriak Mira memanggil tetapi diabaikan oleh Mona, wanita paruh baya itu berjalan cepat menuju keluar rumah. Dia harus mencari udara segar untuk oksigen karena dadanya terasa sesak.


__ADS_1



TBC


__ADS_2