Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 65 Rahasia yang akhirnya terbongkar


__ADS_3

Abian tercengang dengan perkataan kasar yang Nita lontarkan padanya. Dirinya pun mencengkeram lengan wanita itu sambil mendekatkan tubuhnya dan saat ini jarak mereka hanya sekitar beberapa centimeter saja.


"Kenapa bicaramu kasar sekali, Nita? Kau tau, aku tidak suka melihatmu bersama dengan pria lain."


"Apa kau tidak sadar jika sebentar lagi kau akan menikah dengan Ni—" ucapannya terputus karena Abian menyela dengan cepat.


"Itu semua karena kemauanmu, bukan aku!" ketusnya penuh penekanan.


Keduanya saling bertatapan penuh perbedaan, Nita ingin sekali menjauh dari Abian tetapi sangat sulit untuk melakukan itu semua. Dia melepaskan cengkeraman Abian yang ada di lengannya.


"Aku mohon menjauhlah dariku, Tuan Abian Argantara! Kau tidak perlu sibuk ikut campur apa pun urusanku." kesalnya penuh kesedihan.


Abian merasa tidak terima dengan ucapan Nita, dia menatap wanita itu dan tanpa berpikir apa pun dirinya langsung memeluk tubuh Nita hingga membuat sang empunya terkejut.


"Mas, apa yang kau lakukan?''


"Nita, aku tidak bisa kasar denganmu. Aku sudah merelakan cinta kita dan akan menikah dengan Nisa. Tetapi sekarang, kau ingin aku diam jika kau bersama pria lain? Kenapa kau sama sekali tidak pernah memperdulikan perasaanku, Nita? Apa aku sama sekali tidak berharga di hatimu? Sedikit saja, aku hanya minta sedikit agar kau menghargai cintaku meskipun aku sudah bersama dengan wanita pilihanmu. Semua juga semata-mata karena permintaanmu, bukan keinginanku."


Deg!


Nisa yang kala itu mendengarkan percakapan keduanya langsung merasa sesak di dalam dada. Kakinya gemetaran dan matanya berkaca-kaca. Beberapa menit yang lalu dirinya sampai di restoran dan berhasil mengambil ponselnya. Tetapi, ketika hendak pergi dari restoran itu, tanpa sengaja dia melihat seseorang yang sangat dia kenal yaitu Nita.


Nisa bertanya-tanya dalam hati siapa pria yang bersama dengan Nita itu, bahkan dia baru sadar jika kakak tirinya tersebut ada di restoran yang sama dengannya. Saat Nisa ingin menghampiri Nita, langkahnya terhenti karena suara seorang pria yang tentu familiar di telinganya, juga postur tubuh serta pakaian yang dia kenal.

__ADS_1


"I—itu, itu seperti Mas Abian." ucapnya dan mengintip dari balik badan mobil yang tak jauh dari Nita juga Abian berdiri. Dari balik sana, Nisa dapat mendengar jelas percakapan yang mereka bicarakan.


Dirinya kaget bukan kepalang saat mereka berdua ternyata sedang bertengkar karena seorang pria. Nisa membekap mulutnya sendiri agar tangisannya tidak pecah di tempat itu. Dia sakit hati dan juga kecewa dengan Abian.


"Kenapa kalian berdua tega melakukan ini padaku? Apa, apa maksudnya?" air mata terus menetes di pipi Nisa.


Sementara posisi kedua orang berbeda gender itu tetap masih berpelukan. Bahkan, Abian enggan untuk melepaskan tubuh Nita darinya.


"Aku hanya minta agar kau menghargai cintaku, Nita. Jangan perlakukan aku seperti boneka yang hanya patuh dan memenuhi semua permintaanmu meskipun itu akan membuat diriku sendiri kecewa." pinta Abian sendu.


Sungguh Nita tidak bisa menahan kesedihannya, dia membalas pelukan Abian dan mengelus punggung pria itu dengan lembut. Sebanyak apa pun dia mencoba untuk menjauhi Abian, hatinya tetap terpatok pada pria itu. Tetapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur dan dia harus mengingat tujuan awalnya.


Di sisi lain, Nisa menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Dia seperti sulit menahan berat badannya sendiri, hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk pergi dari sana setelah semua kejadian yang sebenarnya terbongkar.


"Kenapa kalian melakukan ini padaku? Hiks. Apa kalian tidak memikirkan nasibku ke depannya? Bagaimana mungkin, aku menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintaiku? Bahkan, pria itu terpaksa meminangku karena sebuah tuntutan." Nisa menggeleng, dia berbicara lirih.


Dirinya mengambil ponsel dan melihat jam yang menunjukkan tepat pukul sembilan malam. Tujuannya saat ini hanyalah menenangkan diri, dan yang bisa melakukan itu adalah Tian. Nisa mencari taksi tetapi tidak ada yang lewat, dia nekat berjalan menuju ke apartemen milik Tian sambil mencari taksi.


Saat baru beberapa meter berjalan, cuaca terlihat tidak baik dan sepertinya akan turun hujan. Benar saja, baru ingin mencari tempat berhenti ternyata hujan sudah turun amat deras. Pakaian Nisa basah kuyup begitupun dengan ponselnya. Dia tetap berjalan tanpa ingin berhenti karena keadaan sudah basah.


Tak lama kemudian, dia menemukan taksi yang kebetulan lewat. Nisa pun memutuskan naik taksi dan mengatakan tempat tujuannya. Di dalam taksi, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri sambil menatap keluar jendela. Dia mengingat percakapan yang Abian dan Nita bicarakan, hatinya kembali merasa sedih, lalu tanpa sadar air mata pun menetes di kedua pipinya.


'Apa aku harus terus merasakan kesedihan? Aku pikir, Tuan Abian tulus ingin menikahiku. Padahal, hatiku sudah sangat bahagia karena akan menikah dengan pria yang ku cintai, dan aku sangat bersyukur karena Tuhan sudah membukakan pintu bahagia itu untukku, tetapi nyatanya apa? Semuanya hanya menjadi khayalanku semata. Apa mungkin aku ini ditakdirkan tidak bisa bahagia? Ini tidak adil untukku Tuhan,' batinnya berkata, tak hanya air mata saja yang mengalir deras tetapi hujan juga ikut turun dengan derasnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, sampailah Nisa di apartemen milik Tian. Dia tahu tempat itu karena Tian pernah sekali mengajaknya kesana untuk mengambil dokumen penting. Setelah turun dari taksi dan membayar, Nisa bergegas menuju ke pintu apartemen tersebut.


"Tian! Tian buka pintunya!" teriak Nisa sambil mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban, dia tetap saja mencoba untuk mengetuknya terus menerus dan pintu pun tetap tertutup.


"Kemana Tian?" tanya Nisa pada dirinya sendiri.


Beberapa menit dia menunggu dan akhirnya pintu itu terbuka. Betapa kagetnya Tian kala melihat Nisa yang ada di depan pintu apartemennya, gadis itu duduk di teras tanpa beralaskan apa pun.


"Nisa! Nisa, kenapa kau ada disini?" tanya Tian khawatir ketika melihat Nisa yang memejamkan matanya sambil menyandarkan tubuh di dinding.


Tanpa basa-basi, dia langsung menggendong Nisa dan membawanya masuk ke dalam. Niat hati ingin pergi ke supermarket gagal sudah karena melihat keadaan gadis itu.


"Nisa, bangun!" ujar Tian menepuk kedua pipi Nisa dengan pelan, mereka sudah ada di atas ranjang.


Perlahan, kedua kelopak mata milik Nisa terbuka. Dia melihat ke sekeliling dan merasakan pusing di kepalanya. Gadis itu tersenyum tipis kala melihat bayangan Tian yang muncul di depannya. Ya, dia pikir dirinya masih ada di luar apartemen padahal nyatanya dia sudah berada di dalam kamar.




TBC

__ADS_1


__ADS_2