
Setelah keterkejutan yang Nita lontarkan, saat ini mereka sudah berada di Sky hotel. Abian dan Nita sampai terlebih dahulu di tempat itu daripada Nisa. Beberapa saat menunggu, akhirnya CEO perusahaan Selaras Land datang bersama dengan orang kepercayaan sampai di hotel tersebut.
Sontak hal itu membuat Abian dan Nita beranjak dari tempat duduk mereka sambil berjabat tangan ramah dengan Heru sang CEO Selaras Land. Sementara di sudut lain, Anisa terkejut karena perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja adalah milik Abian.
'Jadi, perusahaan AB Group yang akan bekerja sama dengan perusahaan Tuan Heru? Astaga, kenapa bisa?' batin Nisa heran.
Anisa pun menjabat tangan Abian dan Nita seolah mereka baru saja bertemu. Kecanggungan timbul di hati ketiganya, Nita sendiri entah mengapa tidak nyaman berada di posisi seperti ini.
"Bagaimana kabarmu, Tuan Argantara?" tanya Heru sopan.
"Seperti yang Anda lihat, Tuan Abraham. Saya sudah memesan beberapa menu, apa kita akan malak terlebih dahulu atau langsung membicarakan masalah pekerjaan?"
Heru melirik Anisa sejenak yang hanya diam saja.
"Bebas, saya ikut saja."
Abian pun memutuskan agar mereka merundingkan masalah pekerjaan terlebih dahulu baru setelah itu makan siang bersama.
Beberapa menit kemudian, kerja sama pun akhirnya di tetapkan dan sekitar tiga minggu lagi proyek akan di kerjakan.
"Nah, makanan sudah datang." ucap Abian setelah mereka selesai membahas masalah projects bersama.
Saat makanan sudah di letakkan ke meja, Abian pun menatap Anisa.
"Anisa, aku memesankan makanan yang mungkin kau sukai. Ya, aku tidak tahu makanan kesukaanmu, jadi asal menebak saja." ucap Abian membuat Anisa terkejut.
"T—tuan, seharusnya Anda tidak perlu repot-repot seperti ini." ujarnya merasa tidak enak.
"Tidak masalah, ini hanya sekedar makanan."
Heru yang melihat keakraban antara Abian dan Anisa cukup heran karena pasalnya, dia memang tidak mengetahui jika kedua orang itu tinggal di satu kompleks yang sama.
"Nisa, apa kau dan Tuan Argantara saling mengenal?"
Anisa mengangguk sejenak.
__ADS_1
"Kebetulan kami tinggal di satu kompleks yang sama, Tuan Abraham."
Heru pun tertawa kecil. "Pantas saja kalian terlihat cukup akrab, kenapa Nisa tidak memberitahu jika dia dan Anda tinggal di kompleks yang sama?"
"Saya rasa, itu tidak terlalu penting, Tuan." Nisa menjawab pertanyaan Heru
Sementara Nita, dia hanya terdiam tanpa ingin berbicara sepatah kata pun. Dirinya cukup merasa iri karena Abian memberikan perhatian lebih kepada Anisa.
'Ada apa denganku?' batin Nita saat merasakan sesak di dalam dadanya.
Disisi lain, Anisa melirik Abian sejenak dengan senyum tersembunyi. 'Mengapa Tuan Abian begitu perhatian denganku? Ada apa ini?'
****
Setelah selesai membahas masalah proyek, mereka semua pulang ke perusahaan masing-masing. Abian dan Nita hanya saling terdiam di dalam mobil, terkadang wanita itu mencuri pandang menatap Abian.
"Ada apa, Nita?" tanya Abian yang menyadari jika Nita menatapnya.
Nita langsung gugup, dia bingung harus mencari alasan apa. "T—tidak, Tuan." ucapnya asal.
"Tentu, mana mungkin saya bisa menolaknya."
'Meskipun sebenarnya aku ingin menolak agar tidak bekerjasama dengan wanita itu,' lanjut Nita dalam hati sambil menghela napas kasar.
"Tuan, saya ingin mengunjungi Mas Riko. Apa Anda akan mengizinkan? Mungkin saya bisa turun di ujung sana saja dan akan menaiki taksi untuk ke kantor polisi." ucap Nita sambil menunjuk jalan.
Abian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Mengapa tidak bersamaku? Aku akan mengantarmu dan ikut melihat keadaan Tuan Riko." tawar Abian
"Tapi —"
"Sudah, tidak masalah. Kau tidak perlu merasa canggung," Abian menepuk pundak sang sopir dan mengatakan jika neraka ingin pergi ke kantor polisi.
Mobil pun melaju ke tempat tujuan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di kantor polisi. Kebetulan jam masih menunjukkan pukul satu siang dan jam besuk masih berlaku. Tetapi, mungkin hanya sejenak.
Abian dan Nita masuk ke dalam kantor polisi, mereka mengatakan ingin menjenguk tahanan bernama Riko Kurniawan. Polisi tersebut langsung mengarahkan kepada Nita dan Abian agar ikut dengannya untuk bertemu dengan Riko.
Sesampainya di ruang besuk, terlihat Riko berjalan menghampiri keduanya yang sudah duduk di kursi. Seketika senyum dibibir Nita tersungging. Ya, meski bagaimana pun, Riko pernah ada di dalam hatinya dan menemani hari-harinya selama beberapa tahun mereka berpacaran.
"Mas, apa kabar?" tanya Nita berbasa-basi.
Riki tidak menjawab pertanyaan Nita, dia malah berdecih melihat sikap sok santun mantan Istrinya itu.
"Maaf, aku baru menjengukmu hari ini. Kesibukanku sangat padat, aku tidak bisa selalu mengunjungimu."
"Tidak ada yang memintamu datang ke tempat ini, bahkan aku juga tidak pernah berharap jika kau datang mengunjungiku! Aku yakin, kau datang kesini hanya ingin menertawakan aku bukan? Kau puas melihat keadaanku saat ini 'kan?" tanya Riko dengan nada sedikit meninggi.
Nita hanya menggeleng, dia benar-benar tidak memiliki niat jelek sedikit pun. Dirinya malah sangat iba dengan keadaan Riko saat ini.
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" Nita bertanya sedih.
"Tidak usah munafik, kau memasang wajah melas itu karena ada pria ini di dekatmu 'kan?" Riko menunjuk Abian.
"Tuan, kenapa Anda membawa-bawa keberadaan saya? Saya datang kesini hanya sekedar mengantarkan Nita saja," bela Abian untuk dirinya sendiri.
"Cih! Kalian berdua sama-sama munafik! Kalian pasti sedang bahagia di atas penderitaanku." pungkas Riko kesal.
''Kau memang tidak akan pernah bisa berubah, Mas."
"Ya, inilah aku! Sekarang lebih baik kalian pergi dari tempat ini dan jangan pernah menemuiku lagi. Pergi!" bentak Riko tak terkendali.
Abian tidak menyangka jika Riko masih tetap sama seperti dulu, sikapnya tidak berubah sama sekali meskipun dia sudah di penjara. Pria itu mengajak Nita pergi dari tempat tersebut sebelum Riko mengamuk dan semakin hilang kendali.
Nita cukup sedih dengan perilaku Riko yang tidak pernah berubah, niatnya ingin tetap menjaga silaturahmi tetapi hasilnya malah seperti ini. Dia pun mengikuti langkah Abian dari belakang sambil sesekali melirik ke arah Riko yang sudah berjalan pergi menuju ke dalam sel jeruji besi.
•
•
__ADS_1
TBC