Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab 17. Perubahan yang terjadi


__ADS_3

Kemudian ayah Irwan dan tamunya beralih menceritakan tentang hal lain, sementara Mira terus menempel pada Tian yang sebenarnya sudah merasa sangat gerah.


"Bisa tolong lepaskan tanganku, Mira?" pinta Tian membuat Mira langsung cemberut.


"Kamu gak suka ya, kalau aku dekat kayak gini?" tanya Mira dengan sedih, padahal dia sudah sangat bahagia saat mengetahui kalau laki-laki itu kembali ke tempat ini.


Tian hanya tersenyum saja untuk menanggapi ucapan Mira. Lalu perhatiannya teralihkan pada sosok Nisa yang berjalan di tangga, terlihat wanita itu berjalan ke arah dapur sambil membawa sebotol minuman.


Mira yang tau arah pandang Tian langsung berdecak kesal. Awas saja kalau Nisa berani dekat-dekat dengan Tian, maka dia akan memberi pelajaran pada wanita itu.


"Tian!"


Tian tersentak kaget saat mendengar panggilan Mira. "Y-ya?" dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mira.


"Kau sedang melihat apa sih dari tadi? Aku bicara tapi tidak kau dengarkan!" kesalnya sambil bersedekap dada.


"Ah, maaf. Kau bicara apa tadi?"


Walaupun merasa kesal, Mira tetap mengatakan apa yang tadi dia ucapkan dan lanjut mengobrol dengan Tian.


Sementara itu, Nisa yang berada di dapur segera mengisi botol minumnya dengan air. Terlihat seorang pembantu sedang berjalan untuk mendekatinya


"Nona."


Nisa langsung melihat ke arah samping di mana sang pembantu berada. "Ya! Ada apa, Bik?" dia menatap wanita paruh baya itu dengan bingung.


"Makan malamnya sudah siap, apa Nona mau makan di kamar?"


Nisa tersenyum lebar sambil menepuk bahu pembantunya itu. Di rumah ini, memang dia paling dekat dengan para pembantu, karena sejak kecil dia lebih sering menghabiskan waktu bersama mereka ketimbang orang tuanya. Apalagi saat Mona datang ke rumah ini, dia bahkan hampir tidak pernah makan dimeja makan.


"Aku masih kenyang kok, Bik. Mungkin nanti-"

__ADS_1


"Kenapa tidak makan bersama ayah saja?"


Ucapan Nisa terpaksa terhenti ketika mendengar suara baritone seseorang, dan terlihatlah ayah Irwan sudah berdiri di belakangnya.


Nisa segera memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat untuk melihat ke arah belakang di mana ayahnya berada.


"Aku masih kenyang." jawab Nusa ketus.


Ayah Irwan menghela napas kasar. Lalu tanpa disangka-sangka, dia menggenggam kedua tangan Nisa membuat gadis itu tersentak kaget.


"Maaf kalau waktu itu ayah memarahimu, Nisa. Ayah tidak tau kejadian yang sebenarnya."


Ya, ayah Irwan sudah tau mengenai masalah rumah tangga Nita dan juga Riko. Dia bahkan mendengar dari orang-orang bagaimana Nisa menyelamatkan wanita itu, padahal Nisa sendiri sudah dicaci maki oleh mereka semua.


Nisa terdiam saat mendengar apa yang ayahnya katakan. Jantungnya berdegup kencang, dengan getaran aneh yang menyelimuti tubuhnya saat ini.


"Maafkan ayah, ya?" ucap ayah Irwan lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini dia mulai memikirkan Nisa, apalagi saat mengetahui bahwa putrinya itu tidak pernah berbuat buruk seperti apa yang orang-orang katakan.


"Apa yang sedang kau lakukan, ayah? Tolong jangan berubah seperti itu, karena hatiku tidak akan melunak karnanya," gumam Nisa sambil terus melangkahkan kaki menuju kamar.


****


Keesokan harinya, Nita sudah tampak cantik dalam balutan pakaian kerja. Hari ini dia akan mulai bergabung dengan perusahaan milik Abian, dan berharap kalau semuanya berjalan dengan lancar tanpa adanya kesalahan.


Dengan menenteng tas ditangan kanannya, Nita berjalan ke jalan raya untuk memanggil sebuah taksi. Kemudian dia segera berangkat dengan taksi tersebut ke tempat di mana perusahaan Abian berada.


Sesampainya di tempat tujuan, Nita segera membayar biaya taksi tersebut dan bergegas untuk masuk ke dalam perusahaan. Terlihat sudah banyak karyawan lain yang berlalu lalang di tempat itu.


Nita memasang wajah full senyuman sambil beberapa kali menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya, sampai akhirnya di sampai di depan ruangan HRD.


Tok, tok. "Permisi, Buk." Dia mengetuk pintu ruangan itu sambil meminta izin dari sang empunya ruangan.

__ADS_1


"Ya, masuk!"


Nita segera masuk ke dalam ruangan itu setelah mendengar balasan dari dalam ruangan, terlihat seorang wanita sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Ah, jadi Anda sekretaris baru tuan Argantara ya?"


Nita langsung menganggukkan kepalanya. "Benar, Buk. Tuan Abian memerintahkan kepada saya untuk menemui Anda terlebih dahulu."


"Baiklah, silahkan duduk."


Nita langsung duduk di depan wanita itu yang sedang sibuk mengambil sesuatu di dalam laci lemarinya, lalu setelahnya wanita itu meletakkan sebuah tab di atas meja.


"Ini jadwal kegitan tuan Argantara dalam minggu ini, saya sudah merekapnya sehingga Anda tidak bingung lagi nanti."


Nita segera mengambil pemberian wanita itu dengan senyum cerah. "Terima kasih, Buk."


"Sama-sama. Setelah itu, Anda harus mengaturnya sendiri. Dan tanyakan saja pada saya jika ada sesuatu yang tidak Anda pahami."


Nita langsung menganggukkan kepalanya dengan senang. "Sekali lagi terima kasih, Buk. Saya memang masih harus banyak belajar, dan semoga saya tidak membuat kesalahan."


Wanita itu tersenyum lalu mulai menjelaskan apa-apa saja yang harus Nita kerjakan, walaupun sebenarnya dia sudah tau tugas apa saja yang harus dikerjakan oleh seorang sekretaris.


Setelah selesai, Nita segera berjalan ke ruangannya. Dia merasa sangat senang karena orang-orang di perusahaan ini ternyata cukup ramah, walaupun dia hanya melihatnya dengan sekilas.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2