
Semua orang setuju dengan apa yang ayah Irwan katakan, tetapi tidak untuk Nisa yang sedang berpikir bagaimana caranya mengatasi semua ini.
Mona yang sejak tadi diam di tempat itu melirik ke arah Nisa dengan kesal, dia tidak suka kalau anak tirinya itu berlagak sok baik di depan banyak orang.
"Baiklah. Berarti malam ini kita langsung saja menentukan tanggal untuk pertunangan sekaligus pernikahan Nolan dan juga Nisa."
Nisa menghembuskan napas kasar sambil terkekeh pelan saat mendengar ucapan orang tua Nolan. Bagaimana mungkin dia akan menikah dengan Nolan? sementara dia saja tidak dekat atau pun memiliki perasaan terhadap laki-laki itu.
"Bagaimana kalau kita mengadakan pertunangannya bulan depan, tepat sekali bulan depan adalah hari ulang tahun Nolan." usul Bram yang terlihat sangat bersemangat sekali.
Ayah Irwan menganggukkan kepalanya. "Itu bagus sekali, Bram. Kita bisa mengadakan-"
"Maaf karna aku menyela ucapaanmu, Ayah," potong Nisa dengan cepat membuat semua orang beralih melihat ke arahnya. "Tapi, tidakkah kalian merasa harus menanyakan semua ini pada yang bersangkutan dahulu? Aku contohnya?" dia melihat sang Ayah dengan tajam.
"Di mana sopan santunmu, Nisa? Kenapa kau menyela ucapan orang tua?" ucap Mona seolah sedang mengingatkan gadis itu, padahal dia senang jika terjadi keributan antara Nisa dan juga mereka semua.
"Tidak papa, Mona. Apa yang Nisa katakan itu benar. Jadi, bagaimana menurutmu, Nisa?" tanya Riri dengan tersenyum tulus.
Ayah Irwan merasa gelisah dan tidak nyaman saat melihat raut wajah Nisa, dia berpikir kalau anaknya itu pasti akan membuat keributan.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf pada Om dan Tante, juga Nolan."
"Nisa!" peringatan dari Irwan.
Nisa melirik sejenak ke arah sang Ayah saat mendengar panggilan laki-laki paruh baya itu, tetapi dia tidak berniat untuk menanggapi panggilannya.
"Aku merasa senang bisa menikah dan juga menjadi menantu dikeluarga kalian. Tapi maaf, aku sama sekali tidak punya perasaan apapun pada Nolan." tatapan Nisa jatuh ke arah Nolan yang duduk tepat di hadapannya.
"Apa maksudnya, Nisa? Apa kau menolak pernikahan ini?" tanya Bram.
__ADS_1
"Be-"
"Tunggu dulu, Bram. Aku bisa-"
"Benar, Om Bram. Aku tidak ingin menikah dengan Nolan."
Ayah Irwan menatap Nisa dengan tajam. Rahangnya mengeras dengan apa yang gadis itu katakan, dan dia semakin emosi saat melihat Nisa tersenyum tipis ke arahnya.
"Bagaimana mungkin? Bukankah kau sendiri, yang mengatakan pada ayahmu jika bersedia menikah dengan Nolan?"
Nisa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah mengatakan hal itu, Om. Bahkan Sejak awal aku menolak perjodohan ini."
"Nisa!" Ayah Irwan menatap tajam ke arah Nisa untuk menghentikan ucapan gadis itu, tetapi lagi-lagi Nisa sama sekali tidak peduli.
"Sekali lagi aku meminta maaf,
"Cukup, Nisa!" bentak ayah Irwan dengan suara tertahan, tangannya sudah akan menarik tangan Nisa, tetapi dia masih menahan diri di hadapan keluarga Nolan.
"Kenapa, Nisa? Mengapa kau tidak menyukaiku?" tanya Nolan dengan tajam.
Nisa langsung menepis tangan laki-laki itu. "Ikut aku, kita harus bicara 4 mata." dia lalu berbalik dan berjalan pelan keluar dari rumah, tentunya dengan diikuti oleh Nolan.
Setelah sampai di luar rumah, Nolan kembali bertanya kenapa Nisa tidak mau menikah dengannya.
"Maaf, Nolan. Seperti yang sudah aku katakan tadi, aku sama sekali tidak ada perasaan padamu. Jadi, tidak mungkin kita menikah."
"Perasaan itu akan ada seiring berjalannya waktu, Nisa. Dan ya, selama ini kan kita jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Mungkin jika kita terus bersama, kau akan mencintaiku."
Nisa tersenyum saat mendengar apa yang Nolan katakan. "Tapi itu masih mungkin kan, Nolan? Bagaimana jika aku tetap tidak bisa mencintaimu? Aku tidak bisa! Lagi pula, ada seseorang yang saat ini kehadirannya sedang memenuhi pikiranku," ucap Nisa. Dia tidak mau jika harus menikah dengan cara seperti ini.
__ADS_1
"Hah, sudah ku duga." Nolan tertawa sinis membuat Nisa mengernyitkan kening. "Aku tau kalau semua ini hanya alasanmu saja, Nisa. Kenyataannya kau menyukai laki-laki lain. Apa dia yang mengantarmu tadi?"
Nisa langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tapi siapa pun orang yang aku sukai, itu tidak ada hubungannya denganmu, Nolan."
"Tentu saja ada, Nisa. Kau adalah calon istriku, tidak mungkin aku diam saja saat kau menyukai orang lain!" bentak Nolan membuat tubuh Nisa tersentak kaget.
"Aku bukan calon istrimu, karna sejak awal aku tidak menyetujui perjodohan di antara kita. Jadi maaf, tolong jangan menggangguku lagi." Nisa langsung berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nolan yang mematung penuh emosi di tempat itu.
"Kau lihat saja, Nisa. Aku tidak akan membiarkanmu bersama dengan laki-laki itu!" Nolan mengepalkan tangannya dengan penuh emosi.
Nisa sama sekali tidak peduli dengan semua yang terjadi. Dia terus berjalan masuk ke dalam rumah dengan menahan sakit di kakinya.
Ayah Irwan yang sedang berusaha untuk meyakinkan keluarga Nolan jika apa yang Nisa katakan adalah salah, ternyata gagal. Bram dan juga istrinya tidak mau jika Nisa menikah dengan Nolan karena terpaksa, dan bukan atas kemauannya sendiri.
"Kami permisi, Irwan." pamit Bram membuat Irwan merasa tidak enak hati.
"Tolong dipikirkan lagi, Bram. Nisa tidak serius dengan apa yang dia katakan, mungkin dia sedang merasa tertekan dengan pekerjaan sehingga mengatakan hal seperti itu." ucap ayah Irwan, dia tidak ingin perjodohan ini menjadi gagal.
"Sudahlah, Irwan. Kami paham betul apa yang Nisa katakan tadi. Jadi, lebih baik kita batalkan semua ini sebelum terlambat." Bram menepuk bahu ayah Irwan lalu mengajak istrinya untuk pergi dari rumah itu.
Ayah Irwan tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat kepergian mereka. "Kau benar-benar keterlaluan, Nisa! Ayah hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu, tapi kau malah menghancurkannya."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
YUK TINGGALKAN JEJAKNYA 🌹