
Setelah kepergian keluarga Nolan, Irwan pun bergegas menuju ke kamar Nisa. Dia membawa segala kekesalan dan rasa malu yang telah Nisa tinggalkan. Sesampainya di depan kamar sang putri, Irwan pun mengetuk pintu dengan cukup kencang.
"Nisa, Nisa buka pintunya!" teriak Irwan, di belakangnya ada Mona yang selalu membuntuti.
Nisa yang kala itu baru saja selesai mandi, langsung berjalan menuju ke arah pintu kamarnya. Dia membuka pintu tersebut dengan raut wajah tenang. Sementara Irwan, matanya memerah dan melotot karena emosi mendidih.
"Kenapa kau melakukan ini? Kau sengaja ingin mempermalukan aku, hah!" bentak Irwan tanpa mengerti perasaan Putrinya tersebut.
Nisa hanya diam saja, dia enggan berdebat dengan sang Ayah.
"Jawab, Nisa! Apa kau tuli sehingga tidak bisa mendengarkan pertanyaan Ayah?"
Nisa mendongak, dia menatap sang Ayah dengan rasa kesal dan lelah.
"Aku cukup lelah, Ayah! Apa lagi yang harus ku jelaskan? Aku sudah mengatakan pada Ayah jika aku tidak suka dengan sebuah perjodohan atau apa pun itu. Apa Ayah pernah mendengarkan keinginanku agar tidak ikut campur dalam masalah mencari seorang suami?"
"Tapi ayah melakukan ini demi kebaikanmu! Apa kau mengerti itu?" tanya Irwan dengan suara meninggi.
"Kebaikanku atau kebaikan kalian semua? Sungguh lucu sekali, Ayah lebih mementingkan ucapan istri baru Ayah dibandingkan aku anak kandung Ayah sendiri. Aku tahu jika Ayah melakukan semua ini atas dasar saran dari wanita itu!" Nisa menunjuk Mona.
"Nisa," lirih Mona memasang wajah sedih.
'Cih, dasar be*de*bah!' tukas Nisa dalam hati.
"Nisa, jaga sikapmu! Ayah tidak pernah mendidikmu untuk menjadi kurang ajar seperti ini!"
"Kenapa, hah! Kenapa, Yah? Ayah tidak suka dengan sikapku, iya? Ayah lebih peduli dengan wanita itu dari pada aku. Jujur, aku sangat kecewa dengan Ayah, sangat kecewa.'' lirih Nisa di akhir kalimatnya, matanya memerah dan genangan air sudah terkumpul di pelupuk matanya.
Irwan menarik napas, sesungguhnya dia masih sangat kesal atas kelakuan dan keputusan dari Nisa.
"Nisa, dia itu sekarang sudah menjadi ibumu. Dia orang tuamu juga dan kau harus sopan bicara dengannya."
"Ibu? Sampai kapan pun dia tidak akan bisa menjadi ibuku, tidak akan bisa!" tukas Nisa emosi.
__ADS_1
"Baik, jika kau tidak mau mendengarkan ucapan Ayah lagi, sebaiknya kau pergi dari rumah ini. Angkat kaki dan jangan pernah datang kesini lagi!" teriak Irwan mulai hilang kendali.
Seketika senyum Mona terbit saat mendengar Irwan mengusir anak kandungnya sendiri.
Nisa mengangguk, dia melirik Mona yang terlihat sangat puas dengan pertengkaran ini.
"Baik, baik jika itu mau Ayah! Aku akan angkat kaki dari rumah ini agar Ayah puas!" putus Nisa yakin.
Dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kencang, hal itu membuat dua orang tua yang ada di depan pintu kamar terkejut dan terjingkat kaget.
"Anak itu benar-benar," Irwan menggelengkan kepalanya.
"Mas, kau harus sabar. Mungkin Nisa sedang banyak pikiran sehingga dia bicara asal seperti itu," Mona berusaha manis dan menenangkan Irwan.
Irwan tersenyum ke arah Mona, dia mengelus tangan istrinya itu yang ada di pundaknya.
Di dalam kamar, Nisa duduk di tepi ranjang dengan dada yang naik turun menandakan dia sedang emosi tingkat tinggi. Dirinya melemparkan bantal, selimut dan barang-barang lainnya ke lantai. Semua berserakan dan kamar itu sudah terlihat seperti kapal pecah.
Tubuh Nisa luruh di lantai, dia menitikkan air mata sambil bersimpuh memeluk lututnya sendiri. Dia merasakan sakit yang bersamaan antara kakinya dan hatinya. Jujur dia sangat kecewa dan lelah dengan keadaan ini, sikap Irwan semakin tidak bisa terkendali setelah dia menikah dengan Mona.
Dari awal, Nisa tidak setuju dengan penikahan mereka yang menyebabkan sang Mama pergi. Namun, Irwan tetap bersikeras menikah dengan Mona dan terjadilah hingga saat ini. Nisa memukul dadanya yang terasa sesak, dia ingin sekali mencabik-cabik wajah Mona yang bermuka dua itu.
"Kenapa semua ini harus terjadi padaku?" lirihnya.
Nisa menghapus air mata yang terus mengalir di pipi, dia melakukannya dengan kasar.
"Aku benci, aku benci dengan air mata! Aku tidak mau terlihat lemah, aku tidak suka," ucapnya sambil terus menghapus air mata.
"Baiklah, aku harap kepergianku ini bisa membuat Ayah sadar jika anak kandung lebih penting daripada istri baru dan anak tirinya. Meksipun aku sudah keluar dari rumah ini akan tetapi, aku tidak akan pernah membiarkan kedua ular berbisa itu menguasai harta Ayahku. Tidak akan, mereka tidak punya hak untuk hal itu." geram Nisa dengan tekad yang kuat.
Dia berdiri dengan menahan rasa sakit di kaki, dirinya berjalan ke lemari dan mengambil koper. Setelah koper berhasil di ambil, dia pun mulai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper tersebut. Saat sudah selesai berkemas, Nisa memegang bingkai yang terdapat foto dirinya, Mama, dan Ayah di dalam sana.
Terlihat mereka tersenyum bahagia akan kesempurnaan keluarga. Tetapi, semua itu tidak berlangsung lama karena kedatangan Mona.
__ADS_1
"Senyuman ini palsu, semuanya tidak ada yang tulus! Pertama, Mama pergi meninggalkan aku begitu saja dan kedua, Ayah sekarang sudah tidak peduli lagi denganku. Apa salahku? Jika mereka tidak menginginkan aku, setidaknya lebih baik bunuh saja aku ketika masih bayi." pungkas Nisa menahan rasa emosinya.
Setelah di rasa cukup, dia pun menarik koper dan berjalan keluar dari kamar. Nisa melangkah dengan pasti dan yakin bahwa dia memang akan meninggalkan rumah sang Ayah.
Kebetulan Irwan, Mona dan Mira berada di ruang tamu. Ketiganya menoleh dan menatap kaget ke arah Nisa.
"Nisa, kau mau kemana?" Irwan bertanya sambil berdiri dari tempat duduknya.
Nisa mengehentikan langkah kakinya dan dia melirik Irwan sejenak.
"Bukankah ini yang Anda inginkan, Tuan Irwan Prayoga?" ucap Nisa menekan setiap katanya. Bahkan, dia tidak memanggil Irwan dengan sebutan ayah.
"Kau, kau yakin ingin pergi dari rumah ini?" tanya Irwan lagi memastikan.
Nisa tersenyum miring. "Apa Anda melihat ada keraguan di wajahku? Aku tidak akan merasa tenang tinggal di rumah ini jika masih ada wanita itu!" lanjutnya sambil menunjuk Mona.
Irwan menghempaskan tangan Nisa dengan kasar dan itu membuat sang empunya tersenyum hambar. Ayahnya benar-benar sudah termakan oleh ucapan manis wanita ular tersebut hingga sama sekali tidak memperdulikan anak kandungnya.
"Aku yakin keputusanku ini sudah benar,"
"Ya, pergilah dan jangan pernah kembali!" usir Irwan yang mulai terpancing emosi.
Nisa tidak ingin berlama-lama, dia pergi keluar dari rumah itu dengan menggeret kopernya. Sebelum pergi, dia menyempatkan diri berbisik di telinga Mona.
"Jangan merasa puas, Nyonya Monalisa. Ragaku memang pergi dari rumah ini tetapi jiwaku, akan tetap memantau kalian berdua. Kau tidak perlu merasa menang karena semuanya belum berakhir sampai disini." itulah perkataan yang Nisa bisikkan di telinga Mona dan tentu saja tidak di dengar oleh siapapun.
Setelah berada di luar, Nisa menatap rumah sang Ayah yang selama dua puluh lima tahun ini dia tinggali. Dia menghela napas dan menyemangati dirinya sendiri agar jangan menjadi wanita lemah dan bo*do*h.
•
•
TBC
__ADS_1