
Nita segera beranjak untuk mendekati Nisa, dia harus menenangkan gadis itu agar bisa membicarakan semuanya secara baik-baik.
"Aku tau bagaimana perasanmu saat ini, Nisa. Tapi kita tidak bisa-"
Nisa mengangkat tangannya tepat di depan wajah Nita membuat ucapannya terpaksa berhenti. "Cukup, sudah cukup." dia lalu menatap Nita dengan sangat tajam.
"Nisa-"
"Aku tidak mau mendengar apa pun, dan aku juga tidak akan lagi bicara. Aku akan memgambil barang-barangku nanti," ucap Nisa lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.
"Tunggu, Nisa!" teriak Nita yang mencoba untuk menghentikan langkah Nisa. Namun, semuanya sia-sia saja.
Aini terisak di tempatnya saat melihat kepergian Nisa. Setelah sekian lama, baru kali inilah dia bisa bertemu kembali dengan sang putri.
"Ma!" Nita beranjak mendekati mamanya dan langsung menggenggam tangannya. "Lebih baik kita masuk dulu, nanti aku akan bicara dengan Nisa."
Aini menganggukkan kepalanya dan segera melangkahkan kaki menuju rumah dengan dituntun oleh Nita. Mereka berdua lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Sebentar ya, Ma. Aku akan mengambil makanan dan minuman dulu."
Aini menahan tangan Nita membuat wanita itu menatap heran. "Itu tidak perlu, Nak. Lagi pula kau masih harus banyak istirahat, jangan bergerak dulu."
"Aku sudah sehat, Ma. Jadi Mama tidak perlu khawatir." Nita beranjak ke dapur untuk mengambilkan minuman dan makanan ringan untuk sang mama, dia tahu kalau saat ini wanita paruh baya itu pasti sedang sedih.
Setelah itu, dia kembali bergabung bersama Aini dengan membawa nampan di tangannya. Dia lalu menyajikan makanan dan minuman ke atas meja walaupun sang mama tampak tidak memperdulikannya.
"Ma!" Nita mengusap bahu sang mama membuat wanita paruh baya itu sedikit tersentak kaget.
__ADS_1
"Ya, Sayang. Ada apa?" tanya Aini sambil mencoba untuk tersenyum.
"Apa Mama baik-baik saja?" tanya Nita kemudian membuat mamanya tersenyum simpul.
"Tentu saja mama tidak baik-baik saja, Nak. Tapi mama senang karena kau sudah kembali sehat. Itulah yang tepenting saat ini.
Kemudian Nita mulai mengobrol dengan mamanya, karena dia tidak ingin melihat wanita paruh baya itu terus bersedih.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Nisa sedang berdiri di pinggir jembatan. Dia berada di sana bukan karena ingin bunuh diri, melainkan menenangkan diri yang rasanya sudah hampir gila.
"Kenapa? Kenapa Kau terus saja melakukan hal seperti ini, Tuhan? Kenapa?" Nisa memukul-mukul besi pinggiran jembatan itu dengan geram dan kesal. "Kenapa Kau selalu saja menghancurkan hidupku, kenapa?"
Nisa benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan semuanya. Begitu banyak manusia yang ada dimuka bumi ini, tetapi kenapa malah ibu kandungnya yang menjadi orang tua Nita? Kenapa?
"Si*alan!"
Nisa kembali meninju besi itu membuat punggung tangannya memerah, bahkan sudah ada beberapa luka di sana.
Bertahun-tahun tidak bertemu dengan ibu kandungnya, tentu membuat emosi Nisa meledak-ledak. Apa lagi saat melihat jika wanita paruh baya itu baik-baik saja, ingin sekali dia meneriakinya dan mengatakan bahwa wanita itu sangat tidak tahu malu sekali.
"Aaarggh!" Nisa berteriak dengan sangat kencang membuat para pengguna jalan langsung melihat ke arahnya, tetapi dia sama sekali tidak peduli.
"Setelah bertahun-tahun lamanya, kenapa kau muncul lagi di hadapanku? Kenapa?" Nisa mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa lagi yang ingin kau lakukan? Apa kau ingin kembali menghancurkan hidupku, hah?"
Bruk.
Tubuh Nisa terasa lemas dan langsung terjatuh ke atas besi jembatan. "Kenapa kau muncul lagi? Apa kau belum puas dengan apa yang kau lakukan, dan ingin menghancurkanku sampai tidak tersisa lagi, begitu?" air mata Nisa mulai jatuh membasahi pipi.
__ADS_1
Sumpah demi apapun juga, ingin sekali rasanya dia pergi jauh dari tempat ini dan meninggalkan semuanya. Hati dan jiwanya sudah tidak bisa lagi menanggung rasa sakit yang terus-terusan menghantam hidupnya, apalagi dengan kemunculan sang ibu yang tentu saja sangat membuatnya terguncang.
"Kenapa tidak kau cabut saja nyawaku, Tuhan? Kenapa Kau terus-terusan memberikan penderitaan padaku, apakah aku hidup hanya untuk menderita?" Nisa menelungkupkan kepalanya di antara kedua kaki yang terlipat. Entah takdir seperti apa yang ada dalam hidupnya, yang pasti dia sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani semuanya.
Nita yang masih berada di rumah dengan Aini terlihat fokus mendengarkan cerita dari ibu tirinya itu. Air mata tak kuasa ditahan dan mengalir keluar karna ikut sedih dengan apa yang terjadi di masa lalu.
"Mama sudah berusaha keras untuk mendapatkan Nisa, tapi, tapi mama tidak berdaya melawan ayahnya dan juga seluruh keluarga besar mereka," ucap Aini sambil mengusap air mata yang terus saja berjatuhan.
"Mama sangat merindukannya, mama ingin sekali memeluknya seperti dulu. Tapi semua itu tidak bisa terjadi, mama bahkan tidak bisa mendekatinya lagi."
Nita mengusap punggung Aini untuk menenangkan wanita paruh baya itu, dia sangat mengerti bagaimana perasaan ibu tirinya itu saat ini.
"Dulu mama masih bisa melihatnya dari jauh, dan mama senang karena dia masih bisa tersenyum dan tertawa seperti biasanya. Namun, semua itu tidak bertahan lama karena Irwan menikah dengan wanita lain. Sejak saat itulah mama sama sekali tidak bisa melihatnya lagi, bahkan dari kejauhan,"
"Bersabarlah, Ma. Aku yakin Nisa pasti akan mengerti dengan keadaan mama. Tapi, tapi dia juga sangat menderita, Ma. Dia sangat menderita tinggal bersama dengan mereka."
•
•
•
Tbc.
YUK TINGGALKAN JEJAKNYA 🌹
__ADS_1