Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 39 Kedatangan tamu


__ADS_3

Kedua wanita itu saling tatap dengan mengernyitkan dahi mereka secara bersamaan. Suara ketukan pintu semakin kencang hingga Nisa pun beranjak dari ranjang.


"Siapa ya, Nis?" tanya Nita penasaran.


Nisa mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku akan mengeceknya. Mbak Nita tunggu disini saja, jangan kemana-mana."


Nita mengangguk dan Nisa pun segera keluar dari kamar tersebut.


Suara ketukan pintu semakin kencang, hingga membuat Nisa yang kala itu berjalan menuruni anak tangga berdecak kesal.


"Siapa sih pagi-pagi begini bertamu dan seakan memaksa?'' gerutu Nisa karena ketukan pintu tidak ada hentinya.


"Iya sebentar!" teriak Nisa cukup kencang dan membuat ketukan tersebut berhenti.


Nisa menghela napas, dia membuka pintu dan seketika senyumnya pun terbit begitu saja.


"Tuan Abian?" sapa Nisa yang melihat Abian sudah berdiri di depan pintu.


"Selamat pagi, Nisa. Maaf jika aku mengganggu," ujar Abian tidak enak hati.


"Tidak masalah. Tuan pasti ingin bertemu dengan Mbak Nita, benar begitu bukan?" duga Nisa tersenyum tipis.


"Apa Nita sudah bangun?''


"Sudah, dia ada di kamarnya. Tuan bisa langsung menemuinya disana."


"Terima kasih," ujar Abian seraya masuk ke dalam rumah itu.


Abian terus berjalan menaiki anak tangga, sementara Nisa membuatkan minuman untuk Abian. Dirinya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi dan Nisa sepertinya akan sedikit terlambat pergi ke kantor. Dia mengambil ponsel dan mengirimkan pesan kepada teman kantornya bahwa dia akan sedikit terlambat.


"Huft, untung saja hari ini tidak ada meeting penting dengan siapapun. Jadi, aku bisa sedikit leluasa mengurus Mbak Nita." gumamnya sambil membuat minuman.

__ADS_1


Abian telah sampai di depan pintu kamar Nita, dia menghembuskan napas pelan lalu mengetuk pintu dengan perlahan.


"Masuk saja, Nisa!" teriak Nita yang berpikiran jika itu adalah Nisa.


Ketika pintu kamar dibuka, Nita kaget karena Abian yang masuk ke dalam kamarnya.


"T—tuan Abian?"


Abian tersenyum dan dia berjalan menghampiri Nita. Dirinya memberikan buah tangan yakni parsel buah dan satu kotak roti untuk Nita.


"Ini untukmu," ucap Abian sambil duduk di tepi ranjang. ''Bagaimana keadaanmu, apa sudah membaik?''


"Lumayan, Tuan. Sudah tidak terlalu sakit seperti kemarin." Nita tersenyum manis.


"Syukurlah, aku lega mendengarnya." sambung Abian tulus.


"Terima kasih untuk buah dan rotinya, Tuan. Seharusnya Anda tidak perlu repot-repot seperti ini."


Keduanya pun saling mengobrol dan terlihat akrab, hal itu membuat Nisa yang berdiri di depan pintu hanya mampu tersenyum getir.


'Mereka berdua terlihat cocok, tapi jika Tuan Abian tertarik pada Mbak Nita mengapa dia selalu bersikap manis padaku?' tanya Nisa dalam hati. Dia tidak ingin dipusingkan oleh masalah itu hingga dirinya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


"Maaf menyela pembicaraan kalian berdua,"


Abian dan Nita bersamaan menatap ke arah Nisa yang berjalan ke arah mereka sambil membawa nampan. Nisa meletakkan nampan itu di atas meja, dan dia ikut bergabung dengan keduanya.


"Silakan di minum, Tuan Abian."


Abian mengangguk dan mengambil gelas berisi kopi. Dia meniupnya sejenak lalu menyeruput kopi tersebut yang masih sedikit panas.


****

__ADS_1


Pukul dua siang, Nita mendapat telepon jika Mamanya sudah hampir sampai di rumah dengan menaiki taksi online. Dirinya pun keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Wanita itu kaget karena Nisa ada di rumah, padahal setahunya, Nisa saat ini sedang bekerja.


"Nisa, sejak kapan kau berada di rumah? Bukannya ini masih jam kantor?" tanya Nita heran dan membuat Nisa menoleh.


Gadis itu sedang duduk di sofa ruang tamu, sepertinya dia sibuk mengerjakan sesuatu terlihat dari laptop yang berada di pangkuannya.


"Aku sedang mengerjakan tugas dari Tuan Heru, Mbak. Beberapa menit lagi akan ada pertemuan mendadak dengan klien, dan lokasi bertemunya tidak jauh dari kompleks ini. Aku memutuskan pulang agar bisa melihat keadaan Mbak Nita, dan juga mengambil sesuatu yang penting untuk pertemuan hari ini." Nisa menutup laptopnya.


Nita duduk di sebelah Nisa, hal itu membuat sang gadis meliriknya dengan lekat.


"Mbak Nita kenapa keluar dari kamar? Apa Mbak membutuhkan sesuatu?"


"Tidak! Aku sedang menunggu kedatangan Mamaku, dia sudah hampir sampai di kompleks ini."


"Hah, benarkah?" tanya Nisa girang dan berbinar. "Wah, kebetulan aku penasaran dengan Mama sambung Mbak Nita. Aku juga akan menunggunya,"


"Tapi, Nisa. Bukannya kau ada pertemuan sebentar lagi?"


"Ck, tidak masalah! Aku bisa mengatakan pada Tuan Heru jika diriku terlambat datang karena harus menyelesaikan tugas darinya. Ya, terlambat lima belas menit tidak pa-pa bukan?" gurau Nisa diselingi kekehan kecil.


Tak lama kemudian, pintu rumah diketuk dan Nita yakin jika itu adalah sang Mama. Dia segera beranjak dari kursi untuk membuka pintu, tetapi langkahnya terhenti karena suara Nisa.


"Mbak, biar aku saja yang membuka pintunya!" tawar Nisa karena melihat Nita yang kesusahan berjalan.


Nita tidak ingin membuat Nisa merasa tersinggung, dia mengangguk dan kembali duduk di sofa. Sementara Nisa, dirinya membuka pintu dengan senyum lebar. Namun, sejenak kemudian senyumnya pudar karena melihat seseorang yang saat ini berada di hadapannya.




__ADS_1


TBc


__ADS_2