Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 58 Keterkejutan yang Abian timbulkan


__ADS_3

Setelah pembahasan yang mereka sepakati, akhirnya para orang tua itu pergi ke hotel dimana Nisa tinggal. Ya, tentu saja mereka tahu tempat itu dari Nita. Wanita itu sejatinya tidak ingin mengatakan dimana Nisa berada tetapi dirinya kembali berpikir, jika masalah tidak bisa selesai begitu saja tanpa dibahas.


Mereka semua berada di depan pintu hotel, malam ini para orang tua itu akan menyelesaikan permasalahan mereka hingga ke akar-akarnya. Pintu hotel di ketuk dan tak lama kemudian terbuka lebar. Tampak Nisa yang berdiri di depan pintu diam mematung. Dia tercengang akan kedatangan orang tuanya.


"Mau apa kalian?" ketusnya mereka keberatan melihat mereka ada disana.


"Nisa, kita harus bicara, Nak." ucap Irwan manis dan pelan.


Gadis itu tersenyum sinis, dia menggeleng dan menatap Irwan dengan rasa marah. "Apa lagi yang harus dibicarakan? Semuanya sudah selesai, aku mohon jangan menggangguku karena saat ini hidupku sudah lebih baik tanpa kalian semua." titahnya tanpa memikirkan perasaan para orang tua itu.


Tentu saja mereka semua merasa sangat sakit mendengar apa yang Nisa ucapkan, dia berkata jika dirinya sudah hidup tenang tanpa orang tua. Sebesar itukan kesalahan kami? Itulah yang mereka pikirkan sambil menatap Nisa dengan sendu.


"Kenapa kalian hanya diam saja? Aku tidak punya banyak waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting!" tukasnya.


"Nisa, kenapa kau berbicara kasar seperti ini? Mereka adalah orang tua kandungmu, sejelek apa pun sifat mereka, kau tetap darah dagingnya." sambung Nita tak terima jika Nisa berbicara kasar.


"Kau tau apa, Mbak? Diam dan jangan ikut campur! Sudah cukup aku merasakan rasa sakit hati, keterpurukan, dan kesedihan selama ini. Disaat aku sedih mereka ada dimana? Kala aku membutuhkan tempat curhat, mereka ada untukku atau tidak? Mereka mau mendengarkan keluh kesahku tidak?" ketusnya mulai terpancing emosi.


"Saat ini entah apa yang merasuki, hingga mereka pun menjadi baik padaku. Kenapa sekarang baru sadar jika apa yang kalian lakukan selama ini salah? Setelah begitu banyak luka yang kalian torehkan untukku, lalu dengan seenaknya dan semudah itu kalian datang padaku untuk meminta maaf. Apa kalian tidak memikirkan perasaanku, hah?"

__ADS_1


Semuanya terdiam, mereka tidak tahu harus bicara apalagi agar Nisa bisa luluh dan memaafkan mereka.


"Nisa, maafkan kami berdua. Ayah benar-benar menyesal, kau tidak tahu jika ayah berprilaku kasar padamu itu semua karena Ayah sudah termakan oleh hasutan dan omongan dari Mona."


"Ayah baru menyadarinya? Wanita yang selama ini tinggal bersama kita, dia bukan sosok ibu sambung yang baik! Ya, di depan Ayah saja dia berpura-pura baik padaku, tetapi jika Ayah sudah pergi, wanita itu bersikap berbeda padaku. Aku selalu mencoba untuk menyadarkan Ayah, tetapi ayah hanya mempercayai ucapan dari wanita itu sebelum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Aku cukup kecewa!"


"Nisa, Mama bersedia berlutut di kakimu agar kau mau memaafkan Mama. Kau tau, Nak? Selama ini Mama selalu memantaumu dari kejauhan, Mama tidak bisa mendekatimu karena sesuatu ancaman. Mama tidak ingin membuatmu menderita jika Mama bersikeras untuk menemuimu."


Nisa diam tidak berkutik, pikirannya saat ini sedang kacau dan dia tak bisa berpikir jernih. Emosi, kemarahan, dan kebencian masih ada di dalam hatinya sekarang. Dia butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua ini.


Saat dia hendak masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, kedatangan seseorang mengurungkan niatnya itu. Semuanya menatap ke arah Abian yang berjalan mendekati mereka.


Abian pun berjalan mendekati Nisa dan dia memberikan satu porsi nasi kotak dan cemilan ringan. Disaat itulah senyum gadis itu terbit, dia melirik ke arah orang tuanya.


"Kalian lihat, bahkan orang lain saja sangat peduli padaku ketika aku dilanda kesusahan seperti ini.''


Irwan dan Aini hanya menunduk sedih, sementara Hamdan tidak bisa berkata apa pun, karena dia takut jika Nisa akan kembali terpancing emosi ketika dirinya ikut campur tentang masalah itu.


Nisa mengajak Abian masuk ke dalam kamarnya, dan dia meminta kepada para orang tua itu agar pergi dari depan kamar tersebut. Dia berkata jika dirinya masih ingin hidup sendiri dan tidak di ganggu. Namun, langkahnya terhenti ketika Abian menarik tangan Nisa.

__ADS_1


Tentu saja membuat Nisa terkejut, Abian menatap para orang tua dan menggenggam jemari Nisa dengan mesra. Nita sendiri bisa melihat itu dengan jelas dan dia merasakan perih yang amat dalam. Dirinya memalingkan wajah karena tidak kuat dengan pemandangan tersebut.


"Sebelumnya, saya ingin meminta maaf pada kalian semua. Mungkin, menurut Om dan tante, perbuatan saya ingin kurang sopan. Tetapi, berhubung kita semua berkumpul disini. Saya ingin meminta izin kepada tante dan om selaku orang tua Nisa, agar merestui hubungan kami berdua.'' ucap Abian membuat mereka semua penasaran.


"Tuan, apa yang Anda katakan?'' tanya Nisa sambil menyenggol lengan Abian.


"Nisa, saya berkata serius."


"Tapi, kita 'kan tidak memiliki hubungan apa pun!" pungkasnya.


"Untuk waktu itu memang benar jika kita tidak memiliki hubungan apa-apa, tetapi hari ini saya ingin mengumumkan dan mengutarakan tentang isi hati saya." Abian kembali menatap kedua orang tua Nisa. "Om, tante, saya berniat untuk meminang Nisa agar bisa menjadi istri saya.''


Mereka semua tercengang dan Nita pun merasakan sesak dihatinya seperti di hantam oleh batu.


"Tuan, lelucon apa ini?" tanya Nisa sedikit ketus. Dia sejujurnya sangat kaget dengan apa yang Abian katakan, tetapi dirinya masih bingung kenapa pria itu berkata hal semacam tadi, sementara selama ini hubungan mereka hanyalah sebatas teman dan rekan kerja.



__ADS_1


Tbc


__ADS_2