
Setelah keluar dari hotel, Tian segera pergi ke toko pakaian terdekat untuk membeli perlengkapan Nisa. Dia membeli semua yang dibutuhkan oleh wanita itu, dan bukan hanya pakaian saja. Bahkan Tian juga menyiapkan sendal, aneka make up dan juga makanan ringan untuk gadis itu.
Setelah selesai, dia segera kembali ke hotel sambil menenteng semua barang belanjaannya.
Tian segera mengetuk pintu kamar Nisa sembari memanggil gadis itu, dan tidak berselang lama pintu kamar itu terbuka juga.
"Ya ampun, kau belanja untuk satu kompleks?" pekik Nisa sambil membulatkan matanya saat melihat bahan belanjaan Tian.
"Minggir ah, berat tau!"
Nisa langsung membantu Tian untuk membawa barang-barang itu dan segera masuk ke dalam kamar, sementara Tian tersenyum melihat apa yang Nisa lakukan.
Bruk.
Nisa meletakkan barang-barang itu di atas lantai lalu duduk bersilah kaki di lantai juga. "Tian, belanjaan ini banyak sekali loh. Aku tidak-"
"Aku sudah susah payah membelikannya, tapi bukannya mendapat terima kasih tapi malah omelan." Tian pura-pura kesal membuat Nisa langsung menghentikan ocehannya.
"Baiklah. Terima kasih ya Tian," ucap Nisa dengan sangat berat hati membuat Tian langsung tergelak.
"Dasar tidak ikhlas."
Nisa hanya mengendikkan bahunya untuk menanggapi apa yang Tian ucapkan, dia lalu mulai membuka paper bag yang tadi dibawa oleh laki-laki itu.
Satu persatu pakaian serta perlengkapan yang dibeli Tian sudah dikeluarkan dari dalam paper bag itu, sontak wajah Tian bersemu merah saat pakaian dalam Nisa terpampang di depan matanya.
"Ni-Nisa, itu, itumu-"
Nisa memalingkan wajahnya ke arah Tian dengan mengernyitkan kening. "Itumu apa?" Dia tidak mengerti dengan apa yang laki-laki itu katakan, juga tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
"Pakaian dalammu, Nisa," gumam Tian dengan menahan malu, tetapi Nisa tidak bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
__ADS_1
"Sebenarnya kau ngomong apa?" tanya Nisa lagi sambil memajukan tubuhnya, dan posisinya sekarang tepat menungging di depan Tian membuat belahan dadanya terlihat jelas.
Glek.
Tian menelan salivenya dengan kasar saat melihat semua itu, dia lalu menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk mengontrol diri.
"I-itu-" Tian lalu menunjuk ke arah bra dan juga segitinya bermuda yang ada di samping tubuh Nisa membuat gadis itu langsung menoleh ke arah samping.
Mata Nisa membulat sempurna saat melihat pakaian dalamnya terpempang di sana, sontak dia langsung mengambil alat tempur tersebut dan kembali memasukkannya ke dalam paper bag.
"Ma-maaf, aku, aku tidak sengaja," ucap Nisa dengan pelan dengan wajah yang sudah merah padam.
Tian yang awalnya merasa malu kini tampak tersenyum lebar melihat wajah Nisa memerah bak kepiting rebus, dan untuk pertama kalinya dia melihat gadis itu sangat malu seperti itu.
"Tidak apa-apa, toh tadi aku juga kan yang memilihkannya,"
"Apa?" Nisa terlonjak kaget saat mendengar ucapan Tian. Bagaimana mungkin laki-laki itu langsung yang memilihkan alat tempur untuknya?
Untuk beberapa saat Nisa dan Tian sama-sama terdiam di tempat itu, mereka sedang memikirkan kebod*ohan yang sudah mereka lakukan masing-masing.
Untuk menghindari kecanggungan itu, Nisa bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Tian berjalan ke arah balkon untuk menunggu gadis itu.
Brak.
Nisa menutup pintu kamar mandi itu dengan sedikit kencang, dia lalu memukul-mukul kepalanya karena sudah mempermalukan diri sendiri di depan Tian.
"Dasar bod*oh. Kenapa aku melakukan itu sih?" Nisa masih memukul-mukul kepalanya. "Kalau Tian menceritakan tentang semua itu pada Tuan Abian bagaimana? Dia pasti akan sangat ilfel sekali padaku." Dia menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar.
Sementara itu, Tian yang sudah berada di balkon juga tampak sangat frustasi sekali. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu pada seorang gadis, yang pasti membuat gadis itu merasa geli sekaligus jijik padanya.
"Mati saja kau, Tian. Dasar bod*oh!" Dia memukul-mukul besi pinggiran balkon itu.
__ADS_1
Pada saat yang sama, Aini sedang berada di teras rumah Nita. Sejak tadi dia memperhatikan beberapa kendaraan yang melintas di tempat itu, juga orang-orang yang berlalu-lalang. Dia berharap salah satu dari mereka adalah Nisa, dan putrinya itu mau kembali tinggal bersama Nita.
Nita yang baru selesai menyiapkan makan malam beralih keluar rumah untuk memanggil sang Mama.
"Ma!"
Aini menoleh ke arah belakan dan tersenyum ke arah Nita. "Ya, Sayang?"
"Makan malam sudah siap. Ayo, kita makan dulu!" ajak Nita sambil memeluk lengan Aini.
Aini menghela napas kasar dan kembali melihat ke jalanan. "Mama tidak lapar, Nita. Mama juga tidak tau apakah Nisa sekarang sudah makan atau tidak." Air mata kembali menetes dari sudut matanya.
"Ma!" Nita menarik lengan wanita paruh baya itu agar mau melihat ke arahnya. "Aku sudah meminta Tian untuk mencari Nisa, dan dia barusan telpon kalau saat ini Nisa sedang bersamanya."
"Benarkah?" tanya Nisa dengan mata berbinar terang.
Nita mengangukkan kepalanya. "Iya, Ma. Saat ini mereka sedang berada dihotel, dan kemungkinan Nisa akan tinggal di sana beberapa waktu.
Aini langsung menghela napas lega saat mendengarnya. Syukurlah dia sudah tahu di mana keberadaan Nisa saat ini, dan putrinya itu juga sedang bersama dengan temannya. Namun, kenapa harus di hotel dengan teman lelakinya?"
"Tapi Nita, kenapa Nisa harus ke hotel? Dan bersama lelaki pula, apa tidak bahaya?" Dia merasa khawatir.
Aini menjadi takut jika terjadi sesuatu dengan putrinya.
•
•
•
TBC
__ADS_1