Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 49 Perang dunia ke 1


__ADS_3

Nita menghela napas dan dia menatap lurus ke depan. "Aku tidak ingin menyakiti hati seseorang, Tuan." ucapnya membuat Abian mengerutkan dahi.


''Apa maksudmu?"


"Ya, aku tidak ingin menyakiti hati Anisa. Dia sudah lama memendam perasaan istimewa untuk Anda, aku bisa melihat itu semua dari caranya memberikan perhatian pada Anda, dari caranya bicara dan menatap Anda."


"Tapi aku tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu, Nita."


"Dan aku tidak ingin membuat Nisa bersedih. Tuan, kau tau 'kan bagaimana hidup Nisa? Begitu banyak kepahitan dan kesedihan yang dia telan, aku tidak ingin dirinya merasa semakin sedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan." Nita berkata lirih.


"Lalu, apa kau tidak kasian padaku? Apa aku harus berpura-pura mencintai seorang wanita yang sama sekali tidak aku cinta? Itu akan lebih menyakitkan untuknya, Nita."


"Tuan, kau bisa belajar mencintai dia. Aku yakin kau pasti bisa, Nisa itu adalah gadis yang baik, cantik, pintar, dan dia tangguh. Aku hanya ingin melihat dia bahagia, meski aku harus merelakan orang yang aku cintai." ucap Nita yakin dan membuat Abian menatapnya dengan lekat.


"Nita, itu berarti kau juga mencintaiku? Perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan?''


Nita menatap Abian. "Kau benar sekali, Tuan. Aku akan jujur sebelum kita berpisah. Aku memang tertarik dengan Anda, bahkan aku dan Nisa bertarung secara sehat untuk mendapatkan Anda. Tapi, itu dulu sebelum aku tau perjalanan hidupnya. Namun sekarang, aku sudah mengerti masa-masa pahit penuh kesedihan yang Nisa jalani, maka dari itu aku ingin dia berbahagia. Sudah cukup dirinya menelan pil kesedihan, Tuan." jelasnya membuat Abian terdiam seribu bahasa.


"Nita, tapi aku —"


"Aini!" teriak seseorang yang baru saja datang tetapi sudah membuat keributan.


Seketika Abian dan Nita langsung terdiam.

__ADS_1


"Tuan Irwan, mau apa dia datang kesini?" gumam Nita takut jika Mamanya akan kembali marah.


Irwan berjalan ke teras rumah Nita, dia bisa melihat jika ada dua orang manusia beda gender yang sedang berdiri di dekat pintu.


"Dimana Aini?" tanya Irwan tanpa ingin berbasa-basi, bahkan dia tidak peduli jika disana ada rekan kerjanya yakni Abian.


"Mama sedang istirahat! Mau apa lagi Anda, Tuan Irwan? Apa belum puas Anda menyakiti hati Mama saya?" tanya Nita datar dan tajam.


"Kau tidak tahu apa-apa, Nita. Sebaiknya kau panggil Aini dan aku ingin berbicara penting padanya."


"Tidak! Aku tidak akan mengizinkan Anda untuk bertemu dengan Mamaku. Anda hanya akan membuat hati Mama sakit dan bersedih. Maaf jika saya tidak sopan, tapi sebaiknya lebih baik Anda pergi karena saya tidak ingin terjadi keributan di rumah ini." .


Irwan menatap Nita dengan tajam, tanpa mengindahkan ucapan wanita muda itu, Irwan pun langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Tentu saja Abian kaget karena pria tua itu melakukan gerakan yang sangat cepat.


"Aini! Aini keluar!" teriak Irwan dengan perasaan campur aduk.


"Tuan, Mama sedang tidur. Kenapa Anda mengganggunya? Bersikaplah sopan, Tuan. Ini rumah saya dan Anda tidak bisa seenaknya seperti ini."


"Diam!" bentak Irwan karena merasa kesal dengan ocehan Nita.


Abian menarik Nita dan dia berdiri di depan Nita, menghalangi Irwan barangkali ingin melakukan sesuatu yang tak terduga. Dia sudah seperti tameng untuk Nita saat ini.


"Tuan, benar apa yang Nita katakan. Anda harus sopan dan menjaga sikap, apalagi ini sudah malam dan jangan menganggu ketenangan warga sekitar." ucap Abian lembut agar tidak menyinggung perasaan Irwan.

__ADS_1


Irwan tersenyum sinis. "Kau jangan ikut campur, Tuan Argantara. Ini masalah kami dan kau tidak tau apa pun." ucapnya tajam penuh penekanan.


"Saya mengerti, tapi setidaknya Anda harus bersikap tenang dan sopan. Kalian bisa membicarakan masalah itu dengan kepala dingin dan tanpa emosi. Memecahkan suatu masalah tidak akan bisa jika kalian dalam keadaan marah." ingat Abian membuat Irwan mendegus.


Tak lama kemudian, Aini keluar dari kamar dan dia turun ke lantai bawah karena mendengar suara ribut-ribut. Saat melihat Irwan ada di rumah itu, dia pun mengepalkan tangannya dan berjalan cepat menuruni anak tangga. Untungnya rumah itu hanya memiliki lantai satu hingga Aini bisa cepat sampai di bawah.


"Mau apa kau datang ke rumah ini, Irwan?" tanyanya dengan nada tinggi.


Irwan menoleh dan dia menghampiri Aini. "Aini, kita harus bicara."


"Apa permasalahan tadi sore belum selesai menurutmu? Apalagi yang harus dibicarakan? Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang sepertimu!" Aini menunjuk wajah Irwan.


"Aini, semuanya yang kau pikirkan tentangku itu salah. Bagaimana kau bisa berpikir jika aku tidak peduli dengan putriku? Kau tau, saat ini bahkan aku ingin mencari keberadaan Nisa. Aku juga khawatir dengan keadaannya, Aini." titah Irwan beralasan.


"Dusta apalagi ini, Irwan? Aku sudah mendengar semua kesedihan yang selama ini kau berikan untuk putriku! Harusnya, jika kau tidak bisa mengurusnya sebaiknya kau berikan saja dia padaku. Kau tidak perlu memberikan begitu banyak beban berat padanya." Aini menatap Irwan dengan tajam.


"Kau tau, bahkan sikap dan sifat putriku sudah berubah drastis dan itu semua karenamu! Karena ketidakbecusanmu mengurusnya selama ini." lanjut Aini.


Irwan menggeleng dengan cepat. "Aini, kenapa aku menyalahkanku saja? Harusnya kau juga melihat bagaimana dirimu sendiri. Kau sama sekali tidak peduli dengan Nisa dan kau tidak pernah satu kali saja melihat keadaannya, menjenguknya ke rumah atau lainnya. Jadi, kau jangan hanya menyalahkan diriku saja." tukas Irwan membuat Aini naik pitam.



__ADS_1


TBC


__ADS_2