Hot Duda Vs Janda Perawan

Hot Duda Vs Janda Perawan
Bab. 60 Bertemu teman lama


__ADS_3

Sangking terlena dan terbuai oleh lagu yang sedang didengar, Nita sampai tidak sadar jika ada mobil yang berhenti di depannya.


Brak.


"Astaga," Nita memekik kaget saat mobilnya menabrak mobil lain yang sedang berhenti di depannya, sontak pemilik dari mobil tersebut keluar dan berjalan ke arahnya.


"Ya Tuhan, mampuslah aku." Nisa merasa benar-benar si*al saat ini.


Laki-laki berjas hitam dengan kaca mata hitam pula, yang bertengger di atas hidungnya berjalan ke mobil yang sudah menabrak kendaraan kesayangannya. Dia lalu mengetuk kaca mobil itu dan menyuruh sang pemilik untuk keluar.


Glek.


Nita menelan salivenya dengan kasar,  dia lalu segera keluar dari mobil untuk menemui laki-laki itu.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja-" ucapan Nita terhenti saat laki-laki itu membuka kaca matanya, dan dia seperti mengenal wajah laki-laki itu.


"Nita? Kau Nita, 'kan?" Laki-laki itu juga ternyata mengenal Nita.


"Tunggu, apa, apa kau Bima?"


Laki-laki bernama Bima itu menganggukkan kepalanya. "Astaga Nita, sudah lama sekali kita tidak bertemu."


"Iya benar. Kau, kau berubah drastis ya, Bima. Aku sampai hampir tidak mengenalimu."


Ternyata Bima adalah salah satu teman Nita saat mereka duduk dibangku SMA. Beberapa tahun sudah berlalu, jadi maklum saja jika Nita hampir tidak mengenali teman sekolahnya itu.


"Kau juga tampak berbeda, Nita. Jadi semakin cantik,"


"Cih! Kau bisa saja." Nita tertawa sambil memukul lengan Bima.

__ADS_1


Kemudian Bima mengajak Nita pergi ke kedai kopi untuk sekedar bertukar kabar. Kebetulan Nita belum sarapan, jadi mereka pergi ke rumah makan yang ada disekitar tempat itu.


"Maaf karena sudah menabrak mobilmu, Bima. Aku benar-benar tidak sengaja." ucap Nita saat sudah berada di rumah makan.


"Tidak apa-apa, cuma lecet sedikit doang kok. Tapi ya, itu memang mobil kesayanganku sih," celetuk Bima sambil menyeruput kopi hitam yang sudah tersaji untuknya.


"Kalau gitu katakan berapa biaya yang harus aku bayar, Bima?" ucap Nita lagi sambil memandang laki-laki itu.


Bima tersenyum mendengar ucapan Nita. "Em ... berapa ya? Aku tidak sanggup untuk mengatakan jumlahnya."


"Dasar gaya!"


Plak.


Bima langsung tergelak melihat raut wajah Nita yang tidak pernah berubah jika sedang kesal. "Enggak lah, ngapain pake bayar segala. Memang itu mobil kesayanganku, tapi bukan berarti lebih penting dari seorang teman. Lagi pula lecetnya kan cuma sedikit, kalau banyak ya kau harus bayar juga."


Nita langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar apa yang Bima katakan, dan dari Zaman SMA laki-laki itu tidak berubah sama sekali jahilnya.


Beberapa saat kemudian, makanan mereka sudah habis dan waktu juga sudah beranjak siang. Nita harus segera pergi ke perusahaan sebelum terlambat.


"Kalau gitu aku pergi dulu ya, Bima. Mungkin next time kita bisa bertemu lagi." Nita beranjak dari kursi untuk segera pergi dari tempat itu.


"Oke, Nita. Jangan lupa save nomorku ya, terus hubungi juga," seru Bima yang baru saja memberikan kartu namanya pada Nita, karena memang dia tidak masuk dalam grup alumni SMA mereka.


"Oke." Nita lalu melambaikan tangannya dan segera berjalan masuk ke dalam mobil. Dia segera menyalakan dan melajukan mobilnya menuju perusahaan.


Abian, yang saat ini sudah berada di perusahaan melihat ke sana kemari untuk mencari keberadaan Nita. Akan tetapi, wanita itu tidak tampak di mana pun.


"Apa dia belum datang?" Abian lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Sudah lewat jam 8, tumben sekali dia belum datang. Apa terjadi sesuatu? Atau dia sengaja mau menghindariku?" Dia merasa panik sendiri.

__ADS_1


Abian lalu keluar dari ruangannya dan memutuskan untuk menunggu di ruangan Nita sampai wanita itu datang.


Beberapa saat kemudian, Nita masuk ke dalam ruangannya dengan terburu-buru karena sudah sangat terlambat.


Brak.


"Kau baru datang?"


Nita terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, apalagi saat melihat keberadaan Abian yang saat ini bersandar di meja kerjanya. "Ma-maafkan saya, Tuan. Saya, saya terlambat." Napasnya tersengal-sengal akibat berlari dan juga terkejut.


Abian terdiam sambil menatap Nita dengan tajam. Kemudian dia menghela napas berat sambil memberikan segelas air untuk wanita itu. "Minum dulu."


Nita menatap Abian dengan bingung, kemudian dia menerima gelas berisi air yang laki-laki itu beri. "Te-terima kasih, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf."


Tanpa menjawab ucapan Nita, Abian langsung berbalik dan masuk ke dalam ruangannya membuat Nita merasa bingung.


"Ada apa dengannya? Apa dia semarah itu, karena aku terlambat?" Nita masih melihat ke arah Abian yang sudah hilang dibalik pintu.


Abian yang sudah berada di dalam ruangan menghampaskan tubuhnya ke atas sofa, dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Si*al. Karena khawatir, aku jadi meluapkan emosi padanya. Lagian kenapa dia terlambat, sih? Tidak seperti biasanya." Abian lalu memejamkan kedua matanya mencoba untuk menenangkan diri.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Nisa sedang duduk dibalkon kamar nya. Hari ini dia sengaja mengambil cuti untuk menenangkan diri, karena sudah terlalu banyak kejadian-kejadian yang menguras emosi jiwa dan raganya.


"Hah." Nisa menghela napas kasar, dan entah sudah ke berapa kalinya. Dia lalu melihat ponselnya di mana sudah banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari sang ayah.


"Kenapa kalian harus seperti ini, sih? Biarkan aku membenci kalian dengan tenang, tapi kenapa kalian kembali mengusikku?" Dia memegang kepala yang berdenyut sakit. "Lalu apa lagi sekarang, kenapa tiba-tiba Tuan Abian ingin mengajakku menikah?"


__ADS_1



TBC


__ADS_2