
Nisa merasa pusing sendiri, dia heran kenapa semua orang tidak membiarkannya untuk hidup tenang dan damai.
"Aku memang menyukai dan mencintai tuan Abian, tapi kenapa aku merasa tidak nyaman?" entah kenapa Nisa merasa seperti ada sesuatu yang salah. "Mungkin karena dia tiba-tiba mengungkapkan perasaan padaku dan mengajakku menikah, padahal ku pikir dia menyukai Mbak Nisa."
Ya, Nisa berpikir karena terkejut dengan perasaan Abian, itu sebabnya dia merasa tidak nyaman.
Nisa lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, matanya menatap lurus ke depan menantang sinar mentari pagi yang mulai merangkak naik.
Tiba-tiba dia kembali melihat ke arah ponsel yang terletak di atas meja, terlihat ada sebuah pesan dari Tian membuat senyum tipis terukir diwajahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Nisa? Apa kau sudah sarapan?"
Nisa tersenyum saat membaca pesan dari Tian, dia yang akan membalas pesan itu memgurungkan niatnya. "Apa aku telepon aja ya? Aku juga ingin menceritakam tentang lamaran tuan Abian, mungkin dia bisa memberikan tanggapan supaya hatiku menjadi tenang."
Nisa lalu memutuskan untuk menelepon Tian, dan tidak butuh waktu lama panggilannya dijawab oleh laki-laki itu.
"Halo, Nisa? Tumben kau menelponku pagi-pagi seperti ini?" tanya Tian yang saat itu sedang berada di ruang kerjanya.
"Apa kau sibuk? Apa aku mengganggumu?" tanya Nisa, dan akhirnya mereka sama-sama bertanya tanpa ada jawaban.
"Tidak, aku tidak sibuk kok. Kenapa, apa kau ingin mengajakku ke suatu tempat?"
"Cih, bukan itu lah." Nisa mendengus sebal membuat Tian yang ada disenrang telepon tergelak. "Aku ingin meminta pendapatmu tentang sesuatu."
"Apa penting, sampai-sampai kau butuh pendapatku?" Tian yang sedang duduk di kursi kerjanya beranjak pindah ke sofa.
"Tentu saja. Ini tentang masa depanku," jawab Nisa dengan semangat 45.
"Kalau gitu katakan, aku akan memberikan pendapat dengan baik dan benar."
Nisa tersenyum simpul, memang Tian selalu baik dan selalu ada untuknya. "Begini, tadi malam tuan Abian datang ke hotel. Lalu dia, dia melamarku."
__ADS_1
Deg.
Tian tercengang dengan apa yang Nisa katakan, dia yang awalnya bersandar kini duduk dengan tegap. "Kau, kau bilang apa?"
"Tuan Abian melamarku, dan memintaku untuk menjadi istrinya. Menurutmu bagaimana?" tanya Nisa tanpa tahu jika saat ini Tian sangat terkejut dengan apa yang dia katakan.
Untuk beberapa saat Tian terdiam karena tidak bisa berkata apa-apa, dia masih terlalu syok dengan apa yang Nisa katakan. "Melamar? Apa, apa om Abian benar-benar serius ingin menikah dengan Nisa?" gumamnya pelan sambil menjauhkan ponsel dari telinga.
"Halo, Tian? Apa kau mendengarku?" Nisa merasa bingung karena tidak mendengar suara Tian, dia sampai memeriksa jaringan ponselnya yang mungkin saja hilang.
"I-iya, Nisa. Aku, aku mendengarnya," jawab Tian dengan dada berdenyut sakit.
"Lalu apa pendapatmu?"
"Aku tidak bisa mengatakannya melalui ponsel, Nisa. Bolehkah aku datang menemuimu?" Tian ingin membicarakan masalah ini secara langsung.
"Tentu saja boleh. Baiklah, aku akan menunggumu."
Panggilan itu langsung terputus, dan Tian segera beranjak keluar dari ruangannya untuk menemui Nisa.
"Anda mau ke mana, Tuan?" tanya seorang gadis yang merupakan sekretaris Tian.
"Tunda pertemuanku sampai jam 2 siang, ada hal penting yang harus aku lakukan,"
"Tunggu dulu, Tuan!"
Tian berjalan cepat tanpa menghiraukan panggilan dari sekretarisnya, dia segera keluar dari perusahaan dan masuk ke dalam mobil menuju hotel di mana Nisa berada.
Beberapa saat kemudian, Tian sudah sampai di tempat tujuan dan segera masuk ke hotel tersebut menuju lantai empat.
Setelah sampai, dia segera mengetuk pintu kamar Nisa. Tidak berselang lama, terbukalah pintu kamar tersebut.
__ADS_1
"Masuklah." Nisa mempersilahkan Tian untuk masuk dan kembali menutup pintu kamarnya. "Kau ingin minum sesuatu? Tadi malam tuan Abian membawakan jus kemasan untukku."
Tian menggelengkan kepalanya dan berlalu duduk di atas sofa, dan Nisa juga ikut duduk tepat di hadapan laki-laki itu.
"Jadi, om ku tadi malam melamarmu?" tanya Tian mencoba untuk membahas ucapan Nisa tadi.
Nisa menganggukkan kepalanya. "Iya. Kau pasti kaget, 'kan? Aku juga sangat terkejut saat dia datang dan mengatakannya di depan semua orang." dia lalu menceritakan apa.yang terjadi di kamarnya tadi malam. Rasa nyaman bersama Tian membuat Nisa menjadi orang yang terbuka, tetapi hanya dengan laki-laki itu saja.
"Lalu, apa yang kau katakan padanya?" tanya Tian dengan tajam, gurat kecewa dan rasa sakit terlihat jelas diwajahnya.
Nisa terdiam dengan raut wajah bingung. 'Kenapa aku merasa kalau saat ini Tian sedang marah? Apa aku sudah mengganggu pekerjaannya? Tapi, bukannya dia sendiri yang ingin datang menemuiku?" batinnya.
"Nisa, kau mendengarku?"
"Hah, i-iya." Nisa terlonjak kaget. "Aku, aku tidak mengatakan apapun padanya." dia memegangi dadanya yang berdebar keras.
"Jadi, apa kau menyukainya? Kau, kau mencintainya?" hati Tian terasa sangat perih dan menyesakkan dada, tetapi dia ingan tahu bagaimana perasaan Nisa untuk Abian.
"Aku, aku sebenarnya juga menyukainya. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu, tapi entah kenapa aku merasa tidak nyaman. Apa mungkin karena semuanya terlalu tiba-tiba?" Nisa melihat ke arah Tian.
Tian terdiam dengan dada terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan. Rasa sakit dan sesak menyeruak keluar membuat wajahnya memerah.
Runtuh sudah harapan dan keinginannya saat mendengar apa yang Nisa katakan. Dia tahu jika selama ini wanita itu tidak mencintainya, tetapi tidak menyangka bahwa rasa sakitnya akan sangat menyesakkan seperti ini.
"Tian, kau, kau tidak apa-apa? Apa kau demam?" Nisa beralih meletakkan punggung tangannya ke kening Tian untuk mengecek suhu tubuh laki-laki itu, karena saat ini wajah Tian benar-benar sangat merah.
•
•
TBC
__ADS_1